Menghamburkan Uang, Saat Yang Lain Membutuhkan

Semalam saya bersama seorang rekan menemui seseorang dari Jakarta yang selama beberapa hari ini menjadi narasumber dalam sebuah diklat olahraga di Kota Surabaya. Kami menemui seseorang tersebut di sebuah cafe and lounge dari sebuah hotel yang menjadi tempat menginapnya. Selama 3,5 jam kami ngobrol “ngalor ngidul” tentang olahraga dan seluk beluk organisasi sosial (di bidang olahraga) yang sama-sama “menjadi baju” kami. Selama ngobrol “ngalor ngidul”, terkadang pandangan kami tertuju kepada pengunjung lain. Mau tak mau pasti terlihat oleh mata kami juga, karena ruangan dari cafe and lounge (yang semua karyawan prianya mengenakan anting di telinga kirinya) ini tergolong kecil.

Ternyata ngobrolin yang tentang (organisasi) sosial-sosial di tempat seperti ini “sakitnya tuh di sini”. Timpang sekali obrolan kami dengan suasana yang ada, di saat pengunjung yang lain dengan mudahnya pesan banyak menu (yang dalam pandangan saya, pesanannya tak berguna) yang tak bisa dibilang murah harganya untuk orang berpenghasilan Rp 5jt/bulan sekalipun, sementara obrolan kami tentang sulitnya pendanaan organisasi sosial yang menyebabkan tujuan dari organisasi untuk bisa menolong orang lain (ditempuh dengan “kendaraan” olahraga) tak akan tercapai.

Selama 3,5 jam, saya melihat uang dihamburkan-hamburkan hanya untuk berbotol-botol wine yang sama sekali nggak cocok diminum untuk suhu Kota Surabaya yang seperti neraka bocor ini. Selama 3,5 jam, saya juga melihat sekumpulan muda-mudi memesan bir hitam berulang kali (setelah habis pesan lagi, setelah habis pesan lagi, dst.) untuk menemani obrolan mereka yang tak tahu kapan dan di mana berakhirnya. Di mana berakhirnya? Ya, tempat ini adalah cafe and lounge yang jadi satu dengan hotel berkelas (biaya check in-nya mahal), jadi ya ngerti sendiri-lah lantunan dari lagu lama yang kasetnya selalu baru.

Sakitnya tuh benar-benar terasa di sini, ketimpangan sosial benar-benar terjadi. Seandainya uang yang dihambur-hamburkan itu tersalurkan untuk kegiatan sosial yang sedang kami obrolkan, dampaknya pasti akan sangat besar: bisa digunakan untuk memanusiakan manusia (yang bapak ibunya sekalipun akan kesulitan berkomunikasi dengan manusia-manusia tersebut, karena retardasi mental yang dialaminya).

Melihat ketimpangan sosial seperti itu, maka sudah selayaknya terjadi pengurangan subsidi bbm oleh pemerintah. Mereka yang menghambur-hamburkan uang itu pasti merupakan penikmat bensin subsidi. Dengan dikurangi subsidi bbm untuk mereka, semoga gaya hidup mereka bisa berubah (kelihatannya nggak bakal berubah, karena nggak ngefek bagi mereka karena naiknya hanya dua ribu rupiah, sementara yang dihambur-hamburkan lebih dari seratus kali lipat). Terlebih lagi, dengan dikuranginya subsidi bbm, semoga organisasi sosial yang kami obrolkan semalam terdampak komitmen dari kebijakan pengalihan subsidi bbm ke sektor pembangunan (manusia) lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: