Cinta Itu Pengorbanan: Kutemukan Yesus dalam Film 47 Ronin

Akhir tahun 2013 lalu, saya mengisi kegiatan liburan salah satunya dengan pergi ke bioskop. Ada beberapa film yang diputar pada saat itu, rencana semula akan menikmati dan mengapresiasi karya anak bangsa: Soekarno. Namun rencana itu terurungkan, karena prediksi (dari saya dan partner saya yang telah melihat trailernya) akan kemungkinan menjumpai animasi yang cukup memukau dalam The Hobbit lebih menggoda, lagi pula kabar burungnya ada pesan teologi yang disampaikan dalam film tersebut, dan pilihan menonton pun akhirnya jatuh pada The Hobbit. Selesai menonton, ternyata hanya rasa tak puas yang kami dapat, karena animasinya tak cukup memukau, pesan teologi yang coba disampaikan pun masih bias. Lebih tak memuaskannya lagi, ending dari The Hobbit hanya mendapat sorakan kecewa beberapa penonton.

Sorakan pertanda kecewa yang dirasakan dalam hati penonton lainnya pun turut saya rasakan, walau tidak sepenuhnya kecewa sih, karena saya coba membawa pulang sebuah pesan yang secara pribadi saya simpulkan: jangan menjadi manusia yang tamak (tergambarkan lewat rombongan hobbit, kurcaci, penyihir putih, peri, orc yang masing-masing memiliki kepentingan), manusia yang hanya mengejar kepentingan pribadi (harta, tahta, cinta, balas dendam, usaha mencapai/menguji ilmu tertinggi), manusia yang hanya mengejar dunia yang sementara (tanpa berusaha mengejar kekekalan), karena yang sementara akan berakhir dengan kesia-siaan belaka. Namun bagaimanapun juga, berbicara tentang film adalah berbicara tentang selera, mungkin saja bagi penonton lainya pada hari dan jam tayang yang berbeda, mereka memuji-muji hebatnya animasi dan alur kisah dari dongeng pahlawan dan sang naga tersebut.

Selang dua hari setelah menonton The Hobbit, saya memutuskan untuk menonton 47 Ronin sebagai pelipur lara dari kecewa yang sedikit dirasa setelah menonton The Hobbit. Alasan saya menonton 47 Ronin, karena sebelum menonton The Hobbit, saya sempat memperhatikan kalimat dalam poster 47 Ronin yang terpampang di dinding gedung XXI. Kalimat tersebut berbunyi: This December, Seize Eternity. Dari kalimat itu saya menaruh ‘curiga’ pada film Hollywood produksi Universal Pictures ini, kecurigaan saya mengarah pada kata December: Kenapa harus ada kata December muncul dalam poster (terlebih dalam poster dan trailer versi sono-nya: http://youtu.be/j8cKdDkkIYY, tertulis Christmas Day. Mungkin karena mencari aman untuk kepentingan market Indonesia, maka kata Christmas dalam poster diganti dengan kata December)? Apakah ada ‘pesan’ December yang coba disampaikan dalam film ini? Sekaliber Hollywood pasti memiliki pertimbangan besar saat meluncurkan sebuah film, film yang memiliki tema terkait dengan hari besar yang dirayakan oleh lebih dari satu milyar penduduk bumi di bulan December, dan berharap filmnya ditonton pula oleh lebih dari satu milyar penduduk bumi tersebut.

Dengan mengantongi kata December, kata yang menjadi modal saya untuk menangkap pesan yang disampaikan dalam film 47 Ronin, maka Studio Dua dari gedung XXI Galaxy Mall Surabaya pun saya (dan partner) masuki. Film yang diadaptasi dari kisah nyata ini: http://goo.gl/eHoYG, dibuka dengan kisah seorang remaja bernama Kai yang terseok-seok di dalam hutan dengan luka di kepala. Dalam keadaan tak berdaya, Kai ditemukan oleh rombongan samurai, lalu oleh salah satu diantara rombongan yang bernama Oishi akan dibunuh karena menganggap luka di kepala merupakan tanda seseorang yang datang dari iblis. Namun niat Oishi itu dihalangi oleh Lord Asano (tuan dari rombongan samurai), dan memerintahkan rombongan untuk membawa serta Kai ke Ako, membiarkannya tumbuh sebagai orang terpisah.

Setelah bagian pembukaan berlalu, kisah dilanjutkan dengan perburuan seekor binatang buas yang ganas dan membahayakan. Perburuan tersebut dimaksudkan untuk mengamankan kedatangan Shogun Tsunayoshi yang akan menyaksikan pertandingan tahunan samurai di Istana Ako. Para samurai andalan dari Ako (diperintahkan oleh Lord Asano, tuan mereka yang mendapat kehormatan menjadi tuan rumah pertandingan) mulai memburu dan berusaha membunuh seekor binatang buas yang ada. Tak satu pun samurai yang mampu membunuhnya, malah salah satu samurai yang bernama Yasuno hampir terbunuh karena keganasan seekor binatang buas. Namun hadirlah Kai (diperankan oleh Keanu Reeves) yang telah tumbuh dewasa dengan tampang bule-nya, berusaha menyelamatkan dengan membunuh seekor binatang buas yang akan menerkam Yasuno. Kai telah berkorban mempertaruhkan nyawa untuk Yasuno (meski akhirnya yang mendapat penghargaan adalah Yasuno, karena yang lain menyangka Yasuno-lah yang telah berhasil membunuh), terlebih telah berkorban untuk kepentingan yang lebih besar: kepentingan Istana Ako.

Bagian perburuan berakhir, sebelum masuk bagian selanjutnya, saat itu kata ‘pengorbanan’ melompat-lompat dalam benak saya, dan saya jadi bertanya dalam hati: Apakah pesan tentang pengorbanan yang coba disampaikan oleh film ini? Tanpa menjawabnya, karena masih terlalu prematur untuk mengambil kesimpulan, saya pun fokus kembali menyaksikan bagian selanjutnya dengan menaruh perhatian sepenuhnya kepada tokoh Kai. Bagian selanjutnya dalam film menceritakan tentang Mika, putri Lord Asano yang mengendap keluar dari Istana Ako, datang menghampiri Kai dalam gubuknya yang tak jauh dari lingkungan istana. Mika menghampiri Kai dengan tujuan untuk memberikan perhatian kepada Kai yang terluka karena usaha perburuan seekor binatang buas. Dalam bagian ini, nampak bahwa Mika dan Kai saling mencintai, namun Kai yang sadar sebagai keturunan berdarah campuran/bukan murni berdarah Jepang berkata (kurang lebih seperti ini): “Aku memang mencintaimu, tapi aku mengerti di mana posisimu berada, dan di mana posisiku berada.”

Setelah bagian yang menceritakan kunjungan Mika ke gubuk Kai berlalu, dalam bagian selanjutnya nampak rombongan Shogun dan penguasa dari provinsi tetangga Ako yang bernama Lord Kira telah datang di Istana Ako, musim pertandingan samurai pun akan dimulai. Dalam bagian cerita kedatangan ini, Kai menjumpai sesuatu yang tidak beres, dan telah disampaikan kepada Oishi (tangan kanan Lord Asano), namun tak digubrisnya. Kai menjumpai bahwa di antara rombongan bangsawan yang telah berdatangan terdapat penyihir wanita berubah wujud yang memiliki niat jahat (Kai mengenali wanita itu dari matanya, sama dengan mata rubah yang pernah hadir saat Kai melakukan perburuan seekor binatang buas). Ternyata apa yang dijumpai Kai tersebut benar adanya, ketika tiba saatnya dua perwakilan samurai dari klan Lord Asano dan Lord Kira akan bertanding, mendadak perwakilan dari klan Lord Asano menjadi lemas tak berdaya karena pengaruh sihir wanita berubah wujud suruhan Lord Kira yang bernama Mizuki. Dalam keadaan terjepit seperti ini, Kai mengambil keputusan sendiri (karena tak ingin membuat klan Lord Asano dipermalukan) untuk menggantikan samurai yang tak berdaya karena sihir Mizuki.

Pertandingan pun dimulai, Kai masuk ke arena pertandingan dengan mengenakan pakaian tempur samurai lengkap sama topeng yang menutupi kepala. Perbedaan postur antara Kai dengan perwakilan samurai dari klan Lord Kira, menyebabkan pertarungan tak berjalan mulus, dalam waktu yang singkat Kai terjatuh dengan topeng terlepas dari kepala. Semua yang menyaksikan pertandingan jadi terkejut, karena yang ada dalam balik topeng bukanlah tampang yang berdarah Jepang. Kejadian tersebut merupakan kehinaan, karena pertandingan diikuti oleh Kai yang merupakan keturunan berdarah campuran, dan tidak memiliki status kesamuraian. Saat itu juga Kai harus menerima konsekuensi berupa pukulan tongkat yang diarahkan beberapa kali di punggung belakang dengan posisi bersujud yang bertumpu pada kedua lutut dan tangan. Konsekuensi yang diterima Kai tidak berhenti di situ, Kai juga menerima hukuman harus diasingkan sebagai orang buangan di tempat pembuangan keturunan berdarah campuran. Dalam bagian ini, saya melihat tindakan yang dilakukan Kai merupakan pengorbanan. Untuk kedua kalinya saya menjumpai adegan pengorbanan yang dilakukan Kai, dan kata ‘pengorbanan’ melompat-lompat kembali dalam benak saya. Melalui adegan pengorbanan Kai yang kedua kalinya ini, kata ‘pengorbanan’ makin erat saya genggam untuk menangkap pesan yang coba disampaikan.

Adegan hukuman Kai berlalu, pada malam hari dalam bagian selanjutnya nampak bahwa upaya menggagalkan pertandingan samurai ternyata merupakan bagian dari skenario yang diciptakan Lord Kira untuk mengkhianati Lord Asano. Terbukti dari upaya Lord Kira berikutnya yang menyuruh Mizuki untuk menghipnotis Lord Asano yang tengah tertidur, agar mengira Lord Kira sedang memperkosa Mika putrinya. Dalam keadaan terhipnotis, Lord Asano menyerang Lord Kira dan melukainya, hingga membuat Shogun terbangun karena keributan yang ditimbulkan. Karena perbuatan memalukan yang telah dilakukan Lord Asano, maka Shogun menjatuhkan hukuman sepukku/harakiri (http://goo.gl/81Bsdy) kepada Lord Asano. Lalu untuk menghindari perang saudara antara klan Lord Asano dengan klan Lord Kira, Shogun memerintahkan Lord Kira untuk menikah dengan Mika, putri Lord Asano. Shogun juga memerintahkan para samurai dari klan Lord Asano yang dipimpin oleh Oishi untuk melepas status kesamuraiannya (menjadi samurai tak bertuan yang disebut Ronin). Saat perintah itu diberikan, Shogun juga mengultimatum mereka untuk tidak membalas dendam atas kematian Lord Asano. Namun cerita tentang hukuman tak berhenti hanya sampai di situ, Lord Kira yang ketakutan dengan keberadaan Oishi yang memiliki pengaruh kuat untuk melakukan pemberontakan, menambah hukuman bagi Oishi dengan menjebloskannya ke dalam lubang penjara selama setahun, sama dengan waktu yang diberikan Shogun untuk Lord Kira bisa menikahi Mika.

Setahun berlalu, bagian selanjutnya: tiba saatnya Oishi dibebaskan dari dalam lubang penjara. Dengan semangat yang membara, sesaat setelah Oishi kembali dari hukumannya, Oishi bertekad kuat membalas dendam kematian Lord Asano, sekalipun nantinya karena balas dendam itu Oishi harus menerima hukuman mati. Usaha Oishi diawali dengan mencari Kai di tempat pembuangan, dan ketika mereka berjumpa, Kai bersedia ikut Oishi untuk menyelamatkan Mika yang dicintainya, sekalipun nyawa Kai harus dipertaruhkan untuk berjuang keluar dari tempat pembuangan, dan nantinya hukuman yang sama dengan Oishi pun harus diterima oleh Kai. Oishi telah ada bersama dengan Kai, namun mereka sadar tak akan mampu menembus barikade Lord Kira jika hanya berdua saja, maka Oishi dan Kai mencari mantan-mantan anak buah Oishi yang telah menjadi Ronin, dan mengembara ke luar Ako. Setelah mereka menemukannya, mantan-mantan anak buah Oishi pun menyetujui ajakan Oishi untuk membalas dendam kematian tuannya, Lord Asano.

Bersatunya Kai. Oishi, dan mantan-mantan anak buah Oishi belumlah cukup untuk modal membalas dendam, karena mereka tidak dilengkapi dengan persenjataan. Lalu mereka sepakat mencari perlengkapan senjata, supaya bisa digunakan untuk menyerang barikade Lord Kira. Usaha pencarian perlengkapan senjata pun dilakukan hingga masuk ke dalam hutan tempat Kai dibesarkan (menurut penduduk setempat, tempat itu hanyalah mitos, namun tempat itu benar-benar nyata keberadaannya), sebelum akhirnya melarikan diri dengan kepala yang terluka, dan ditemukan oleh rombongan samurai Lord Asano. Dalam bagian cerita ini, dalam usaha melewati ujian untuk mendapatkan pedang/senjata yang ‘sakti mandraguna’, saya jadi mengetahui siapa sesungguhnya Kai. Kai dulunya adalah bayi yang tidak diinginkan kelahirannya oleh Ibunya, hingga mengakibatkan Kai dibuang oleh Ibunya ke dalam hutan. Hal tersebut dilakukan karena Kai merupakan keturunan berdarah campuran, hasil hubungan seorang petani (Ibu Kai) yang berdarah Jepang dengan seorang pelaut (Ayah Kai) yang berdarah Inggris. Sejak bayi, Kai dibesarkan oleh ‘penunggu hutan’, dididik/dipersiapkan menjadi serupa dengan ‘penunggu hutan’, akan tetapi Kai lebih memilih untuk lari.

Singkat cerita, dengan modal persenjataan yang didapat dari tempat Kai dibuang Ibunya sewaktu bayi, barikade Lord Kira berhasil ditembus pada malam resepsi pernikahan Lord Kira dengan Mika. Hingga puncak dari barikade yang berhasil ditembus itu, tersisa dua pertarungan antara: Oishi dengan Lord Kira, dan Kai dengan Mizuki. Sementara Oishi mengejar Lord Kira yang bertarung bak pengecut, Kai sedang berusaha menyelamatkan Mika. Usaha Kai menyelamatkan Mika tak berjalan mulus, karena Mizuki mencegahnya lewat perlawanan dengan mengubah wujudnya menjadi seekor naga yang mengerikan. Dengan ketenangan Kai bertarung sembari melindungi Mika yang ada di belakangnya, Mizuki yang berubah wujud pun bisa terbunuh oleh pedang Kai, dan dengan sendirinya seekor naga yang mengerikan itu berubah wujud kembali menjadi penyihir wanita yang telah mati tak berdaya. Hanya Kai yang bisa mengalahkan Mizuki yang berubah wujud ini, hanya Kai yang bisa mengalahkan kuasa iblis yang selama ini campur tangan dan berperan besar atas kejahatan yang terjadi. Pada saat yang bersamaan, Oishi juga berhasil memenggal kepala Lord Kira yang telah menggunakan ‘jasa’ Mizuki untuk mewujudkan ambisinya.

Dengan sukacita, warga Ako menyambut kemenangan. Kemenangan yang dibayar dengan harga yang mahal, kemenangan yang dibayar dengan nyawa, karena Kai, Oishi, dan mantan-mantan anak buah Oishi harus menjalani hukuman mati. Namun, sebelum pelaksanaan Seppuku yang merupakan bentuk hukuman yang dijatuhkan oleh Shogun, mereka diberikan kesempatan menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya masing-masing, Kai pun memanfaatkan kesempatan yang diberikan bersama dengan Mika. Dalam kebersamaan Kai dan Mika, terucap janji dari bibir Kai (yang mempercayai reinkarnasi) bahwa perpisahannya dengan Mika hanyalah sementara, karena Kai akan menjumpai Mika kembali dengan berkata: “Aku akan mencarimu lewat seribu dunia, dan aku akan mencarimu lewat sepuluh ribu kehidupan. Aku akan menemukanmu.” Keesokan harinya Seppuku pun dilaksanakan, Kai, Oishi dan mantan-mantan anak buah Oishi meninggal secara terhormat. Sementara itu, Mika yang tetap hidup dengan membawa cinta Kai, melanjutkan kepemimpinan Lord Asano atas Kao.

Dengan berakhirnya film 47 Ronin, kata ‘pengorbanan’ yang sejak awal melompat-lompat dalam benak saya, akhirnya dapat berdiri tegak tanpa perlu lelah melompat-lompat kembali. Dengan memberikan fokus kepada tokoh Kai sejak awal (bukan pada kisah nyata dari 47 Ronin yang dalam bagian akhir film baru saya ketahui bahwa terjadinya bulan December), dan berangkat dari ‘kecurigaan’ saya pada kalimat dalam poster dan trailer versi sono-nya: Christmas Day, akhirnya saya bisa menangkap sebuah pesan yang berharga. Lewat tokoh Kai, saya bisa menangkap pesan ‘Christmas’ yang coba disampaikan, pesan ‘December’ yang coba diberitakan, pesan ‘Pengorbanan’ yang coba ditampilkan. Lewat tokoh Kai, refleksi tentang ‘Christmas Day’ yang perayaannya jatuh setiap bulan ‘December’ telah tersampaikan bahwa: Cinta Itu Pengorbanan.

Christmas Day menceritakan tentang kelahiran (http://goo.gl/5fZM7G) Seorang Bayi yang telah ‘dipersiapkan’ untuk dikorbankan sebagai bukti cinta Allah kepada manusia; Seorang Bayi yang telah ‘dipersiapkan’ kelahiran-Nya sejak manusia yang pertama (Adam) berbuat dosa karena ingin menjadi sama seperti Allah dengan memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat; Seorang Bayi yang dipersiapkan oleh Allah sendiri, Seorang Bayi yang berasal dari kesatuan diri Allah sendiri, Seorang Bayi yang bernama Yesus; Karena cinta Allah yang begitu besar kepada manusia, maka Allah merelakan diri-Nya sendiri terlahir ke bumi dalam sosok Seorang Bayi (Bapa mengutus Yesus yang berasal dari satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan diri Bapa), yang setelah tumbuh dewasa akan dijadikan tumbal untuk menebus dosa. Pertanyaannya: Apakah mungkin dosa semua orang bisa ditebus hanya oleh Seorang Bayi? Jawabannya sangat mungkin, dan pasti bisa. Semua orang (anak cucu Adam) telah menjadi berdosa karena ketidaktaatan satu orang (Adam) saja, demikian pula semua orang (anak cucu Adam) juga pasti bisa menjadi benar karena ketaatan yang sempurna dari satu orang (Yesus) saja.

Refleksi tentang Christmas Day itulah yang saya temukan dalam film 47 Ronin. Christmas Day yang terefleksikan lewat tokoh Kai: Kai yang dibuang oleh Ibunya karena keturunan berdarah campuran tak dikehendaki, merupakan refleksi dari Yesus yang dilarikan ke Mesir oleh orang tua-Nya karena kelahiran-Nya tak dikehendaki oleh Herodes; Kai yang menang mengalahkan kuasa iblis dalam diri Mizuki, merupakan refleksi dari Yesus yang menang mengalahkan iblis. Hanya Yesus yang bisa mengalahkan Iblis yang berkuasa atas maut dan terus menyeret manusia (anak cucu Adam) ke dalam dosa, sehingga maut dan kebinasaan kekal tidak akan ditimpakan kepada manusia (anak cucu Adam); Kai yang mempertaruhkan nyawanya untuk Mika yang sangat dicintainya, merupakan refleksi dari Yesus yang mempertaruhkan nyawa-Nya untuk kita yang sangat dicintai-Nya; Kai yang membayar harga cintanya untuk Mika dengan Seppuku, merupakan refleksi dari Yesus yang membayar harga cinta-Nya untuk kita dengan Salib yang hina dan jauh lebih mengerikan daripada Seppuku; Kai yang menjelang kematian mengucapkan bahwa cintanya kepada Mika abadi, dan akan menemui Mika kembali melalui reinkarnasi, merupakan refleksi dari Yesus yang telah mati, bangkit dan naik ke Sorga. Yesus akan datang kembali kedua kalinya untuk menjemput kita, dan membawa kita ke dalam keabadian.

Akhir kata, yuk bareng-bareng kita meneladani Yesus. Cinta Itu Pengorbanan, saat kita mengaku mencintai sesama, maka saat itu kita harus rela melayani sesama. Melayani sesama sesuai panggilan masing-masing, melayani sesama dengan berkorban sesuai kemampuan yang telah Tuhan percayakan: bisa dengan harta, tenaga, telinga, mata, dan sebagainya. Selama diberikan kesempatan untuk bisa melayani, berikan yang terbaik tanpa pernah hitung-hitungan: aku sudah melakukan ini untuknya, aku sudah melakukan itu untuknya (tidak membiarkan tangan kiri mengetahui yang diperbuat tangan kanan). Melalui kesempatan ini, saya juga ingin menyampaikan sebuah pesan kepada seseorang yang pada malam pergantian Tahun Baru 2014, saat banyak orang sedang tertawa dalam kemenangan, namun seseorang tersebut larut dalam kesedihan: “Cinta Itu Pengorbanan, dibutuhkan pengorbanan untuk tetap bisa setia (selamanya mempertahankan pernikahan), sekalipun harus menjumpai ketidaksempurnaan pasangan. Tuhan tak pernah memberikan pasangan yang sempurna, karena ketidaksempurnaan yang dimiliki pasangan adalah tempat yang disisakan oleh Tuhan untuk kamu lengkapi. Kehadiran hidupmu dalam hidupnya sangat dibutuhkan, karena baginya jauh lebih berharga kehadiran satu orang yang mau menerima kekurangannya, daripada kehadiran seribu orang yang mengagumi kelebihannya.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: