Ibadahku Minggu Ini Tanpa Jingkrak-Jingkrak dan Lidah Bergetar

Pagi ini, karena sesuatu hal, maka saya memutuskan untuk beribadah dalam gereja protestan beraliran Calvinis. Meski bukan gereja yang biasa menjadi tempat saya beribadah, namun bisa hadir dalam sebuah persekutuan merupakan anugerah yang tiada terkira bagi saya, seperti ucapan syukur yang selalu saya naikan setiap kali bisa berada dalam ruang ibadah mana pun, dan denominasi apa pun: “Terima kasih atas anugerah-Mu, terima kasih atas kesempatan beribadah yang telah Engkau berikan, terima kasih telah membawaku dari tempat yang gelap menuju pada terang-Mu.”

Ucapan syukur itu selalu saya naikan setiap kali bisa duduk di bangku gereja, ucapan syukur itu selalu saya naikan sebagai doa akan memulai ibadah, termasuk ibadah dalam gereja protestan beraliran Calvinis tadi pagi. Selesai menaikan ucapan syukur, saya turut melantunkan pujian yang berasal dari Kidung Jemaat 16 yang berjudul: “Ya Khalik Semesta”. Tak lama setelah pujian tersebut dilantunkan, masuk dalam bagian pengakuan dosa, saya terkejut dengan (menurut saya) kata-kata indah yang ada pada teks pengakuan dosa yang tertulis dalam warta yang dibuat oleh sinode dari gereja tersebut.

Dalam teks pengakuan dosa, tertulis perbuatan-perbuatan salah yang mungkin tanpa disadari telah banyak kita lakukan. Tanpa jingkrak-jingkrak terlebih dahulu, tanpa tepuk tangan dan lidah bergetar terlebih dahulu, hanya dengan kata-kata indah yang ada dalam teks pengakuan dosa, aliran “setrum” terasa dalam tubuh saya. Kata-kata indah yang pada akhirnya saya ketahui sebelum khotbah dimulai, kata-kata indah yang pada akhirnya saya ketahui ketika saya menyiapkan perikop untuk pembacaan Alkitab, kata-kata indah yang pada akhirnya saya ketahui merupakan sebuah refleksi dari 1 Korintus 8:1-13.

Kata-kata indah itu merupakan refleksi dari surat Paulus yang ditujukan kepada jemaat Korintus, kata-kata indah itu merupakan refleksi yang berguna bagi kita yang merasa telah banyak mengisi kepala dengan pengetahuan, kata-kata indah itu saya salin ulang sebagai berikut:

Bapa Maha Kuasa, Engkau amat menyayangi kami umat-Mu,
tanpa memperhitungkan kelemahan kami,
bahkan tidak Engkau ingat lagi, dosa-dosa kami.

Tapi… kami melupakan kemurahan-Mu dalam kehidupan sehari-hari.
Kami menolak sesama yang lemah imannya;
kami suka meremehkan pendapat orang lain,
dan menertawakan kebodohannya…
Ampunilah keangkuhan kami.

Bapa Maha Murah, Engkau amat mengasihi umat-Mu.
Engkau memberkati kami dengan banyak kebaikan dalam hidup.
Namun kami enggan berbagi dan menyaksikannya kepada orang lain.

Kami sering membanggakan diri saat mencapai keberhasilan;
tapi suka menghina mereka yang gagal,
karena menganggap mereka tidak memiliki berkat Tuhan…
Ampunilah kegagalan kami memahami kasih-Mu, Bapa.

Bapa Maha Adil, Engkau peduli dengan keadaan umat-Mu.
Engkau sediakan segala yang kami perlu,
untuk diolah dan digunakan sebagai penyambung hidup.
Namun kami masih kurang bersyukur.

Kami berlaku serakah dan suka berebut.
Kami saling menghakimi soal apa yang dimakan
dan apa yang dipakai orang…
Ampunilah kami yang terlalu mementingkan diri,
dan tidak memuliakan Engkau dalam hidup kami.

Salam persekutuan | Surabaya, 2 Februari 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: