Mengaktifkan Tempat di Mana Kita Berada

 

Berawal dari bulan Maret 2010 (secara pribadi bersentuhan dengan olahraga cacat sejak akhir 2006, namun baru bergabung secara resmi ke dalam badan pembinaan olahraga cacat terhitung mulai Maret 2010), kala itu saya masih menjadi pendamping atlet tuna netra saat mereka sedang berlari, sekaligus menjadi pelatih bagi atlet kategori lainnya (selain tuna netra, ada kategori lainnya, yang bisa saya sebutkan secara umum, bukan secara khusus berdasarkan klasifikasi kategori kecacatan sebagai berikut: tuna grahita, tuna rungu wicara, tuna daksa, dan celebral palsy).

Tiga bulan setelah saya bergabung ke dalam badan pembinaan olahraga cacat (BPOC), dilangsungkan Kejurda BPOC Walikota Cup Surabaya. Sebuah kejuaraan daerah yang diselenggarakan oleh Pengurus BPOC Kota Surabaya, dengan mengundang (menanggung akomodasi dan konsumsi daerah terundang selama tiga hari) beberapa Pengurus BPOC Kota dan Kabupaten yang tersebar di Jawa Timur. Tahun 2010 merupakan tahun pertama bagi BPOC Kota Surabaya menyelenggarakan Kejurda dengan peserta lebih dari dua daerah. Pada tahun-tahun sebelumnya, berdasarkan yang saya ketahui saat terlibat sebagai panitia, hanya mengundang dua daerah (yang berdekatan dengan Kota Surabaya): Kabupaten Gresik dan Kabupaten Sidoarjo.

Dalam kejurda tersebut, diselenggarakan pertandingan dan perlombaan yang terdiri dari tiga cabang olahraga, sbb: Tenis Meja, Catur, dan Atletik. Hari pertama dilangsungkan pertandingan Tenis Meja dan Catur, lalu pada hari kedua dilangsungkan perlombaan Atletik. Yang menjadi catatan saya kala itu, terjadi kendala saat dilangsungkannya perlombaan Atletik. Perlombaan yang awalnya akan segera dimulai sesuai jadwal, harus molor dari rencana semula karena kendala dari susunan nomor acara dan daftar peserta lomba (buku acara). Buku acara yang menjadi nyawa bagi jalannya perlombaan (dari awal hingga berakhirnya), belum selesai disusun oleh panitia inti.

Saya pribadi kala itu hanya fokus mendampingi atlet, tidak terlibat dalam kepanitiaan. Namun, meski saya tidak terlibat dalam kepanitiaan, sebagai pelatih (pendamping peserta perlombaan) dan pendatang baru dalam kepengurusan BPOC Kota Surabaya, turut merasa bertanggung-jawab atas kelangsungan jalannya perlombaan. Saat beberapa panitia inti dalam keadaan panik (karena mendapat tekanan dari peserta agar lomba segera dimulai, sebelum matahari membumbung tinggi di atas kepala), tanpa menunggu lama saya segera membantu mereka, meski harus mondar-mandir membantu dalam kepanitiaan dan mendampingi atlet tuna netra yang sedang berlari. Singkat cerita, perlombaan Atletik berjalan lancar hingga berakhirnya.

Evaluasi pribadi pun saya berikan terhadap jalannya kejurda pada tahun 2010 tersebut, beberapa catatan pribadi telah saya miliki untuk menyusun konsep yang lebih baik dan sistematis terkait dengan penyelenggaraan kejurda pada tahun berikutnya. Langkah awal yang saya tempuh untuk merealisasikan konsep yang dimiliki adalah dengan menyiapkan SDM yang berfungsi sebagai tenaga pelatih, sekaligus sebagai pendamping tuna netra (mampu berlari mendampingi atlet tuna netra saat berlomba). Langkah tersebut saya tempuh dengan pertimbangan pada saat kejurda berlangsung, tugas sebagai pelatih dan pendamping tuna netra yang seharusnya menjadi bagian saya, bisa digantikan oleh pelatih lainnya, sementara saya pribadi fokus dalam pengerjaan buku acara dan memanajemeni kejurda.

Sebelum semester awal di tahun 2011 berakhir, kebutuhan tenaga pelatih telah terpenuhi. Tentunya pemenuhan kebutuhan tenaga pelatih berdasarkan keputusan dari Ketua organisasi kami (dan kekuatan anggaran yang berasal dari dana hibah APBD Pemerintah Kota Surabaya), meski rekomendasi awalnya berasal dari saya. Terpenuhinya tenaga pelatih tersebut bukan hanya sejumlah satu orang, tapi sejumlah tiga orang sekaligus. Dengan terpenuhinya tenaga pelatih tersebut (yang saya rekrut dari teman-teman saya sendiri, dengan memperhatikan dedikasi dan kompetensi mereka), rasanya konsep yang saya miliki akan bisa terwujud.

Detik-detik pelaksanaan Kejurda tahun 2011 pun tiba, saya telah memutuskan untuk membantu memanajemeni perlombaan yang terkait dengan pembuatan buku acara, koordinator teknis pelaksanaan di lapangan untuk ketiga cabang olahraga (tenis meja, catur, atletik), dan sebagainya. Sehari menjelang Kejuaraan Daerah berlangsung, seluruh peserta yang berasal dari 16 daerah di Jawa Timur mulai berdatangan. Bersamaan dengan datangnya peserta, maka datang pula formulir pendaftaran dari seluruh peserta yang akan mengikuti perlombaan. Dalam waktu semalam suntuk hingga fajar menyingsing, saya (dan dibantu oleh seorang rekan yang berperan memasukan data peserta lompat jauh dan tolak peluru) harus selesai menyusun buku acara sesuai dengan data pendaftaran yang telah masuk.

Bagi siapa pun yang mengetahui sistem perlombaan Atletik, pasti akan mengetahui bagaimana mampusnya menyelesaikan buku acara Atletik dalam waktu yang singkat (kalau buku acara Tenis Meja dan Catur sih masih mudah) dengan jumlah peserta lebih dari 150 orang, dan setiap peserta mengikuti tiga nomor lomba. Terlebih buku acara tersebut saya susun hanya dengan menggunakan Microsoft Excel (tanpa menggunakan software Track & Field Meet Management: http://goo.gl/BqVz2k yang bisa mengatur sendiri seri-seri lombanya saat data atlet telah dimasukan), karena belum tersedianya software untuk perlombaan Atletik khusus bagi olahraga cacat dengan berbagai kategori yang ada.

Kejuaraan Daerah NPC Se-Jawa Timur Memperebutkan Piala Walikota Surabaya Tahun 2011 pun akhirnya berlangsung. Kejurda yang dibuka oleh Walikota Surabaya, Ir. Tri Rismaharini, M.T. tersebut (dokumentasi: http://goo.gl/AHweMN) berjalan dengan baik dan lancar selama dua hari. Sukacita memenuhi hati saya karena bisa sedikit mengambil bagian di dalamnya, senang rasanya karena bisa membantu meringankan beban senior-senior (panitia inti pada kejurda tahun 2010) yang sempat membuat buku acara dengan ditulis tangan. Saya tak bisa membayangkan bagaimana kerja keras mereka kala itu, selain harus membuat buku acara dengan ditulis tangan, dalam usia yang senja mereka harus memanajemeni sebuah kejuaraan (konsumsi, akomodasi, dsb.), pantas saja bila mereka kerepotan pada tahun sebelumnya.

Setelah berakhirnya kejurda tahun 2011, kembali saya membuat catatan pribadi sebagai bahan evaluasi. Setelah setahun berlalu, saat tiba waktunya kejurda tahun 2012, dari bahan evaluasi yang saya miliki, saya memutuskan untuk membantu memanajemeni perlombaan mulai dari membuat surat undangan hingga berakhirnya kejurda (termasuk membuat perangkat laporan, dll. yang terkait dengan kejurda). Langkah awal yang saya tempuh pada saat itu adalah mengubah tajuk kejuaraan dalam surat undangan yang akan dikirim kepada pengurus Kota dan Kabupaten yang ada di Jawa Timur. Sebenarnya pada tahun 2011 telah saya ubah tajuknya, namun karena penyampaian saya kepada pengurus yang lain kala itu tidak tertulis (hanya lisan), menyebabkan redaksi (yang dibuat oleh pengurus yang bersangkutan) dalam surat undangan dan banner kejuaraan tidak sesuai dengan yang saya harapkan.

Alasan saya merubah tajuk kejuaraan, disamping karena perkembangan yang terjadi dalam tubuh organisasi sejak bulan Juli tahun 2010 (kata ‘cacat’ dihilangkan dan diganti dengan kata ‘paralimpik’, nama organisasinya pun juga mengalami perubahan, dari BPOC: Badan Pembina Olahraga Cacat, menjadi NPC: National Paralympic Committee), karena juga didasarkan pada keindahan berbahasa (dalam sudut pandang saya), selain itu saya ingin memberikan tanda adanya pergantian manajemen (hehehe, berlagak banget ya?). Tajuk awal yang berbunyi: “Kejurda BPOC Walikota Cup Surabaya” dan “Kejuaraan Daerah National Paralympic Committee Se Jawa Timur Dalam Rangka Memperebutkan Piala Bergilir Walikota Surabaya”, saya ubah menjadi: “Kejuaraan Daerah NPC Se-Jawa Timur Memperebutkan Piala Walikota Surabaya Tahun 2012”.

Berangkat dari bahan evaluasi kejurda tahun 2011, sebulan sebelum kejurda tahun 2012 dilaksanakan, saya telah membuat dan mengirimkan surat undangan kepada pengurus NPC Kota dan Kabupaten Se-Jawa Timur. Redaksi dalam surat undangan coba saya susun sesistematis mungkin (namun tanpa masif dan terstruktur, seperti bahasa dari Si Megalomania Delusional), terutama terkait dengan batas waktu pendaftaran. Dalam surat undangan, pada salah satu pointnya saya beri ketentuan jangka waktu pendaftaran. Pendaftaran dimulai sejak tanggal diterimanya undangan, dan apabila tidak mendaftar sesuai jangka waktu yang ditentukan (paling lambat satu minggu sebelum kejurda dilaksanakan), maka daerah terundang saya nyatakan tidak ikut serta. Beberapa pilihan media pendaftaran juga saya berikan untuk memudahkan proses pendaftaran, diantaranya melalui: Via Pos, Via Email, Via Facebook, dan Via SMS (sesuai contoh format pendaftaran).

Undangan yang saya kirim direspon baik oleh semua daerah terundang sesuai batas waktu yang telah ditentukan, buku acara pun bisa saya susun (tanpa perlu merepotkan atau meminta bantuan seorang rekan lagi untuk memasukan data pendaftaran) dengan segera, tanpa tergesa-gesa dan tersiksa seperti tahun sebelumnya. Dengan “entry by name dan entry by number” yang telah ada di tangan, buku acara dengan semangat saya kerjakan. Kejurda tahun 2012 pun terlaksana, untuk pertama kalinya dalam Kejurda NPC, buku acara dan nomor dada peserta bisa diterimakan kepada semua daerah pada saat technical meeting (sebelum pembukaan dan pada saat peserta baru berdatangan).

Pada tahun 2010, buku acara hanya dimiliki oleh panitia (karena hanya ditulis tangan). Pada tahun 2011, buku acara dimiliki oleh panitia dan daerah peserta kejurda hanya bisa melihat melalui papan pengumuman (karena keterbatasan waktu yang tersedia untuk bisa menggandakan buku acara, boro-boro bisa menggandakan, buku acara saja harus direvisi berulang kali, karena daerah yang berdatangan dan menyerahkan data pendaftaran tidak bersamaan, bahkan beberapa jam sebelum pembukaan kejurda dimulai pun masih ada yang mendaftar). Namun pada tahun 2012, setiap pos panitia pelaksana, dan setiap daerah yang ikut serta dalam kejurda menerima buku acara yang sangat berguna untuk mengikuti jalannya perlombaan (buku acara sangat diperlukan official untuk mengondisikan atletnya, terutama atlet tuna rungu wicara yang tidak bisa mendengar dan berbicara, dan atlet tuna netra yang tidak bisa melihat).

Konsep yang ada dalam kejurda tahun 2012, saya terapkan kembali pada tahun 2013 dan tahun 2014 (untuk tahun 2014 berlangsung pada tanggal 7 s.d. 9 Juni), tentunya dengan perbaikan-perbaikan yang didapat dari evaluasi yang saya lakukan setiap berakhirnya kejurda. Bersyukur dengan konsep yang ada, manajemen perlombaan menjadi mudah, meski jumlah peserta terus bertambah (sebagai catatan: tahun 2014 jumlah peserta 22 daerah, setiap daerah menurunkan 10 atlet, setiap atlet mengikuti 3 nomor lomba, tersedia 7 kategori kecacatan, yang dipertandingkan dan diperlombakan sebanyak 87 nomor: catur, nomor lintasan, tolak peluru, lompat jauh, lempar lembing, lempar cakram) dan beban kerja makin melimpah, karena harus mengerjakan administrasi yang terkait dengan hadiah uang tunai dan piagam penghargaan bagi peraih medali emas, perak dan perunggu.

Semua yang saya tempuh ini tidak lebih karena sebuah perjalanan iman, sebuah perjalanan dalam lapangan olahraga dengan mempersembahkan kemampuan yang telah Tuhan percayakan. Perjalanan iman yang saya tempuh ini merupakan bentuk lain dalam berteologi, karena selama ini saya memiliki pemahaman bahwa teologi itu bukan hanya pergumulan dan perjalanan iman yang tercatat dalam kitab suci, melainkan juga pergumulan dan perjalanan iman yang kita alami di dunia ini. Sebuah perjalanan yang saya tidak pernah tahu kapan berhentinya, saya pun tidak pernah tahu kemana saya harus menempuh perjalanan berikutnya, karena yang saya tahu hanya siap mengarungi pengembaraan apa pun medannya.

Menyadari kemungkinan adanya perjalanan berikutnya, maka dalam perjalanan saya di NPC Kota Surabaya pun telah coba saya lakukan pengaderan. Pengaderan tersebut saya lalukan pada seorang atlet (kategori 46: tangan kirinya hanya sepanjang bahu hingga siku) NPC Kota Surabaya yang baru saja menyelesaikan jenjang pendidikan menengah atas, bulan Maret 2014 lalu saat mengarahkannya untuk melanjutkan kuliah, sempat saya sampaikan: “Kamu boleh terlahir ke dalam dunia dengan kondisi seperti ini, bukanlah suatu rencana yang kebetulan. Kamu boleh tergabung dalam organisasi ini juga bukan karena kebetulan, kamu telah diberi kesempatan mengenal teman-teman dengan kondisi yang serupa, bahkan ada yang lebih miris kondisinya. Semua ini boleh kamu alami, karena Tuhan memberikan kesempatan kepadamu untuk menjadi jawaban buat mereka, dan bla… bla… bla…”

Singkat cerita, atlet tersebut saat ini telah diterima dalam Jurusan Pendidikan Luar Biasa pada salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya (sesuai dengan saran saya), dan dua minggu lalu saya sampaikan kembali kepadanya untuk mulai membantu setiap pengerjaan administrasi yang terkait dengan kepentingan organisasi. Saya tidak menjanjikan materi apa pun kepadanya, karena saya pun tidak mendapatkan materi (saya benar-benar tidak mendapatkan honor untuk pekerjaan ini, yang saya terima hanya sebatas uang transport pelatih yang diberikan setiap enam bulan sekali sebagai konsekuensi logis sebagai pelatih, bukan sebagai ‘tenaga administrasi’). Saya hanya menyampaikan kepadanya bahwa selama saya mengerjakan semua itu, kemampuan saya menggunakan MS Word, MS Excel, dan Power Point makin dipertajam (yang bisa berguna untuk mahasiswa baru seperti atlet tersebut). Terlebih saat kita tulus melayani sesama, terkadang berkat (sukacita, koneksi, dll.) akan datang sendiri–bila ada waktu luang untuk menulis note lagi, saya akan menceritakan tentang hal ini.

Pengaderan akan dimulai, saya benar-benar terbeban untuk pengaderan ini. Karena mungkin saja suatu saat saya harus melambaikan tangan untuk melanjutkan pengembaraan, maka semua yang telah diaktifkan tak terhenti dan tetap bisa berjalan. Mengingat kejurda NPC yang diselenggarakan oleh NPC Kota Surabaya setiap tahunnya, menjadi ajang eksistensi (dan tulang punggung pembinaan) bagi olahraga cacat di Jawa Timur. NPC Provinsi Jawa Timur selama ini belum mampu menyelenggarakan kejurda seperti yang diselenggarakan NPC Kota Surabaya, mengingat anggaran setiap tahunnya (yang bersumber dari dana hibah APBD Pemprov Jatim) untuk semua kegiatan kurang lebih hanya Rp 50 juta, sementara biaya untuk menyelenggarakan kejurda mencapai lebih dari Rp 80 juta (saya mengetahui hal ini secara pasti, karena saya selaku pengurus NPC Kota Surabaya dan NPC Provinsi Jawa Timur).

Demikian sedikit kisah saya saat coba mengaktifkan tempat di mana saya berada. Yuk, bareng-bareng kita mengaktifkan tempat di mana kita berada, apa pun yang menjadi persoalannya. Karena yang terpenting bukan aktif di mana-mana, tapi mengaktifkan setiap tempat di mana kita berada. Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: