Berduka Setelah FKA Philip Mantofa di Ken Park Surabaya

“Ndronk, ayo nang FKA (Ndronk, ayo ke FKA).” Bunyi pesan singkat dalam bahasa Jawa yang masuk ke dalam handphone saya, kemarin sore pukul 17.12 WIB. Seketika itu juga saya membalasnya via whatsapp, dan tercipta kesepakatan pada pukul 18.15 WIB kami akan pergi bersama menghadiri Festival Kuasa Allah (FKA) ke 19 di Ken Park, Surabaya (http://goo.gl/py5yKT). Motivasi saya sebenarnya membalas pesan singkat dan menerima ajakan tersebut, murni bukan karena ingin pergi beribadah, saya hanya ingin memberikan waktu untuk sahabat saya, Bayu Christy.

Saya menyadari, karena kesibukan masing-masing telah membuat kami jarang berjumpa (yang biasanya ibadah minggu pagi selalu bersama pun, sudah tidak pernah ada kesempatan lagi, karena berbenturan dengan jadwal pelayanan). Terlebih saya yang lebih sering menolak ajakan untuk berjumpa, karena entah kenapa setiap kali datang ajakan untuk berjumpa, setiap kali itu pula ada agenda kegiatan yang tidak bisa saya tinggalkan (sok sibuk banget ya?). Itu sebabnya, saat kemarin sore datang ajakan untuk berjumpa dengan menghadiri FKA, seketika itu juga saya menerimanya, karena saya sedang tidak ada agenda kegiatan di luar rumah.

Singkat cerita, tepat pukul 19.00 WIB kami tiba di lokasi FKA. Pujian-pujian telah dilantunkan, hampir semua bagian kursi telah terisi, hanya kursi di bagian belakang yang letaknya sekitar 200 meter dari panggung FKA yang masih tersisa, dan kami pun memilih duduk di deretan kursi blok E 5. Setelah menduduki kursi yang tersisa, kami mengambil waktu berdoa untuk mengawali ibadah. Saya pribadi sambil menutup mata hanya mengucapkan sepenggal doa dalam hati tanpa berpanjang-panjang kata, namun sarat makna dalam benak saya: “Tuhan, tidak ada yang kebetulan bila saya boleh hadir di sini. Amin.”

Selesai mengucapkan sepenggal doa, saya hanya bersandar santai pada kursi dengan memperhatikan sekitar. Pujian-pujian tak ikut saya naikan, mata saya hanya menjelajah pandangan yang bisa terjangkau, karena saya tak mendapatkan fokus ke arah panggung FKA. Dengan posisi duduk bersandar santai, saya memperhatikan banyak orang yang masih terus berdatangan, dalam kerumunan banyak orang yang berdatangan, terperhatikan oleh saya beberapa Usher (penerima tamu) yang mengarahkan banyak orang yang berdatangan. Dalam senyum, saya teringat pernah melakukan hal yang serupa dalam kegerakan yang sama beberapa tahun yang lalu.

Saat hilir mudik banyak orang telah berangsur sepi, pandangan pun saya lempar ke arah panggung. Sembari mendengarkan lantunan pujian, dalam hati saya beranikan diri bertanya: “Tuhan, kalau panggung itu tahta-Mu saat di Sorga nanti, bagaimana mungkin aku bisa menghampiri-Mu? Apakah diriku tetap terperhatikan oleh-Mu dalam kerumunan banyak orang seperti ini dari atas panggung sana? Ini baru ribuan orang, saat nanti di Sorga malah mencapai milyaran orang. Apakah ‘pilih kasih’ yang akan kujumpai dari-Mu? Pasti kesedihan yang sangat mendalam akan kurasa bila itu yang kujumpai, karena selama ini aku sudah cukup ‘ke-ge er-an’ merasa dekat sekali dengan-Mu.”

Sesaat setelah saya bertanya dalam hati, dengan pandangan tetap tertuju ke arah panggung, saya merasakan hati saya terbakar oleh jawaban dari pertanyaan yang terlontarkan (silakan bagi yang tidak percaya akan hal ini, saya hanya menyampaikan yang saya rasa dan tidak mengada-ada): “Kamu tahu di mana letak Sorga? Letak Sorga berada pada tempat-tempat kamu bisa menghabiskan banyak waktu dengan Yesus. Saat kamu bisa berdoa menghabiskan waktu bersama Yesus dalam sehari sebanyak tiga waktu, lima waktu, bahkan mungkin tujuh waktu, di situlah Kuasa Allah telah dinyatakan. Damai sejahtera dan perasaan istimewa bisa berdua dengan Yesus yang kamu terima saat berdoa, seperti itulah rasa yang tetap bisa kamu rasakan saat kelak di Sorga sesungguhnya.”

Hanya mengaminkan jawaban yang telah membakar hati yang bisa saya lakukan, dan dari jawaban itu saya diingatkan kembali, bisa menghampiri Yesus dalam doa benar-benar merupakan Kuasa Allah. Bagi orang-orang tertentu yang tidak percaya Yesus, telah menjauh dari Tuhan, tidak memiliki kehidupan doa, dsb. saat bisa menghampiri Tuhan hanya satu waktu dalam sehari saja (tidak perlu sebanyak tiga waktu, lima waktu, bahkan mungkin tujuh waktu) sudah merupakan Mukjizat. Tanpa Kuasa Allah, meski hanya satu waktu dalam sehari saja, tidak akan pernah bisa membuat seseorang bisa menghampiri Yesus dalam doa.

Hati saya tak henti terbakar, dengan kuat saya terus digiring kepada hal lainnya. Dalam keadaan hati yang terbakar, sembari mulai melarutkan diri dalam lantunan pujian, saya mendapatkan refleksi dari kejadian yang saya alami selama lima hari terakhir. Sebuah refleksi tentang kebiasaan baru saya setiap malam, setelah dua bulan terakhir keluarga saya menempati rumah yang baru direnovasi, saya merasakan seperti kehilangan kebersamaan dengan Papa. Papa yang sebelum rumah direnovasi (hanya satu lantai), selalu saya jumpai dari ‘jarak dekat’. Namun, setelah rumah direnovasi menjadi dua lantai, menjadikan saya jarang menjumpai Papa dari ‘jarak dekat’, karena kamar saya terletak di lantai dua. Ada rasa kehilangan mengalami hal tersebut, dalam hati sering bertanya: “Ini masih satu atap dengan Papa, hanya beda lantai. Gimana saat nanti saya telah menikah, dan harus meninggalkan Papa? Waktu-waktu bersama Papa pun pasti akan jauh berkurang.”

Lima hari terakhir, saya tidak pernah mengerti dengan pasti yang saya rasa itu. Yang saya mengerti, lima hari terakhir dengan sadar saya memilih untuk tidak tidur di kamar saya yang terletak di lantai dua, dan saya lebih memilih tidur di ruang TV, ruangan yang menjadi tempat Papa beraktivitas (letaknya bersebelahan dengan kamar Papa Mama). Lima hari terakhir, dengan sengaja setiap malam saya tertidur dalam ‘penjagaan’ Papa, karena Papa ada dekat duduk di samping saya. Kejadian lima hari terakhir ini tidak pernah saya jumpai sejak SMP dan tidak akan pernah saya jumpai kembali di waktu-waktu yang akan datang, saya benar-benar menikmati semua yang saya rasa lima hari terakhir. Bahkan semalam saya tertidur bersama Papa, dan saat bangun tadi pagi pun yang saya lihat pertama kalinya adalah Papa.

Sebelum Philip Mantofa terlihat di atas panggung pertanda khotbah akan dimulai, rasa yang ada selama lima terakhir akhirnya terjawab: ternyata keinginan saya untuk selalu dekat dengan Papa adalah rasa yang harus saya miliki juga untuk Yesus. Selalu ada kerinduan yang besar menghabiskan waktu bersama dengan Yesus adalah Mukjizat yang sesungguhnya, karena Kuasa Allah benar-benar nyata ketika banyak orang dijumpai ada bersama dengan Yesus. Setelah Philip Mantofa naik ke atas panggung, hingga berakhirnya khotbah dan berlanjut pada kesaksian kesembuhan, tak henti hati dan pikiran saya terus digiring kepada hal yang lain.

Saat melihat kesaksian yang ada, saya teringat akan seorang Papa lainnya. Seorang Papa dari salah satu sahabat kami, seorang Papa yang biasa dipanggil Bapak oleh sahabat kami, David Saxono, dan kami pun biasa memanggilnya Pak Yusak. Saya teringat Pak Yusak sedang terbaring koma di ruang ICU, yang saya ketahui kabarnya sebelum menghadiri FKA dari sebuah display picture pada blackberry kemenakan David Saxono yang oleh Bayu Christy ditunjukan kepada saya. Pak Yusak selama bertahun-tahun memenuhi panggilannya sebagai pelayan Tuhan (full timer) di tempat Ps. Philip Mantofa menjadi Asisten Gembala Sidang-nya. Saat teringat akan Pak Yusak, dalam hati saya bertanya: “Tuhan, bagaimana dengan Pak Yusak? Adakah mukjizat untuknya juga? Bukankah Pak Yusak sudah melayani-Mu?”

FKA pun berakhir, kami melangkahkan kaki keluar menuju parkiran. Sebelum tiba di tempat parkir, langkah kami dihentikan oleh salah satu pelayan gereja yang bertugas melayani di FKA. Dari petugas tersebut, kami mendapat kabar bahwa Pak Yusak telah meninggal. Kami pun segera menanyakan kebenarannya via telepon kepada David Saxono yang sedang dinas di Makasar, dan ternyata kabar tersebut benar adanya. Seketika itu juga saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan saya, Pak Yusak telah mengalami mukjizat. Ya, tak selamanya mukjizat kesembuhan itu berupa rasa sakit yang dipulihkan, lalu menjadi sehat dan normal kembali seperti sedia kala. Kesembuhan yang berupa kematian juga merupakan mukjizat, karena dalam (sesudah) kematian ada kesembuhan dan kehidupan yang abadi (http://goo.gl/U4qxMo).

Selamat jalan Pak Yusak, sampai jumpa di kekekalan. Tak akan pernah terlupakan oleh saya ketika 13 tahun yang lalu Bapak mengantarkan saya dan David Saxono (boncengan motor bertiga) menghadiri Perayaan Paskah Pelajar Se-Surabaya di sebuah gereja yang lokasinya jauh dari lokasi tempat tinggal kita (sepulang dari perayaan itu pun masih teringat oleh saya, kami banyak membawa pulang hadiah karena berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kuis Alkitab). Tak akan pernah terlupakan oleh saya ketika 12 tahun yang lalu Bapak mengantarkan saya ke tepi kolam baptisan untuk diselamkan di dalamnya, dan sejak saat itu saya mulai belajar dan menghidupi “ke-kharismatik-an”. Tak akan pernah terlupakan oleh saya ketika 4 tahun yang lalu Bapak menjabat tangan saya dengan keras di depan pintu gereja (saat saya hendak mengikuti ibadah hari Minggu) sebagai pertanda turut bersukacita dan mengapresiasi atas status PNS yang saya dapatkan.

Turut berduka cita bagi David Saxono (dan keluarga besar) yang ditinggalkan, kiranya diberikan penghiburan yang datangnya dari Tuhan. Tetap tabah dan terus melangkah ke depan, meski kutahu rasa yang meliputimu kini jauh melebihi dari yang kurasa selama lima hari terakhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: