Golput Itu Tak Berperikemanusiaan

Tiga minggu lalu (21/03/2014), sepulang saya dari Pasar Turi Surabaya (mengambil pesanan nomor dada untuk keperluan ujian praktek sejumlah 400 lembar kain), saya melewati jalan Genteng Kali (sisi utara yang berbatasan dengan sungai Kalimas, seberang eks Siola). Di tengah perjalanan, karena jalanan macet, saya pun mengurangi kecepatan laju motor yang saya kendarai. Beberapa meter setelah mengurangi kecepatan, saya menjumpai yang menjadi penyebab kemacetan di jalan tersebut: ada seorang pria (korban kecelakaan) yang terkapar di tengah jalan dengan kepala berdarah dan tak sadarkan diri.

Seketika itu juga, setelah menjumpai yang menjadi penyebab kemacetan, saya berhenti dan meletakan motor di tepian jalan. Ketika saya hendak menghampiri seorang pria yang terkapar di tengah jalan, rupanya telah ada tiga orang yang lebih dulu mengangkatnya ke tepian jalan. Namun, pertolongan yang diberikan hanya sebatas meletakannya di tepian jalan (salah satu orang yang telah mengangkatnya, saya ketahui berlari ke jalan seberang untuk mencuci tangan dan kakinya yang berlumuran darah korban), selebihnya korban dibiarkan terkapar di tepian jalan raya. Sementara itu, banyak orang lainnya hanya mengerumuni dan menjadikan korban sebagai tontonan.

Karena sejak awal saya telah berniat untuk menolong, maka saya hampiri korban. Pertolongan pertama yang saya berikan adalah memperhatikan dan memberikan kemudahan pada jalan pernapasannya (menggunakan metode-metode sederhana yang pada umumnya diberikan dalam menangani korban kecelakaan). Setelah selesai memberikan pertolongan tersebut, saya meminta seseorang yang turut mengerumuni korban untuk menggantikan saya menahan dagu korban sedikit naik ke atas supaya tidak menindih jalur pernafasannya (karena korban bertubuh gemuk, dagunya menindih leher, hingga mengakibatkan kesulitan bernafas), karena saya akan melapor ke pos polisi yang jaraknya sekitar 200 meter dari lokasi.

Motor pun segera saya starter, tapi karena jalanan macet, motor yang saya kendarai tak segera melaju. Saat menunggu motor melaju, saya sambil memperhatikan korban, rupanya seseorang yang saya mintai tolong tadi tidak memegangi dagu korban (entah karena tidak memiliki cukup keberanian atau entah karena alasan lainnya). Dengan dasar pertimbangan jalanan macet, dan motor yang tak segera melaju, akhirnya saya urungkan untuk melapor ke pos polisi. Saya lebih memilih untuk kembali memegangi dagu korban. Sembari memegangi dagu korban, saya bertanya kepada orang-orang yang mengerumuni: “Iki kejadian awale yak opo? Ono sing ngerti ta? (Ini kejadian awalnya seperti apa? Ada yang tahu?)”.

Beberapa orang memilih diam, beberapa orang menjawab korban terjatuh sendiri (kecelakaan tunggal), dan saat mendengar jawaban beberapa orang tersebut, tiba-tiba dari belakang kerumunan muncul seseorang berkata: “Orang ini tadi menabrak bagian belakang mobil saya yang terparkir, saya baru saja parkir untuk tanya alamat yang tidak saya ketahui.” Saya pun menyahut: “Pak, tentang itu dibicarakan belakangan aja (urusan benar atau salah). Sekarang bisa minta tolong pakai mobil bapak untuk membawa korban ke rumah sakit enggak? Bapak tersebut menjawab: “Bisa aja, tapi saya tidak tahu jalanan sini, tidak tahu juga rumah sakit letaknya di mana.” Saya kembali menyahut: “Nanti saya tuntun jalannya, bapak ikuti dari belakang. Yang penting korban segera dibawa ke rumah sakit, kita bawa ke rumah sakit jalan Undaan dekat sini aja (sambil menunjuk arah jalan).”

Akhirnya, bapak itu pun mempersilakan mobilnya untuk digunakan membawa korban ke rumah sakit. Seketika itu juga, saya meminta bantuan orang-orang yang mengerumuni untuk mengangkat korban ke dalam mobil. Dari sekian banyak orang yang mengerumuni, hanya satu orang yang bersedia membantu saya mengangkat korban. Karena tubuh korban cukup besar (mungkin dengan berat badan 90-100 kg), usaha kami tak membuahkan hasil, korban tak berpindah tempat, hanya sedikit terangkat dari permukaan tanah. Lalu datanglah seorang pemuda yang saya ketahui baru menghentikan laju motornya untuk menepi, dan langsung menghampiri kami untuk memberikan bantuan. Dengan tiga orang yang mengangkatnya, korban pun bisa berpindah tempat mendekati mobil (berjarak sekitar 7 meter dari posisi terkapar) yang akan membawanya ke rumah sakit.

Menjelang korban dimasukan ke dalam mobil, tepat di samping pintu mobil yang telah terbuka, tubuh bagian bawah korban terjatuh ke tanah (dengan posisi duduk). Karena kami bertiga mulai kelelahan menyanggah beban tubuh korban, ditambah kesulitan memasukan tubuh korban (yang dalam keadaan tidak sadarkan diri) ke dalam mobil melalui pintu yang sempit. Ketika korban terjatuh dari bopongan kami tersebut, dengan spontan seorang pemuda di antara kami (yang tadi baru saja tiba di lokasi dan langsung membantu untuk mengangkat korban) berkata: “Wong-wong iki yak opo seh, gak onok sing ngewange, mek ndelok tok (Orang-orang ini gimana sih, tidak ada yang membantu, cuma menonton saja).”

Sembari merespon pemuda tersebut: “Emboh, yak opo wong-wong iki (Nggak tahu, gimana orang-orang ini).”, saya memperhatikan mata korban yang terbuka melihat ke arah kami. Seketika itu saya menyapa korban, disusul yang lain juga: “Bisa berdiri, Mas? Kami bantu naik ke dalam mobil ya?” Tak lama setelah kami menyapa, hanya dalam hitungan beberapa detik, korban menutup matanya lagi, dan kami pun berusaha kembali untuk mengangkat korban masuk ke dalam mobil. Singkat cerita, akhirnya korban dapat masuk ke dalam mobil, dan pada saat yang bersamaan dua petugas polisi datang menghampiri. Saat mengetahui masalah tersebut telah ditangani oleh polisi, maka saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali (saya sempat mengikuti mobil yang membawa korban sampai mendekati rumah sakit).

Dalam perjalanan yang saya lanjutkan kembali, isi kepala saya bertanya-tanya: Apakah banyak orang yang hadir dalam kecelakaan tadi tidak tergerak hatinya untuk menjadi ‘problem solver’ saat melihat kami kepayahan mengangkat korban (karena saya pribadi merasa payah saat harus mengangkat korban dengan jaket parasit yang masih membalut tubuh saya, dan tas ransel di punggung yang berisikan 400 lembar nomor dada)? Apakah banyak orang yang hadir dalam kecelakaan tadi tidak terketuk hatinya saat melihat kepala korban yang berdarah-darah pertanda harus segera diselamatkan nyawanya? Apakah banyak orang yang hadir dalam kecelakaan tadi hanya untuk menonton, bukan untuk memberikan pertolongan itu merupakan pertanda bahwa perikemanusiaan telah hilang dalam diri banyak orang (perikemanusiaan dalam KBBI memiliki arti: sifat-sifat yang layak bagi manusia pada umumnya, seperti suka menolong, bertimbang rasa, dsb.)?

Lewat kejadian yang saya alami dua minggu lalu tersebut, mengantarkan saya pada sebuah perenungan. Sebuah perenungan untuk menyambut pesta akbar demokrasi yang akan berlangsung esok hari. Dalam pandangan banyak pengamat politik, saat ini Indonesia sedang berdarah-berdarah karena hantaman politisi-politisi (tentunya melibatkan juga: pejabat negara yang berlatar belakang politik) yang ada di parlemen. Politisi-politisi yang seharusnya sebagai wakil rakyat bertujuan untuk menyejahterakan rakyat, malah menghantam rakyat dengan menyalahgunakan kekuasaan dan uang negara.

Hantaman yang berupa penyalahgunaan kekuasaan untuk meraup keuntungan pribadi dan kelompoknya, hantaman yang berupa pemuasan hawa nafsu untuk memperkaya diri dan kelompoknya dengan melakukan penyelewengan uang negara. Hantaman politisi-politisi yang terus dilakukan itu telah mengakibatkan sendi-sendi pemerintahan Indonesia terkapar, hantaman yang secara tidak langsung turut mengaparkan sendi-sendi ekonomi, sendi-sendi birokrasi, sendi-sendi pelayanan publik, dan banyak sendi lainnya yang turut terkapar hingga berdarah-darah.

Pertanyaannya sekarang: Apakah kita tidak tergerak hatinya untuk menjadi ‘problem solver’ saat melihat Indonesia yang sedang terkapar dan berdarah-darah? Apakah kita tidak terketuk hatinya saat melihat Indonesia yang sedang terkapar dan berdarah-darah pertanda harus segera diselamatkan ‘nyawanya’? Apakah kita hadir di Indonesia ini hanya sebagai penonton, bukan untuk memberikan pertolongan sebagai pertanda bahwa perikemanusiaan telah hilang dalam diri kita?

Dalam menjawab paragraf yang berisikan pertanyaan di atas, saya memililih untuk menjawabnya lewat kehadiran saya di Tempat Pemungutan Suara pada 9 April 2014, dan tetap akan berlanjut pada 9 Juli 2014. Sepanjang hidup saya dengan status telah memiliki hak suara dalam pemilu, tidak pernah sekalipun melewatkan kesempatan untuk memberikan suara dalam Pilkada, Pilgub, Pileg, dan Pilpres. Karena bagi saya, melewatkan kesempatan untuk menentukan pilihan bukanlah lagi sebagai bentuk perlawanan (sejarah golput: http://goo.gl/voELGZ), melainkan sebagai bentuk ketidakpedulian (terkecuali bagi mereka yang bermasalah dengan data kependudukan dan TNI-Polri yang harus bersikap netral).

Bagi saya, memberikan suara dalam Pemilu (Pilkada, Pilgub, Pileg, dan Pilpres) bukan hanya mempengaruhi kehidupan politik di negeri ini, tapi juga mempengaruhi nasib bangsa dan negara pada masa yang akan datang. Karena begitu besar dampaknya hingga mempengaruhi nasib bangsa dan negara, maka sebagai bentuk kepeduliaan saya dalam menentukan pilihan, saya telah mempelajari calon-calon yang ada dengan dasar-dasar pertimbangan yang harus dimiliki oleh seorang calon sbb: latar belakang pendidikannya, landasan pengetahuan yang cukup, visi dan misinya jelas, memahami agenda politiknya sebagai caleg (tentunya yang rasional), memahami persoalan kebangsaan dengan sangat baik, bukan politisi yang karbitan (mendadak ikut-ikutan nyaleg, padahal selama ini hanya pedagang kelontongan yang cuma memikirkan untung rugi), memiliki kemampuan berkomunikasi supaya bisa ‘berbunyi’ saat duduk di parlemen, dan sebagainya.

Saat ini pun, saya telah mengantongi nama calon anggota DPD dan nama-nama caleg mulai dari tingkat DPRD Kota, DPRD Provinsi, dan DPR RI sesuai dengan dasar-dasar pertimbangan yang saya miliki. Ketiga nama caleg yang telah saya kantongi berasal dari satu partai yang sama, karena saya mengerucutkan pilihan hanya pada satu partai dengan dasar pertimbangan: selama ini partai tersebut telah menunjukan konsistensi keberpihakannya kepada rakyat, menjunjung prinsip pluralisme, dan kadernya yang ada di parlemen tidak berbondong-bondong menjadi tersangka penghantam Indonesia hingga berdarah-darah. Yang tidak kalah penting, melalui satu partai tersebut, saya ingin mengantarkan capresnya naik sebagai presiden dengan dukungan suara yang kuat di parlemen.

Akhir kata, Indonesia yang sedang berdarah-darah, membutuhkan pertolongan kita untuk diselamatkan ‘nyawanya’. Pilihlah calon yang bisa membersihkan darah dengan tangan lembutnya, bukan calon yang tangannya telah berlumuran darah sebelum melakukan apa-apa. Indonesia bisa menjadi hebat, hanya karena rakyat. Selamat menentukan pilihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: