Ranjau dalam Kepala Membuat Takut Melangkah

Kemarin (2/3/2014), saat matahari akan meninggalkan langit Surabaya, seorang rekan datang menghampiri saya sambil berkata (dalam bahasa Jawa, namun dalam catatan ini sudah saya terjemahkan): “Roy, nanti selesai melatih minta waktunya sebentar ya? (sambil menyebut sebuah nama, dan menunjuk seorang pemuda yang berada di sudut lapangan) Barusan dia bilang sedang ada masalah dengan angka 24, yang berdampak pada kuliah dan kehidupan lainnya. Lalu dia meminta solusi untuk masalahnya itu, tapi aku arahkan ke kamu.” Saya pun menyahut: “Beres, Mas. Setelah ini ya.”

Selesai menyahut, saya lanjut melatih. Sembari melatih, pikiran saya tertuju kepada pemuda tersebut, seorang pemuda yang tak asing bagi saya, karena kami sudah sering berjumpa, meski hanya sekadar bertegur sapa di lapangan (tiga tahun lalu kami juga sempat berbincang tentang pergumulannya selepas SMA). Bermodalkan informasi singkat dari rekan saya, diagnosis awal yang masih prematur coba saya hadirkan dalam pikiran: Masalah yang sedang terjadi dengan pemuda tersebut terletak di pikirannya, dalam pikirannya sedang terjadi pertempuran dengan angka 24. Berangkat dari diagnosis awal itu, saya pun coba mengantongi kalimat: Pikiran adalah medan pertempuran.

Tema tentang ‘pikiran adalah medan pertempuran’ telah saya ketahui sejak lama, jadi bila harus menyentuh wilayah ini, mungkin saya bisa memberikan sedikit solusi. Tapi kendalanya, entah kenapa kemarin sore saya benar-benar tak berminat menyentuh tema tersebut, meski saya sudah mengantongi sebuah kalimat sebagai modal untuk memberi solusi. Saya seperti merasakan “keran otak” saya sedang tertutup untuk tema tersebut, saya hanya merasakan “keran otak” dalam kepala saya sedang terbuka untuk tema kepelatihan olahraga.

Tiba saatnya, ketika kegiatan saya melatih telah berakhir, pemuda tersebut datang menghampiri saya dan rekan-rekan lain yang sedang duduk bersama beralaskan rumput lapangan. Selang lima menit, setelah berbincang ringan dengan rekan-rekan, saya mengajak pemuda tersebut menjauh beberapa meter. Meski “keran otak” saya terasa tertutup untuk tema ‘pikiran adalah medan pertempuran’, tetap coba saya paksakan diri (untuk memberi waktu bagi pemuda tersebut). Karena saya memiliki keyakinan, segala sesuatu yang terjadi di bawah langit tak ada yang kebetulan, termasuk bila harus dihadapkan dengan sesama yang sedang dirundung masalah.

Setelah menjauh, kami pun duduk beralaskan rumput lapangan. Perbincangan (terkadang dalam bahasa Jawa, terkadang dalam bahasa Indonesia, namun dalam catatan ini sudah saya terjemahkan) saya awali dengan pertanyaan:

Saya: “Gimana? Ada yang bisa dibantu?”

Pemuda: “Iya nih, Mas. Saya sedang koleng (dalam bahasa Indonesia kata tersebut memiliki arti terapung-apung, sementara dalam masyarakat Jawa yang berdomisili di Surabaya, kata koleng sering digunakan untuk menggambarkan keadaan yang sedang bimbang, dalam masalah, stres, pusing, dll.), saya trauma dengan angka 24, karena saya punya pengalaman buruk dengan angka 24. Saya pernah dikeluarkan dari sekolah (menyebut nama sekolah yang beridentitas angka 24), lalu ayah saya meninggal pada tanggal 24. Sejak saat itu, saya selalu ketakutan dengan angka 24, setiap bersinggungan dengan angka 24 atau angka yang bisa dibagi 4, saya pasti mengalami ketakutan ditimpa nasib sial.”

Saya: “Memangnya pernah ditimpa nasib sial apa?” bertanya sambil menanti keran otak dalam kepala terbuka.

Pemuda: “Belum pernah ditimpa sih, Mas. Tapi karena ketakutan sama angka 24 itu, hidup saya jadi nggak jelas. Sampai-sampai hari ini saja, saya sudah habis berbatang-batang rokok. Sejak siang tadi sudah habis 11 batang, padahal saya bukan perokok (dalam keterbatasan menyampaikan apa yang sedang terjadi dengan dirinya, saya menangkap dari wajahnya, banyak pelarian-pelarian lain/bukan hanya rokok yang pemuda tersebut lakukan untuk memanipulasi ketakutannya).”

Saya: “Kenapa harus takut, sebenarnya itu hanya permasalahan dalam pikiran. Apa yang terus kamu tabur dalam pikiran, itulah yang akan keluar ke permukaan. Saat kamu terus menabur ketakutan dalam pikiran, saat itulah kamu memberi tempat ketakutan untuk berkuasa penuh dalam kehidupan.” Selesai memberi jawaban tersebut, saya ajukan pertanyaan kembali (karena saya merasa jawaban yang saya berikan berada di langit, belum menginjak bumi, dan saya merasa gagal dalam memberikan penjelasan): “Apakah bisa dipahami penyampaian ini?”

Pemuda: “Bisa, Mas.” Jawaban yang disertai dengan wajah sungkan, apabila harus mengatakan tidak bisa memahami perkataan saya.

Saya: (pada saat bersamaan pemuda tersebut memberi jawaban, saya merasa ada Tangan yang membuka ‘keran otak’ dalam kepala, dan mengalirlah jawaban selanjutnya) “Kamu lihat gedung di sudut lapangan itu, gedung itu adalah masa depanmu, dan rerumputan hijau ini adalah jalanmu menuju masa depan. Namun permasalahannya sekarang, dalam rerumputan yang hijau ini banyak tersebar ranjau yang sangat sensitif di dalamnya, tersentuh sedikit saja bisa meledak. Apa yang akan kamu lakukan untuk menuju masa depan itu? Mundur ke belakang, berhenti di tempat, atau tetap nekat melangkah maju?”

Pemuda: “Mundur ke belakang aja, Mas.”

Saya: “Benar, mau mundur ke belakang? Mundur ke belakang itu masa lalu, kamu nggak mungkin bisa kembali ke masa lalu. Sementara jika kamu berhenti di tempat, kamu nggak akan ke mana-mana, kamu akan menjadi tua dan mati di tempat dengan ketakutanmu.”

Pemuda: “Oh, kalau gitu nekat melangkah maju, Mas.”

Saya: “Benar, mau nekat melangkah maju? Resikonya bisa mati seketika, karena hancur tubuhmu terkena ledakan ranjau yang terinjak kakimu.”

Pemuda: “Iya juga ya, Mas. Terus harus bagaimana, Mas?”

Saya: “Kamu nggak akan bisa ke mana-mana bila hidup dalam ketakutan. Ranjau yang tersebar di depan sana sebenarnya tidak ada, tapi kamu sendiri yang membuatnya ada. Kamu selalu meletakan ranjau di depan kakimu setiap kali mau melangkah (saya mengambil posisi berdiri, dan mulai memperagakan gerakan melangkah, dan seolah-olah sambil meletakan ranjau di depan kaki). Satu langkah kaki, satu ranjau ‘pernah dikeluarkan dari sekolah’ diletakan di depan kaki. Satu langkah kaki, satu ranjau ‘ayah yang sudah lama meninggal’ diletakan di depan kaki.”

Pemuda: “Wah iya, Mas. Benar juga, Mas.” Jawaban yang disertai dengan sinar harapan yang mulai menyala di wajahnya.

Saya: “Masa depanmu masih panjang, banyak hal yang akan terjadi di depan sana. Contoh: Kelak kamu dipertemukan dengan wanita yang cantik, pandai dan soleha, tapi lahir pada tanggal 24, apakah kamu akan melewatkan begitu saja karena ketakutanmu? Contoh lain: Kelak kamu akan menghadapi ujian skripsi, tapi karena dilaksakannya pada tanggal 24, kamu gagal mempertahankan skripsi di hadapan penguji, kegagalan itu terjadi bukan karena kamu nggak mampu, tapi kegagalan itu terjadi karena ketakutan telah menimpamu lebih dulu. Jangan sia-siakan hidupmu dengan ketakutan.” Berhenti sejenak, lalu dengan tersenyum saya pandang wajahnya dan berkata: “Gimana? Masih mau hidup dalam ketakutan? Masih mau meletakan ranjau dalam setiap langkah kehidupan?”

Pemuda: “Terima kasih, Mas. Sudah menolong saya.” Sembari meraih tangan kanan saya dan menempelkan punggung tangan saya ke hidungnya (Aduh, saya sedikit nggak suka dengan ‘style ke-ndoro-ndoro-an’ seperti ini, murid saya pun sering saya tolak ketika meraih tangan saya, dan lebih memilih menggantinya dengan ‘give me five’).

Perbincangan pun kami akhiri, karena lapangan berangsur menjadi sepi. Ketika kami berdua melangkahkan kaki ke tempat parkir, saya kembali berkata-kata: “Terlebih dari semua yang sudah saya sampaikan tadi. Tuhan jauh lebih besar dari angka-angka yang kamu takutkan. Hidup kita ada dalam genggaman tangan Tuhan yang penuh kuasa, bukan ada dalam genggaman angka-angka.” Pemuda itu pun menjawab: “Benar, Mas. Terima kasih.” Dan sebelum pergi meninggalkan saya, pemuda itu mengucapkan salam kepada saya: “Assalamu’alaikum.” Saya pun menyahut: “Walaikumsalam.”

***

Siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, dengan segala kesabaran menjadi jawaban bagi sesama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: