Ibadah Paskahku di Dalam Pesawat Garuda

Tepat pada hari Paskah kemarin (20/04/2014), saya meninggalkan Kota Bandung yang telah saya diami selama tiga hari terakhir dengan menumpang pesawat Garuda Indonesia (Flight: GA 0361). Selama tiga hari di Kota Bandung, saya menyelesaikan beberapa kegiatan, salah satunya terkait dengan pengurusan dokumen pemindahan data kependudukan tunangan saya, Elfrita Shanty.

Dalam pesawat Garuda Indonesia yang membawa saya kembali ke Kota Surabaya, saya menikmati makanan ringan dan minuman dingin yang telah disajikan oleh pramugari, sembari mengutak-atik AVOD dengan LCD TV layar sentuh yang terletak di balik sandaran kursi penumpang yang ada di depan saya. Setelah beberapa saat mengutak-atik berbagai variasi hiburan yang ditawarkan di dalamnya, pilihan saya jatuh pada saluran musik.

Melalui headset yang terkoneksi dengan AVOD, saya mendengarkan album Geisha yang bertajuk Anugrah Terindah. Album tersebut saya pilih, karena tergelitik saat membaca salah satu judul lagu yang ada di dalamnya: Izinkan Aku Mendua (http://goo.gl/mjeDTi). Sekilas saat membaca judul lagu tersebut, yang terlintas dalam benak saya: “Ternyata ada kata-kata santun semacam ini (meminta izin) untuk sebuah kesalahan yang akan dilakukan.”

Setelah dua kali mendengarkan dan mencermati lirik lagu Izinkan Aku Mendua, saya jadi teringat dengan perjalanan saya sehari sebelumnya bersama dengan tunangan dari Kota Bandung menuju ke Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Saya teringat dengan canda gurau kami, saat itu saya menyanyikan lagu rohani yang lirik sebenarnya berisikan pujian untuk Tuhan, namun saya pelesetkan liriknya untuk tunangan saya. Begitu pula sebaliknya, tunangan saya membalas pelesetan liriknya untuk ditujukan kepada saya.

Selesai memelesetkannya, kami berdua tertawa, dan saya pun menceletuk dalam tawa: “Wah, kurang ajar banget nih. Kata-kata pujian dan pengagungan yang seharusnya terarah untuk Tuhan, jadi terarah untuk kekasih. Tuhan bisa jealous nih, karena fokus cinta kita bukan lagi diri-Nya, hati kita telah mendua.” Berawal dari lagu Geisha yang berjudul Izinkan Aku Mendua yang kemudian saya tautkan dengan canda gurau kami, akhirnya mengantarkan saya ke dalam sebuah perenungan.

Selama Garuda melintasi angkasa menuju Surabaya, selama itu pula saya coba merenungkan kembali tentang makna Paskah. Paskah yang saya lalui di dalam pesawat Garuda, telah memberikan refleksi tersendiri bagi diri saya (saya tidak mengikuti ibadah dalam gedung gereja, karena keterbatasan waktu saat berada di Bandung, dan harus segera kembali ke Surabaya untuk menyelesaikan kewajiban lainnya).

Bagi saya, Paskah merupakan bukti cinta Yesus kepada kita. Melalui Paskah, kita bisa melihat Yesus yang telah bangkit mengalahkan maut yang tak bisa dikalahkan oleh siapa pun, hanya Yesus yang sanggup mengalahkannya dengan terlebih dahulu melewati jalan salib yang menyakitkan hingga berujung pada kematian. Karena cinta Yesus yang besar kepada kita, Yesus rela memberikan nyawa-Nya untuk menjadi tumbal hukuman dari dosa-dosa (maut) yang kita lakukan.

Lalu bagaimana respon kita atas cinta Yesus yang telah dibuktikan-Nya itu? Sebagian besar kita selama ini, mungkin meresponnya dengan meneruskan cinta (melakukan kebaikan, memberikan pertolongan, dsb.) kepada sesama. Namun, apakah respon yang kita berikan itu benar-benar tulus? Apakah respon yang kita berikan itu benar-benar murni tanpa terkontaminasi? Apakah respon yang kita berikan itu benar-benar untuk membalas cinta-Nya? Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang menjadi bagian dalam perenungan saya selama melintasi angkasa menuju Surabaya.

Dalam lirik lagu Izinkan Aku Mendua, saya menemukan kata ‘jebakan asmara’. Seringkali dalam percintaan anak manusia, seorang pasangan terjebak dalam hubungan percintaan. Dalam hal ini yang coba saya renungkan tidaklah ‘se-ekstrem’ (ada orang lain yang dijadikan objek untuk bercabangnya hati) hubungan percintaan seperti yang ada dalam lirik lagu Izinkan Aku Mendua. Namun, yang coba saya renungkan hanyalah ‘jebakan asmara’ yang membuat seorang pasangan terus bertahan dalam sebuah hubungan, meski sebenarnya tak ada cinta lagi dalam hatinya.

Tidak selamanya seorang pasangan yang terus bertahan dalam hubungan itu karena cinta yang besar dalam hati, terkadang bertahannya seorang pasangan hanya karena terjebak dengan komitmen yang dibuatnya sendiri. Ketika seorang pasangan terlanjur berkomitmen untuk setia selamanya, maka untuk memuaskan batin (agar merasa sebagai orang yang berintegritas tinggi, sesuai ucapan dengan tindakan, tidak mudah diombang-ambingkan, dsb.) memilih untuk tetap bertahan selamanya. Bagi saya, sikap hati semacam ini sama halnya dengan mendua hati, yang membedakan hanya objek yang dijadikan tempat untuk bercabangnya hati.

Relevansinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi bagian dalam perenungan saya, (mengantarkan saya pada pengertian bahwa) seringkali manusia merasa telah memberi yang terbaik (melakukan kebaikan, memberikan pertolongan, dsb.) untuk sesama dengan tujuan meneruskan cinta dan membalas cinta Yesus. Namun sebenarnya yang manusia lakukan tidaklah benar-benar tulus untuk Yesus, tidaklah benar-benar murni untuk Yesus, tidaklah benar-benar untuk membalas cinta Yesus. Selama ini manusia melakukannya hanya untuk memuaskan nurani dan memenuhi ambisi pribadi (agar merasa sebagai orang yang berhati mulia, baik budi pekertinya karena sebagai manusia telah melakukan kebaikan untuk manusia lainnya, dsb.).

Setelah melakukan perenungan, saya coba mengintropeksi diri. Apakah yang saya lakukan selama ini benar-benar untuk membalas cinta-Nya atau justru telah mendua hati sejak lama? Dalam mencintai seorang wanita saja, saya sudah harus dewasa (matang dalam pikiran, pandangan, dsb.) untuk menentukan pilihan hidup saya sendiri (menentukan seseorang bukan hanya sekadar untuk memuaskan batin, namun menentukan seseorang untuk dicintai sepenuh hati). Terlebih untuk Yesus, sudah seharusnya saya tidak perlu bertanya-tanya lagi dan tidak perlu mencari tahu di mana hati saya berada, karena saya sudah harus dewasa untuk menentukan di mana hati saya berada.

Melalui renungan sederhana tersebut, yuk bareng-bareng kita tentukan di mana hati kita harus berada. Mendua hati bukanlah sikap yang dewasa, merespon cinta-Nya dengan meneruskan cinta kepada sesama merupakan tempat yang tepat di mana hati kita harus berada. Selamat Paskah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: