Pahlawan Iman dan Pahlawan Perjuangan

Saat mendengarkan khotbah dalam sebuah ibadah yang saya ikuti kemarin pagi (9/11), pikiran saya mengembara keluar dari tema khotbah. Dalam doa yang dinaikan oleh pengkhotbah untuk mengawali khotbahnya, saya mendengar pengkhotbah tersebut mengucap syukur atas pengorbanan Yesus yang telah menanggung “derita” yang seharusnya menjadi “derita” kami. Dari isi doa pembukanya, saya coba menebak kalau isi khotbahnya akan bertemakan tentang pengorbanan. Yang kalau ditarik lebih jauh lagi tentang pengorbanan dari seorang pahlawan, mengingat momentumnya sedang menyongsong hari pahlawan (meski bukan sebuah keharusan).

Rupanya tebakan saya kurang tepat, khotbahnya berisikan tentang duka Raja Daud. Sama sekali tak disinggung tentang pahlawan, malah pengkhotbah tersebut menyampaikan bahwa seminggu yang lalu memang sempat terpikir akan menyampaikan tema pahlawan, namun urung disampaikan dengan alasan cerita-cerita tentang pahlawan (Gideon, Simson, dsb.) yang ada dalam Alkitab sudah sering dikhotbahkan. Meski tebakan saya kurang tepat (tak sesuai harapan), semua pesan yang disampaikan tetap saya dengarkan dan cermati baik-baik. Hingga tiba pada bagian pengkhotbah mulai menceritakan tentang pengalamannya digigit anjing, mulailah pikiran saya mengembara.

Dua kali pengkhotbah tersebut memiliki pengalaman digigit anjing pada bagian belakang tungkai bawah, dan kedua kali itu pula pengkhotbah tersebut harus masuk UGD, karena luka yang ditimbulkan dari gigitan anjing harus dijahit. Pengkhotbah tersebut menceritakan kronologis saat dirinya berada di UGD, saat akan disuntik (sebelum dijahit haruslah disuntik obat bius lebih dulu) pengkhotbah tersebut memohon ijin kepada dokter untuk kencing lebih dulu, dan keinginan untuk kencing tersebut sebenarnya dipicu oleh ketakutannya akan jarum suntik. Mendengar kata “takut jarum suntik” inilah pikiran saya makin mengembara meninggalkan yang disampaikan pengkhotbah.

Pikiran saya mengembara mencari titik temu tentang ketakutannya akan jarum suntik dengan doa pembuka yang berisikan tentang ucapan syukur atas pengorbanan Yesus yang telah menanggung “derita” yang seharusnya menjadi “derita” kami. Melihat ketakutannya akan jarum suntik (hingga tidak pernah berani untuk donor darah), maka sangat pantas dan layak bila pengkhotbah tersebut bersyukur. Di sinilah titik temunya: karena Yesus lebih tahu ada pengkhotbah (manusia-manusia) yang takut jarum suntik, maka Yesus tidak membiarkan pengkhotbah (manusia-manusia) yang takut jarum suntik itu dipaku pergelangan tangannya dengan jenis paku yang bisa menembus daging dan tulang (paku yang digunakan oleh Romawi Kuno untuk menyalibkan, berukuran panjang sekitar 13 cm sampai 18 cm, berbentuk persegi, dan lebar di setiap sisi sekitar 1 cm).

Boro-boro pengkhotbah tersebut berani dipaku (digantung) pergelangan tangannya (dan bisa menyobek hingga telapak tangan) di atas kayu salib, dengan jarum suntik saja sudah ketakutan. Pikiran saya pun terus mengembara, hingga khotbah dengan tema pahlawan pun saya dapatkan, meski pengkhotbah tidak menyentuh tema tersebut sama sekali. Melalui pengembaraan pikiran, saya dapat melihat siapa pahlawan dalam hidup pengkhotbah tersebut. Bahkan bukan hanya pahlawan dalam hidup pengkhotbah tersebut, tapi juga pahlawan dalam hidup kita. Yesus adalah Pahlawan Iman bagi kita, derita keji yang seharusnya menjadi derita bagi kita sebagai upah dari perbuatan-perbuatan dosa, semua telah digantikan oleh Yesus dengan cuma-cuma. Jangan biarkan semua pengorbanan yang diberikan dengan cuma-cuma itu berlalu percuma, tapi mari bersama direspon dengan percaya dan tindakan nyata.

Setelah berakhirnya khotbah, tak lupa pula saya menaikan syukur atas hidup ribuan pahlawan perjuangan yang babak belur dan berguguran mempertahankan kemerdekaan pada 10 November 1945. Tanpa ada “derita” dari ribuan pahlawan perjuangan itu, mungkin hingga saat ini penjajahan akan tetap menjadi “derita” kita. Jangan biarkan semua pengorbanan pahlawan perjuangan dalam melawan kekuatan kolonial itu berlalu percuma, meski pada saat itu perang tidak mereka menangkan, tapi karena perjuangan merekalah yang membuat dunia internasional mengarahkan perhatiannya kepada Indonesia untuk memberi tekanan kepada kekuatan kolonial supaya menghentikan penjajahan. Mari bersama melanjutkan perjuangan mereka melalui kerja, kerja, dan kerja (prestasi) di bidang masing-masing, hingga mata dunia internasional tertuju kepada kita.

Hari Pahlawan di Kota Pahlawan, 10 November 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: