Bosan dengan Mukjizat

Saya bosan dengan mukjizat-mukjizat seperti sakit disembuhkan, pernikahan yang retak disatukan kembali yang telah saya dengar selama ini. Saya kenyang melihat dan bersentuhan dengan mukjizat-mukjizat semacam itu, karena terlalu sering melihat dan bersentuhan dengan mukjizat semacam itu, menjadikan saya tak ubahnya seperti bangsa Israel yang bosan dengan Manna (hujan roti) yang turun dari langit. Hanya awal-awalnya saja menjadi takjub, tapi lama-kelamaan menjadi bosan dengan Manna yang selalu dimakan setiap harinya.

Selama seminggu ini (dan puncaknya pada hari minggu ini), saya diijinkan untuk melihat “Manna lain yang tidak pernah turun dari langit” seperti sebelum-sebelumnya, saya diijinkan untuk bersentuhan dengan mukjizat lain yang berbeda dengan mukjizat yang telah membuat saya bosan saat mendengarnya. Mukjizat itu adalah mukjizat kesembuhan yang berupa kematian, ketika usaha pengobatan untuk menyembuhkan sakit telah dilakukan bertahun-tahun lamanya, hasil akhirnya adalah kematian. Tak selamanya mukjizat kesembuhan itu berupa rasa sakit yang dipulihkan, lalu menjadi sehat dan normal kembali seperti sedia kala. Kesembuhan yang berupa kematian jugalah mukjizat, karena dalam (sesudah) kematian ada kesembuhan dan kehidupan yang abadi.

Mukjizat lain yang diijinkan untuk saya boleh melihatnya pada hari ini adalah mukjizat dalam pernikahan yang retak. Tak selamanya mukjizat dalam pernikahan yang retak adalah bersatunya pasangan (suami isteri) yang telah berpisah, lalu hidup bersama kembali hingga maut memisahkan. Mukjizat dalam pernikahan yang retak juga berupa: Pasangan (suami isteri) yang telah berpisah dan tak mungkin bisa bersatu kembali, karena masing-masing telah memiliki kehidupan sendiri. Namun, anak-anak yang dihasilkan dari pasangan (suami isteri) yang telah mengalami pernikahan yang retak tersebut, berkomitmen penuh untuk tidak mengulang kisah yang sama dengan orang tua mereka. Anak-anak mereka lebih memilih menjalani kehidupan pernikahan bersama pasangannya dengan sungguh-sungguh, dan dari pernikahan yang dibangun anak-anaknya itu lahirlah keturunan yang berkualitas dan memberikan dampak besar bagi kehidupan.

Dua mukjizat yang boleh saya lihat seminggu ini, mengingatkan saya kembali bahwa Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat. Tuhan yang berdaulat atas kematian, Tuhan yang berdaulat atas retaknya sebuah pernikahan. Tuhan tidak pernah gagal menjadi Tuhan ketika kematian jadi jawaban, Tuhan tidak pernah gagal menjadi Tuhan ketika retaknya sebuah pernikahan. Tuhan tetaplah Tuhan yang berkuasa sepenuhnya tidak bisa dipaksa-paksa, memuliakan dan mengikuti kehendak-Nya adalah jalan satu-satunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: