Mata Roy Soselisa Melengkapi Mata Najwa tentang Bu Risma

Mungkin masih banyak yang belum terlihat oleh Mata Najwa tentang Bu Risma: http://youtu.be/kdMhCXltPUQ. Sedikit dari yang masih banyak belum terlihat itu, coba saya tuliskan berdasarkan pengalaman saya “bersentuhan jarak dekat” dengan Bu Risma sebagai warga Surabaya dan abdi Kota Surabaya, sebagai berikut:

1) November 2010: saat badan pembina olahraga cacat menyelenggarakan sebuah kejuaraan, Bu Risma datang memenuhi undangan kami untuk membuka kejuaraan tersebut. Saya pribadi terkejut ketika ajudan Bu Risma datang menghampiri saya di lokasi pembukaan lalu berkata: “Bu Risma sedang ada dalam perjalanan menuju ke tempat ini.” Setelah selesai merespons ajudan tersebut, dalam hati saya berkata: “Tumben banget ada pejabat mau repot-repot untuk anak cacat, merupakan sebuah penghargaan untuk anak-anak yang tidak pernah bisa mendengar suara burung bernyanyi ini, merupakan sebuah penghormatan untuk anak-anak yang tidak pernah bisa berjalan sendiri ini.” Perkataan dalam hati saya makin keras terucap ketika melihat mau repotnya Bu Risma untuk anak-anak cacat setelah upacara pembukaan berakhir. Tanpa keberatan, Bu Risma melayani satu per satu anak-anak cacat yang meminta foto bersama dengan Walikotanya, rasa senang nampak di raut wajah mereka ketika pelukan diberikan oleh Bu Risma.

2) Februari 2011: saat saya menerima SK CPNS, untuk pertama kalinya saya menyaksikan Bu Risma yang “pemarah” menegur salah satu CPNS yang “banyak mulut” ketika pidato sedang berlangsung. Namun, marah Bu Risma hanya sebatas menghukum kesalahan yang telah dilakukan, tanpa ada intimidasi yang berlebihan, dan hukuman yang berkelanjutan (SK batal diberikan, status CPNS dibatalkan, dsb.). Agar tidak banyak “banyak mulut” kembali, CPNS tersebut hanya diperintahkan oleh Bu Risma untuk pindah tempat duduk dari deretan yang paling belakang ke deretan yang paling depan.

3) Maret 2011: saat saya magang di salah satu Kantor Kecamatan dan Kelurahan di Surabaya. Saya mendapatkan kesempatan mengikuti kerja bakti membersihkan eceng gondok di boozem Morokrembangan Surabaya, dan membersihkan sampah di Pasar Keputran Surabaya bersama Bu Risma. Dalam kesempatan ini, saya bisa berdampingan dengan Bu Risma, bersama-sama dengan CPNS dan PNS lainnya memungut encek gondok dan sampah untuk dibuang ke dalam truk sampah. Bu Risma tidak hanya menjadi mandor, tapi tangannya juga berlepotan lumpur dan bau sampah busuk.

4) Maret 2011: saat seorang rekan PNS (di Kelurahan tempat saya magang) sedang dalam proses permohonan cerai dengan pasangannya, permohonan tersebut sampai pada meja Bu Risma. Menurut pengakuan rekan PNS tersebut, oleh Bu Risma pengajuan cerainya tidak disetujui begitu saja. Ketika rekan PNS tersebut dipanggil untuk menghadap Bu Risma terkait dengan permohonan cerainya, Bu Risma tak ubahnya seperti seorang psikiater yang melakukan pendampingan pasangan yang akan bercerai: menanyakan alasannya bercerai, apa sudah dipikir matang-matang, dsb. Jika melihat “mau repotnya” Bu Risma hingga pada urusan perceraian PNS segala, pasti telah ada pernikahan PNS lainnya juga yang bisa diselamatkan dari atas meja Bu Risma.

5) Juni 2011: saat dilangsungkan kejuaraan bagi atlet cacat dengan skala lomba yang lebih besar, Bu Risma kembali menghadiri upacara pembukaan: http://goo.gl/5y4cXJ. Bu Risma tetap mau repot-repot kembali seperti pada kejuaraan yang diselenggarakan bulan November tahun 2010.

6) Juli 2012: saya mendengar kabar bahwa Bu Risma mengambil tindakan tegas memecat seorang PNS dan seorang CPNS yang terbukti melakukan pencurian hardisk dari sebuah alat yang digunakan untuk pelayanan publik. Meski turut prihatin dengan pemberitaan tersebut, karena seorang CPNS yang dipecat merupakan rekan magang saya selama bulan Maret 2011, namun di sisi lain saya bisa melihat konsistensi yang dimiliki Bu Risma sebagai pimpinan. Tak ada ampun bagi CPNS maupun PNS yang melanggar disiplin pegawai, terlebih jika pelanggaran disipilin tersebut terkait dengan kriminal dan narkoba.

7) Januari 2013: Dalam acara pengambilan sumpah PNS, saya mendengar dengan seksama cerita Bu Risma dalam pidatonya, cerita yang sama persis dengan sebagian cerita yang ada di Mata Najwa. Dari cerita Bu Risma itulah, sumpah PNS yang saya (dan PNS lainnya) ucapkan terasa bernyawa. Dari teladan Bu Risma itulah, maka saya (dan PNS lainnya) harus senantiasa mengutamakan kepentingan Negara. Setelah pengambilan sumpah PNS dilangsungkan, kami mendapatkan berita acara. Lewat berita acara pengambilan sumpah PNS itulah, saya bisa mendapatkan monumen teladan Bu Risma. Lewat berita acara pengambilan sumpah yang berbentuk lembaran kertas tebal berwarna keemasan itulah, saya bisa mendapatkan tanda tangan Walikota yang masuk nominasi walikota terbaik di dunia dari lima benua versi The City Mayor Foundation.

Demikian sedikit yang bisa saya tuliskan tentang Bu Risma, tentunya masih banyak yang bisa saya tuliskan dari yang masih banyak belum terlihat itu. Namun karena bersinggungan dengan profesi, maka saya harus membatasi diri.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: