Mengawali Perjalanan dengan Janji Pernikahan

Sejak 2 Juli 2014, kami telah mempersiapkannya. Pada tanggal tersebut, saya bersama dengan tunangan mengambil formulir pendaftaran pemberkatan pernikahan kami di salah satu gereja di Kota Surabaya. Sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan oleh gereja tersebut, kami mengambil formulir pendaftaran enam bulan sebelum tanggal pemberkatan pernikahan dilangsungkan. Pada tanggal tersebut, kami menerima formulir pendaftaran (dengan kode 02.07.14), dan mendapatkan penjelasan yang sistematis terkait dengan syarat-syarat yang harus dilampirkan pada formulir pendaftaran.

Keesokan harinya, kami mulai mempersiapkan syarat-syarat yang harus dilampirkan pada formulir pendaftaran. Diawali dengan meminta surat pengantar RT/RW guna melakukan pengurusan surat keterangan untuk menikah dan Model N1-N4 dari kelurahan. Selain melakukan pengurusan surat, kami juga mempersiapkan data pribadi kami masing-masing (fotocopy rangkap tiga) seperti: KTP, KK, surat baptis selam, akta kelahiran, akta pernikahan orang tua, surat pernyataan kedua mempelai, dan surat persetujuan orang tua. Tak lupa pula, kami berdua pergi ke studio photo untuk foto bersama, karena dalam persyaratan harus dilampirkan foto berdua mengenakan full dress (berwarna, ukuran 4×6 cm, background putih), dan pada waktu foto posisi pria berada di sebelah kanan wanita.

Tak terasa, di tengah kesibukan kami sehari-hari, semua syarat yang harus dilampirkan telah berhasil kami lengkapi. Pada tanggal 12 September 2014, saya menyerahkan kembali formulir pendaftaran. Selang tiga hari setelah saya menyerahkan formulir pendaftaran, pada tanggal 16 September 2014 kami berdua mengikuti kelas bimbingan pra nikah. Dalam kelas bimbingan pra nikah tersebut, seharian kami menerima pembekalan terkait dengan persiapan yang harus kami lakukan menjelang tanggal pemberkatan pernikahan, dan pembekalan saat kelak telah berada dalam pernikahan.

Seusai mengikuti kelas bimbingan pra nikah, pada hari yang sama kami berdua menuju ke salah satu restoran di Surabaya Pusat. Salah satu restoran yang menjadi pilihan kami untuk tempat berlangsungnya acara pengucapan syukur setelah pemberkatan pernikahan dilangsungkan. Pilihan kami tersebut sebenarnya muncul tidak lama sebelum kami mengikuti kelas bimbingan pra nikah, karena kesepakatan kami untuk mengadakan acara pengucapan syukur pun baru muncul belakangan (saat kami mempersiapkan syarat-syarat yang harus dilampirkan pada formulir pendaftaran).

Kesepakatan untuk mengadakan pengucapan syukur yang muncul belakangan, bukan dikarenakan kurang persiapan, tapi karena sejak awal kami tidak menginginkan diadakan acara apa pun setelah pemberkatan pernikahan. Sumber utama dari tercetusnya keinginan itu sebenarnya muncul dari diri saya pribadi, sejak setahun yang lalu saya telah menyampaikan kepada keluarga calon isteri, menjelaskan sebaik mungkin alasan saya tidak mengadakan pesta atau resepsi pernikahan, selain pemberkatan pernikahan di gereja. Alasan yang saya sampaikan kala itu cukup sederhana: karena kami berdua ingin menabung untuk kehidupan pernikahan yang jauh lebih panjang perjalanannya, dibanding dengan pesta pernikahan yang hanya semalam (atau beberapa hari bila menggunakan pesta adat), namun bisa menelan dana yang mungkin panjangnya bersaing dengan perjalanan kami dalam kehidupan pernikahan.

Alasan yang saya sampaikan kepada keluarga calon isteri memang cukup sederhana, tapi alasan yang jauh lebih rinci telah saya sampaikan kepada calon isteri. Alasan tersebut terkait dengan prinsip yang saya miliki, prinsip yang terbentuk dalam diri setelah belajar dari kehidupan yang telah saya lalui. Proses belajar itu bermula dari (seringnya) bersentuhan dengan prosesi pernikahan (menghadiri resepsi pernikahan, mendengar obrolan orang tentang pernikahan, dsb.). Cukup banyak yang bisa saya pelajari tentang pernikahan, namun yang ingin saya kemukakan di sini hanya satu hal yang menjadi penekanan saya, satu hal itu adalah Buwuh. Buwuh (biasa disebut juga dengan: Angpau)? Ya, Buwuh yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti: uang atau bahan yang diberikan oleh tamu kepada tuan rumah sebagai sumbangan suatu upacara atau pesta.

Melalui proses belajar yang telah saya lalui, maka saya berkomitmen tidak akan membiarkan diri saya “tertimpa oleh buwuh”. Kok tertimpa oleh buwuh? Memangnya buwuh itu musibah? Hingga harus menggunakan kata tertimpa? Entahlah, buwuh itu musibah atau bukan. Namun bagi saya pribadi, hanya membayangkannya saja, sudah tidak ada damai sejahtera, apalagi harus mengalaminya secara nyata. Tak ada rasa damai sejahtera itu pun tidak muncul tiba-tiba, banyak hal yang boleh saya jumpai terkait dengan buwuh selama ada dalam proses belajar, yang tanpa disadari telah menumbuhkan rasa itu dalam jiwa. Karena ada dalam jiwa, maka saya tidak akan coba-coba bermain dengan wilayah itu, karena mungkin saja resikonya adalah gangguan jiwa.

Sebagian kecil yang bisa saya catat tentang buwuh, hingga mengantarkan saya pada titik tidak ingin tertimpa olehnya, di antaranya sebagai berikut (hal tersebut saya tulis bukan karena tujuan menyudutkan atau menyerang pihak yang berbeda pandangan tentang buwuh, hanya sekadar berbagi apa yang saya rasakan): 1) Buwuh seringkali merusak hubungan pertemanan atau persaudaraan. Dalam tradisi tertentu, buwuh seringkali diberikan sebagai bentuk piutang. Karena sebagai bentuk piutang, maka uang yang pernah diberikan dapat ditagih kembali. Cara menagihnya adalah dengan balas mengundang orang yang pernah dipiutangi ke pesta pernikahannya, sederhananya gini: “Gue dulu kan dateng ngasih angpau (buwuh) ke nikahan Loe, sekarang gantian Loe dateng ke nikahan Gue buat ngasih angpau (buwuh) dong.” Saat tradisi tersebut tidak dijalankan, orang yang pernah dipiutangi tidak menghadiri pesta orang yang pernah memiutanginya, maka saat itulah hubungan mereka menjadi rusak: tidak saling sapa, tidak dianggap lagi sebagai teman atau saudara, dsb. Peristiwa ini benar-benar terjadi dalam tradisi tertentu yang pernah saya jumpai, bahkan dalam tradisi tersebut besaran nominal buwuhnya akan dicatat oleh panitia penerima buwuh, supaya tertib administrasi dan memudahkan untuk melihat rekam jejak nominal buwuh yang harus dikembalikan kelak.

2) Buwuh seringkali menjadi beban bagi sebagian besar orang, hal ini terbukti dari ungkapan banyak orang yang pernah saya dengar: “Wah, undangan nikah bulan ini banyak banget.” Kalau ungkapannya hanya berhenti sampai di situ sih tak jadi masalah, tapi masalahnya ungkapan itu seringkali bertambah panjang rangkaian gerbongnya: “Bisa tekor kalau semua undangan harus dihadiri. Nggak semua lah dihadiri, dipilih yang penting-penting aja, yang ini gak usah dihadiri karena gak pernah merasa dipiutangi, kalau yang ini harus dihadiri karena pernah memiutangi, dsb.” Dari ungkapan banyak orang tersebut bisa dipahami bahwa buwuh menjadi beban dan duka bagi orang yang diundang. Bila bukan merupakan beban, mengapa harus menimbang untung rugi, balas budi, dsb.? Bila bukan merupakan duka, mengapa harus mengeluh saat banyak undangan berdatangan? Bila bukan merupakan beban dan duka, mengapa tidak memutuskan untuk menghadiri undangan dengan motivasi memberkati melalui buwuh dan turut bersukacita bersama?

3) Buwuh seringkali menjadikan seseorang tak dikenali lagi dirinya, karena buwuh seringkali dianggap sebagai biaya yang telah dikeluarkan untuk bisa makan sepuasnya. Bisa dipastikan dan bisa disaksikan dalam setiap resepsi pernikahan yang menggunakan konsep prasmanan, orang-orang yang memiliki anggapan seperti itu akan membabi buta menyantap berbagai menu yang dihidangkan, tak peduli menu yang disantap itu apakah takarannya secara umum sudah cukup atau jauh melebihi jatah untuk satu orang. Maka tak perlu heran, bila kita sering menjumpai hidangan makan dalam sebuah resepsi pernikahan yang habis lebih dulu sebelum keseluruhan tamu berdatangan. Dan akibat dari semua ini adalah membuat malu tuan rumah yang sebenarnya telah menyediakan menu makanan sesuai dengan daftar undangan, bahkan menyediakannya dua kali lipat dari daftar undangan yang ada, karena biasanya satu undangan berlaku untuk pasangan suami isteri.

4) Buwuh seringkali dijadikan alat untuk orang bebas/berhak memberikan kritik terhadap tuan rumah atas berlangsungnya sebuah pesta pernikahan. Seringkali mereka yang merasa sudah memberikan buwuh, mengkritik apa yang dihidangkan tuan rumah, memikirkan untung rugi dari buwuh yang sudah dikeluarkan dengan apa yang bisa didapat dari sebuah pesta. Apakah nominal buwuh yang sudah diberikan, sebanding dengan menu makanan yang didapatkan? Apakah nominal buwuh yang sudah diberikan, sebanding dengan souvenir yang didapatkan? Bahkan tak jarang saya mendengar kritik yang menyakitkan tentang berlangsungnya sebuah resepsi pernikahan, seperti: “Makannya hanya menggunakan piring terbang, kelihatan banget cari untungnya (artinya piring terbang: menu makanan yang disajikan tidak menggunakan konsep prasmanan, melainkan hanya menggunakan piring yang berisikan nasi dengan menu tertentu yang sudah ditakarkan dalam piring, lalu dibagi-bagikan kepada tamu undangan).

5) Buwuh seringkali menjadi sumber petaka bagi keluarga kedua mempelai. Kehidupan berumah tangga belum dijalani, tapi pertengkaran sudah terjadi di hari pertama pernikahan. Pernahkah mendengar ribut-ribut pembagian isi kotak angpau atau buwuh? Bila tidak pernah mendengar tentang ribut-ribut itu, pernahkah melihat ada dua kotak angpau atau buwuh yang terpisah, satu kotak untuk keluarga A, lalu satu kotak lagi untuk keluarga B? Biasanya hal tersebut terjadi dalam sebuah pesta pernikahan yang dijadikan satu tamu undangannya (baik dari mempelai pria maupun wanita) dalam satu kesempatan. Meski sudah dipisahkan seperti itu pun, saya pribadi pernah menjumpai ribut-ribut karena ada beberapa amplop buwuh yang “salah kamar”, bahkan ribut-ributnya terjadi sebelum pesta berakhir.

6) Buwuh seringkali menjadi tolak ukur “keberhasilan” dari sebuah resepsi pernikahan. Rasa senang atau sedih dari sebuah (resepsi) pernikahan diukur dari berapa banyak buwuh yang bisa didapat. Rasa senang akan menghinggapi tuan rumah, bila buwuh yang didapat melebihi modal yang telah dikeluarkan, tanpa peduli latar belakang tamu undangan dalam memberikan buwuh itu (dari mana asal uangnya, dengan perasaan seperti apa saat memberi, dengan keadaan seperti apa saat memberi—bila tamu undangan terpaksa hadir karena sungkan, lalu memberi dalam keadaan sedang susah, bukankah itu namanya menari di atas penderitaan orang lain?). Sebaliknya, rasa sedih akan menghinggapi tuan rumah, bila buwuh yang didapat jauh dari modal yang telah dikeluarkan, bahkan sampai menyisakan hutang.

Singkat cerita, akhirnya acara pengucapan syukur (resepsi) kami adakan dengan “syarat dan ketentuan berlaku”, syarat dan ketentuan tersebut adalah tidak menerima buwuh dan kado dalam bentuk apa pun. Keputusan awal yang saya miliki (untuk tidak mengadakan pesta atau resepsi pernikahan) harus saya revisi, karena terlalu egois bila saya tetap mempertahankan yang menjadi keputusan awal saya. Revisi yang saya lakukan, didasari karena (salah satu) pertimbangan: calon isteri saya adalah anak sulung yang adik-adiknya belum ada yang menikah, sementara dalam budaya kita (pandangan banyak orang tua di Indonesia), momen pernikahan seorang anak pasti dinanti-nantikan oleh orang tuanya. Ketika orang tua (seorang ibu) melahirkan seorang anak, harapan-harapan yang indah akan masa depan seorang anak pasti dimilikinya. Saat anak masih kecil akan dibesarkan, lalu ketika sudah besar (usia mencukupi untuk sekolah) akan diberikan pendidikan yang terbaik hingga jenjang pendidikan yang tinggi, setelah itu pasti harapan berikutnya adalah seorang anak bisa melayani sesama (bekerja, dsb.) dan membangun keluarga dalam ikatan pernikahan. Setelah menimbang dan memperhatikan hal-hal yang seperti itu, keputusan untuk mengadakan acara pengucapan syukur (resepsi) pun muncul. Di samping itu, tak dipungkiri (dugaan saya) kedua orang tua saya pasti juga menantikan momen pernikahan saya, meski mereka sudah pernah mengantarkan anak yang lainnya (kakak saya) dalam bahtera pernikahan.

Dengan didasari pertimbangan untuk memberikan penghormatan kepada orang tua kami seperti yang telah tertulis dalam paragraf di sebelumnya, sebagai bentuk lain memberikan penghormatan kepada Tuhan (karena menghormati wakil Tuhan yang ada di dunia, sama halnya dengan menghormati Tuhan yang ada sorga), maka pada salah satu restoran di Surabaya Pusat akhirnya kami memilih paket pernikahan yang lengkap isinya dengan jamuan makan dengan konsep prasmanan (beberapa menu), dekorasi pelaminan, electone dan singer (awalnya kami ingin memilih band, tapi karena pertimbangan terlalu “berisik”, akhirnya kami urungkan). Pada salah satu restoran tersebut, kami membayar biaya paket pernikahan yang telah ditentukan untuk memberikan penghormatan kepada orang tua kami.

Selesai kami memastikan penggunaan tempat berlangsungnya acara pengucapan syukur, kami pun kembali pada kesibukan kami masing-masing. Hingga sebulan berikutnya, pada tanggal 24 Oktober 2014 kami kembali melakukan persiapan terkait dengan acara pengucapan syukur. Kali ini yang kami persiapkan adalah memesan mug sesuai jumlah tamu undangan pada salah satu tempat di Surabaya Timur yang biasa mengerjakan pembuatan mug untuk souvenir. Mug tersebut kami pesan sebagai simbol ucapan terima kasih kami kepada tamu undangan yang telah mendedikasikan waktunya untuk menghadiri acara pengucapan syukur pernikahan kami (catatan selengkapnya tentang bagian ini bisa dibaca di sini: https://roysoselisa.wordpress.com/2014/12/20/nahkoda-agung-dari-bahtera-pernikahan/).

Dua hari setelah kami memesan mug untuk souvenir, pada tanggal 26 Oktober 2014 kami melakukan persiapan berikutnya dengan mengunjungi salah satu graha bridal yang ada di Surabaya Timur. Kunjungan kami ke graha bridal tersebut membuahkan sebuah transaksi untuk penggunaan paket pernikahan terkait dengan gaun dan make up untuk hari pernikahan kami. Dengan selesainya transaksi tersebut, kami tidak perlu memikirkan kembali tentang gaun dan make up untuk mempelai wanita, dua mama kami, dan saudara-saudara wanita kami.

Lalu selang dua hari, pada tanggal 28 Oktober 2014 kami kembali melakukan persiapan berikutnya dengan mengunjungi salah satu digital photo & video studio yang tak jauh dari graha bridal yang telah kami kunjungi. Kunjungan kami ke digital photo & video studio pun membuahkan sebuah transaksi untuk penggunaan jasa pengerjaan dokumentasi pernikahan dalam bentuk foto dan video. Alasan kami menggunakan jasa tersebut cukup sederhana, karena kami menginginkan sebuah dokumentasi yang bukan hanya kami berdua yang bisa mengenangnya, tapi keluarga besar kami yang jauh dari kami juga bisa mengenangnya, dan terlebih lagi bisa kami gunakan sebagai bahan cerita untuk generasi selanjutnya (anak-anak kami).

Satu minggu berikutnya, pada tanggal 3 November 2014 kami melakukan persiapan yang terkait dengan jas untuk mempelai pria. Saya memutuskan tidak memakai jas yang disediakan oleh graha bridal yang menjadi pilihan kami, karena memang fokus dari graha bridal tersebut hanya untuk mempelai wanita, jadi bisa dimaklumi bila koleksi jas-nya terbatas (berbeda dengan koleksi gaunnya yang seabrek). Maka mencari jas pernikahan di tempat lain pun jadi pilihan kami, pada salah satu tempat jahit jas pernikahan di Surabaya Barat, saya menemukan desain jas yang sesuai dengan harapan, sederhana desainnya dan yang terpenting berwarna hitam.

Setelah semua persiapan yang kami lakukan hampir selesai, tak lupa pula saya melaporkan rencana kami untuk melakukan pencatatan perkawinan di Kantor Dispendukcapil Kota Surabaya (ketentuan baru yang berlaku: sebulan sebelum dilangsungkan pemberkatan pernikahan, mempelai harus melaporkan rencana pencatatan perkawinan di Dispendukcapil, sebulan kemudian setelah surat keterangan pemberkatan pernikahan dari gereja telah diterima oleh mempelai, barulah pencatatan perkawinan dapat dilangsungkan), guna diterbitkan akta perkawinan sebagai legalitas data kependudukan dan lain-lain yang terkait dengan kami nantinya. Pada tanggal 18 November 2014, saya pun membawa semua persyaratan yang telah ditentukan disertai dengan surat pengantar dari gereja (persyaratan yang ditentukan sama dengan persyaratan yang digunakan untuk mendaftarkan pemberkatan pernikahan di gereja, yang membedakan hanyalah isian formulir pendaftarannya) ke Kantor Dispendukcapil Kota Surabaya untuk segera diproses.

Usai melapor ke Dispendukcapil, bagian akhir dari semua persiapan kami adalah membuat undangan. Pada bagian akhir inilah kami sangat memberikan perhatian, khususnya bagi saya pribadi karena terkait dengan prinsip yang saya miliki. Setelah siang harinya saya ke Dispendukcapil, pada malam harinya kami mengunjungi salah satu Offset & Digital Printing di Surabaya Timur. Dengan membawa bahan desain (sebelumnya telah digunakan juga untuk desain dari souvenir kami) dalam format JPEG dan kata-kata yang telah kami susun untuk digunakan dalam undangan. Sebagian kata-kata dalam undangan itu berbunyi sebagai berikut: 1) Kalimat pembukanya: Dia yang memiliki ide tentang pernikahan, Dia yang mempertemukan dan mempersatukan dalam bahtera pernikahan, Dia pula yang menjadi Nahkoda Agung dari bahtera pernikahan. 2) Kalimat penutupnya: Kehadiran Anda sudah cukup berarti bagi kami, oleh sebab itu kami tidak menerima buwuh & kado dalam bentuk apa pun !!!

Kurang dari dua jam, proses pembuatan undangan yang dicetak pada sebuah kertas (undangan) berjenis: jasmine & art paper, telah selesai dikerjakan dan langsung kami bawa pulang. Undangan yang kami cetak hanya berjumlah 115 lembar, karena menyesuaikan dengan jumlah souvenir yang kami sediakan (satu undangan, satu souvenir), dan menu makanan yang telah kami pesan (estimasi: satu undangan, dua orang yang hadir). Daftar tamu undangan tersebut meliputi keluarga, rekan kerja, dan teman-teman kami (mestinya kami masih ingin mengundang lebih banyak orang, namun karena didasari rasa sungkan bila harus merepotkan banyak orang, maka undangan pun kami batasi). Alasan diadakannya acara pengucapan syukur selain untuk memberikan penghormatan kepada orang tua kami, sebenarnya juga karena didasari alasan kami ingin berbagi sukacita (telah dipertemukan dan dipersatukan dalam bahtera pernikahan) yang kami rasakan kepada orang lain.

Karena sukacita yang kami rasakan itulah, maka kami ingin berbagi sukacita, bukan berbagi beban dengan “memungut buwuh” dalam acara pengucapan syukur (resepsi) kami. Selain itu, kami juga ingin menerapkan cara berteologi kami dalam hubungan dengan sesama. Jika kami dalam konsep beribadah kepada Tuhan selalu berusaha sekeras mungkin untuk tidak mencari keuntungan (tidak memiliki kecenderungan: “apa yang bisa didapat dari Tuhan”, melainkan memiliki kecenderungan: “apa yang bisa diberikan kepada Tuhan”), maka dalam berhubungan dengan sesama pun kami ingin memiliki konsep yang serupa.

Singkat cerita, undangan pun kami sebar sejak dua minggu lalu (6/12/2014). Dari semua undangan yang kami sediakan, kami antar satu per satu hingga ke tangan yang bersangkutan (hanya satu undangan yang kami titipkan, karena tidak memungkinkan untuk bertemu yang bersangkutan), bahkan tiga undangan yang beralamatkan di luar Kota Surabaya pun kami berdua yang mengantarnya sendiri (meski harus kehujanan dan nyaris kecelakaan untuk itu). Di tempat kerja, kami juga berusaha memberikannya satu per satu hingga ke tangan yang bersangkutan, tidak ada undangan yang kami letakan di meja kerja yang bersangkutan atau kami titipkan kepada rekan kerja yang lain.

Tujuan kami mengantarnya sendiri, tentu karena didasari alasan yang berarti, salah satunya adalah karena fungsi undangan untuk memohon kehadiran tamu yang bersangkutan ke acara kami, maka bila kami memohon tamu undangan untuk mendedikasikan waktunya, kami pun harus mendedikasikan waktu untuk menyampaikan sendiri undangan tersebut, bukan menitipkannya kepada orang lain atau menggunakan jasa tukang pos (karena kami pun tidak menginginkan kehadiran mereka diwakili oleh tukang pos).

Selain itu, kami ingin merasakan “sensasi-nya” saat membagikan undangan, dan setelah kami rasakan sendiri “sensasi-nya”, cukup sekali seumur hidup saja memiliki sensasi seperti itu. Karena rupanya, undangan pernikahan seringkali menjadi beban (seperti yang telah saya tulis tentang buwuh), terbukti dengan ungkapan-ungkapan: (1) “Cari uang receh ya? (2) Wah, enak ya nikah bulan Desember, dingin karena musim hujan, tapi bagi tamunya yang nggak enak nih, kehujanan kalau datang resepsi.” Tanpa basa-basi, sebelum undangan kami dibuka pun, sudah terlontar ungkapan seperti itu, hehehe. Meski ada juga sih yang menyejukan hati, karena ketika undangan kami diterima, mereka turut bersukacita bersama kami, dengan mengucapkan: “Alhamdulilah.”

Dua minggu berlalu, tak terasa semua persiapan telah kami lalui dalam penyertaan Tuhan, dan tepat pada hari ini tanggal 19 Desember 2014 semuanya boleh berjalan dengan baik. Dimulai dengan make up bagi mempelai wanita sejak pukul 05.00 WIB, lalu dilangsungkan pemberkatan pernikahan pada pukul 12.00 WIB, setelahnya kami kembali ke bridal untuk retouch make up, dan pada pukul 15.30 WIB kami meluncur ke restoran untuk melangsungkan acara pengucapan syukur pernikahan. Run down acara pengucapan syukur kami berdua susun sesederhana mungkin, dengan susunan acara sebagai berikut: 1) Pukul 17.30 s.d. 18.00 WIB: Tamu undangan hadir (penukaran souvenir) 2) Pukul 18.00 s.d. 18.10 WIB: Prosesi Mempelai memasuki ruang acara pengucapan syukur 3) Pukul 18.10 s.d. 18.25 WIB: Pengucapan syukur dan terima kasih oleh Mempelai 4) Pukul 18.25 s.d. selesai: Sesi foto dan makan bersama.

Akhir kata, syukur tiada terkira kami panjatkan kepada Sang Nahkoda Agung yang telah memberikan hikmat dan kekuatan kepada kami berdua untuk mengawali perjalanan pernikahan. Sang Nahkoda Agung yang kami ceritakan dalam acara pengucapan syukur pernikahan kami, melalui pembacaan narasi (yang kami susun berdua seminggu yang lalu) oleh MC yang mengiringi prosesi saat kami memasuki ruang acara pengucapan syukur. Sang Nahkoda Agung yang hari ini telah membuat kami terkagum dengan pekerjaan tangan-Nya, bila pada masa lampau Sang Nahkoda Agung pernah membuat mujizat dalam pesta pernikahan, maka pada hari ini mujizat dikerjakan-Nya juga dalam pesta pernikahan kami, salah satunya seperti yang kami rasakan pada keadaan langit Surabaya yang cerah sepanjang hari ini di sekitar lokasi kami melangsungkan pemberkatan pernikahan dan acara pengucapan syukur (padahal hari-hari sebelumnya turun hujan disertai banjir), selain itu mujizat lainnya yang dengan jelas kami berdua rasakan melalui strategi-strategi jitu yang dikerjakan-Nya terkait dengan penyelenggaraan acara pengucapan syukur. Segala kemuliaan hanya bagi Sang Nahkoda Agung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: