Nahkoda Agung Dari Bahtera Pernikahan

Saat senja menjelang pada tanggal 24 Oktober 2014, kami berdua menuju ke salah satu tempat pembuatan mug di Surabaya Timur. Tujuan kami ke tempat tersebut karena hendak memesan sejumlah mug yang akan kami gunakan sebagai souvenir dalam acara pengucapan syukur pernikahan kami. Kami memesan mug tersebut sebagai simbol ucapan terima kasih kami kepada tamu undangan yang telah mendedikasikan waktunya untuk menghadiri acara pengucapan syukur pernikahan kami.

Awal mula kami menuju ke tempat pembuatan mug tersebut, kami hanya mengantongi kata-kata yang pernah menjadi bahasan dalam perbincangan kami, dan pernah saya “abadikan” dalam paragraf akhir dari sebuah note (http://goo.gl/6sZn5p) yang saya kutip sbb: “Tuhan tak pernah memberikan pasangan yang sempurna, karena ketidaksempurnaan yang dimiliki pasangan adalah tempat yang disisakan oleh Tuhan untuk kamu lengkapi.” Hanya kata-kata itulah yang kami inginkan untuk dicetak pada dinding bagian luar dari mug yang menjadi souvenir dari acara kami.

Namun, saat kami tiba di tempat pembuatan mug, imajinasi kami makin berkembang. Bukanlah suatu kebetulan, di tempat pembuatan mug tersebut kami boleh melihat pigura ukuran 16 R yang berisikan karikatur wajah seorang wanita. Ketika melihat karikatur yang dipajang, kami pun menanyakan kepada karyawan dari tempat pembuatan mug: “Apakah tempat ini juga melayani pembuatan karikatur?” Dan ketika jawaban iya yang meluncur, imajinasi kami pun menjadi terbuka lebih jauh, imajinasi yang mengantarkan kami pada keputusan untuk tidak hanya menggunakan kata-kata yang telah kami kantongi, tapi juga menggunakan karikatur wajah kami berdua untuk dicetak pada dinding bagian luar dari mug.

Keputusan untuk menggunakan karikatur telah kami ambil, namun tema dari karikatur masih belum kami temukan. Sehingga pada kunjungan kami yang pertama ke tempat pembuatan mug tersebut, kami hanya melakukan pembayaran untuk pembelian sejumlah mug, jasa pembuatan karikatur, pigura ukuran 16 R, dan kertas foto ukuran 16 R untuk mencetak hasil karikatur wajah kami berdua. Sementara untuk tema dari karikaturnya, kami putuskan untuk menginformasikannya bersamaan dengan kami menyerahkan file foto kami berdua yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan karikatur.

Sepulang dari tempat pembuatan mug tersebut, kami sempatkan untuk diskusi tentang tema yang akan kami gunakan. Setelah tema bercandaan sempat tercetus dari bibir saya, sbb: karikatur yang menggambarkan kami berdua sedang berdiri mengenakan baju pengantin di tengah-tengah Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang padat jenazah, dan tema bercandaan lainnya seperti: kami berdua sedang berdiri mengenakan baju pengantin di tengah-tengah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang latar belakangnya adalah tumpukan sampah yang menggunung. Dan akhirnya, tema yang “waras” (bukan tema bercandaan lagi) pun tercetus dari “bibir kudus” Elfrita Shanty. Hihihi.

Tema yang dicetuskan oleh Elfrita Shanty adalah kami sedang berdiri di atas perahu yang berada di tengah lautan, tema tersebut memberikan gambaran kami telah disatukan dalam bahtera pernikahan (bahtera dalam KBBI memiliki arti: perahu; kapal). Setelah dicetuskan tema tersebut, saya pun langsung menyambutnya dengan antusias, dan makin hiduplah kata-kata yang sejak awal telah kami kantongi untuk “saling melengkapi”. Ide yang masih prematur tentang perahu yang berada di tengah lautan itu, saya lengkapi dengan ide-ide berikutnya untuk membuatnya makin matang.

Usaha saya untuk melengkapi ide yang berharga itu adalah dengan cara memberikan sentuhan tertentu dalam tema karikatur, dengan harapan ada filosofi yang tersampaikan melalui karikatur sederhana yang berisikan wajah kami berdua. Setelah saya melengkapi ide awal dan kami lanjutkan dengan diskusi singkat untuk menyepakati tema karikatur yang telah saya lengkapi, maka lahirlah sebuah karikatur dari buah pikiran kami bersama, yang kami yakini datangnya ide (rancangan yang tersusun di dalam pikiran) itu dari Sang Hikmat.

Buah dari pikiran kami bersama itu coba kami tuangkan lebih dulu dalam coretan gambar sederhana pada satu lembar kertas HVS, untuk memudahkan kami dalam memberikan penjelasan dan memudahkan karikaturis dalam memahaminya. Coretan gambar sederhana (dengan didukung file JPEG dari google yang kami siapkan tersendiri, untuk memberikan gambaran bentuk kapal, dll. yang kami inginkan dalam bentuk nyatanya) pun coba kami goreskan: kami berdua mengenakan baju pengantin, sedang berdiri di atas bahtera yang sedang berlayar di tengah lautan (desain bahtera yang kami pilih adalah desain kapal yang banyak dijumpai pada zaman Romawi kuno, karena kesan seninya lebih dapat).

Lalu pada lambung bahtera yang sedang berlayar itu, di bagian luarnya tertulis kata-kata: The Truth & The Life. Kata-kata tersebut merupakan kutipan perkataan dari yang memiliki ide tentang pernikahan (ide tentang pernikahan dimulai sejak Allah menciptakan laki-laki dan perempuan, sejak Allah menciptakan Adam dan Hawa), yang telah mempertemukan dan mempersatukan kami dalam bahtera pernikahan, yang sekaligus menjadi Nahkoda Agung dalam bahtera pernikahan kami. Perkataan yang lengkapnya dalam bahasa Indonesia berbunyi sbb: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup (I am the way, the truth, and the life). Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

Dalam bahtera yang bernama The Truth & The Life itulah, kami menempuh perjalanan pernikahan. Menempuh perjalanan pernikahan, dengan mempercayakan kendali sepenuhnya kepada Nahkoda Agung dari bahtera pernikahan. Nahkoda Agung yang akan senantiasa menyertai perjalanan dalam segala keadaan, baik hujan badai yang melanda, baik gelombang besar yang menghadang, kami tidak akan pernah takut dengan semua tantangan itu, karena kami yakin dan percaya akan kendali kemudi dari Nahkoda Agung.

Setelah sentuhan “The Truth & The Life” diberikan pada dinding lambung kapal bagian luar, sentuhan berikutnya diberikan untuk menjelaskan makna dari perkataan Nahkoda Agung yang berbunyi: “Akulah jalan (I am the way)”. Dari bunyi pernyataan Nahkoda Agung yang menyatakan diri-Nya sebagai jalan, maka dengan ada dalam bahtera-Nya secara otomatis kami sedang dibawa pada satu tujuan. Satu tujuan yang telah ditunjukan pada kalimat selanjutnya: “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (no man cometh unto the Father, but by me).”

Ya, dengan ada dalam bahtera yang dikemudikan oleh Nahkoda Agung, maka kami sedang dibawa datang kepada Bapa. Sentuhan pun kami berikan dalam karikatur untuk menjelaskan tentang bagian ini (tujuan dari perjalanan kami), sentuhan itu dengan memberikan gambar tepian pantai yang pesisirnya banyak ditanami pohon palem, dan tertancap sebuah papan kayu yang menginformasikan nama tempat yang menjadi tujuan kami, yaitu: Basileia Ouranos.

Makna pohon (daun) palem yang berada di tepian pantai, kami gunakan sebagai simbol kemenangan. Dalam liturgi gereja Kristen, ada yang namanya liturgi Minggu Palem (http://goo.gl/gnZY5B). Daun palem sering ditunjukan sebagai simbol kemenangan atas dosa dan kematian, seperti yang digambarkan dalam Yohanes 12:12-13 sebagai gambaran pada masa yang akan datang setelah kematian akan memasuki kota (Yerusalem Baru) yang penuh dengan kedamaian.

Sementara untuk papan kayu yang bertuliskan Basileia Ouranos, artinya dalam bahasa Indonesia adalah Kerajaan Sorga (Basileia Ouranos merupakan kata dalam bahasa Ibrani, kami sengaja memilih dan menggunakannya, karena kami memiliki tafsiran atau alasan tersendiri terhadap penggunaan kata ini). Basileia Ouranos merupakan tempat Bapa bertahta, tempat yang tak akan pernah bisa kami tuju, tanpa adanya Nahkoda Agung yang membawa kami ke sana. Saat kelak kami dapat tiba pada tempat tersebut, pada tempat yang kami gambarkan dipenuhi dengan simbol kemenangan (pohon/daun palem), maka pertanda perjalanan pernikahan kami telah berhasil kami lalui dengan baik dalam kemudi Sang Nahkoda Agung.

Coretan gambar sederhana telah selesai kami buat, berikutnya kami menuliskan kata-kata yang sejak awal telah kami kantongi pada bagian langit dari coretan gambar sederhana tersebut. Hanya saja ada sedikit revisi di dalamnya yang menjadi seperti berikut: “Nahkoda Agung (dari bahtera pernikahan) tak pernah memberikan pasangan yang sempurna, karena ketidaksempurnaan yang dimiliki pasangan adalah tempat yang disisakan oleh Nahkoda Agung untuk kita lengkapi.”

Dua kata kami ganti, karena alasan yang cukup berarti. Kami mengganti kata “Tuhan” dengan “Nahkoda Agung”, karena kami tidak ingin menyebut nama Tuhan dengan sembarangan, dan membuat nama Tuhan menjadi murahan dengan diletakan pada sebuah mug yang digunakan untuk minum, dll. Selain itu kami ingin menunjukan tema dari pernikahan kami yaitu: Semuanya Menceritakan Tentang Nahkoda Agung Dari Bahtera Pernikahan. Namun karena keterbatasan ruang yang tersedia, kami tidak mengubah keseluruhan kalimat, dan tidak mengubah pesan yang sejak awal ingin kami sampaikan, maka kami hanya menuliskan Nahkoda Agung (dari bahtera pernikahan) saja. Sedangkan kata “kamu” menjadi kata “kita” adalah karena alasan untuk membuat pesan yang kami sampaikan bukan hanya berlaku bagi orang lain yang membacanya, tapi juga berlaku bagi kami (tidak terkesan menggurui, tapi mengajak bareng-bareng untuk saling melengkapi ketidaksempurnaan pasangan masing-masing).

Singkat cerita, tiga hari setelah kunjungan kami yang pertama ke tempat pembuatan mug, kami serahkan coretan gambar sederhana yang telah kami buat, beserta dengan file foto kami berdua (digunakan sebagai acuan untuk membuat wajah kami dalam karikatur) dan contoh file foto untuk bentuk-bentuk yang kami inginkan tentang bahtera, pohon palem, dan papan kayu yang akan disajikan dalam karikatur. Seminggu setelah kami menyerahkan semua bahan itu, kami mendapatkan kiriman via email yang berisikan dua file karikatur wajah kami berdua dalam format JPEG (satu file digunakan untuk desain mug, satu file lagi digunakan untuk foto yang akan dipasang dalam pigura).

Hasilnya sangat memuaskan, sesuai dengan harapan kami, meski sebenarnya pohon palem yang kami inginkan hasilnya lebih mirip dengan pohon kelapa, namun hal itu tidak menjadi kendala yang berarti, yang penting dengan mata iman kami melihatnya itu sebagai pohon palem yang tumbuh subur di pesisir, hehehe. Selain itu, kami masih perlu meminta satu kali revisi untuk jarak bahtera dengan daratan, karena jarak antara bahtera dengan daratan sangat dekat sekali, seperti bahtera yang sedang berlabuh.

Setelah jarak antara bahtera dengan daratan direvisi semaksimal mungkin (ruang yang tersedia terbatas karena kendala ukuran, sebenarnya kami masih menginginkan jarak yang lebih jauh lagi antara bahtera dengan daratan, sebagai gambaran perjalanan pernikahan kami memang masih jauh–bahkan baru dimulai), kami pun menyetujui desain karikatur tersebut untuk dicetak pada dinding bagian luar mug, dan dicetak pada kertas foto ukuran 16 R yang setelahnya akan dimasukan ke dalam pigura untuk dipajang di pintu masuk dari ruang acara pengucapan syukur pernikahan kami.

Dua minggu kemudian, semua orderan untuk mug dan karikatur yang telah dibingkai dalam pigura sudah dapat diambil untuk kami bawa pulang. Kami berdua selalu tersenyum setiap kali melihat hasil karikatur wajah kami berdua dalam pigura, saat melihatnya kami selalu diingatkan akan komitmen kami bersama tentang pernikahan (nantinya). Perjalanan pernikahan yang terbentang jauh di depan memang telah kami percayakan sepenuhnya pada kendali Nahkoda Agung, namun bukan berarti kami hanya tinggal diam ongkang-ongkang kaki, sementara Sang Nahkoda Agung yang sibuk sendiri tanpa kami peduli dengan apa pun yang terjadi.

Komitmen yang kami miliki adalah bersama-sama melayani Tuhan dan sesama melalui pernikahan kami, bersama-sama melayani Tuhan dan sesama melalui perjalanan yang kami tempuh tiada henti hingga tiba pada tujuannya nanti, seperti yang telah Nahkoda Agung kehendaki. Komitmen kami juga tak akan pernah lompat keluar dari bahtera, apa pun keadaan yang menimpa. Meski Sang Nahkoda Agung yang mengendalikan kemudi tak diragukan, akan senantiasa menyertai perjalanan dalam segala keadaan, namun kami pribadi tetap harus bertahan dalam bahtera saat dihadang goncangan apa pun yang mungkin saja melanda, bukan menjadi gentar dan putus asa.

Melalui pernikahan, kami juga berkomitmen apabila kelak kami dipercaya untuk memiliki pusaka Tuhan (memiliki anak-anak), kami akan membesarkannya di dalam Tuhan. Mendidiknya bukan hanya melalui perkataan, tapi juga mencurahkan seluruh pengajaran hidup yang kami tampilkan melalui teladan. Mendidiknya hanya menurut jalan yang ditunjukan-Nya, bukan menjadikannya sebagai boneka penghibur yang dikorbankan untuk ambisi pribadi kami.

Kami berkomitmen akan mengambil peran masing-masing di dalam bahtera pernikahan, sebagai suami akan mengambil peran sebagai pencari nafkah yang benar melalui jerih payah dan tanggung jawab (bukan mencari nafkah dari nyolong, nyopet, korupsi, dll.), sebagai isteri akan menjadi penolong bagi suami dan mendidik anak-anak. Komitmen kami adalah menjadikan pernikahan yang dari Nahkoda Agung, oleh Nahkoda Agung, dan untuk Nahkoda Agung. Inilah doa kami: Pernikahan Yang Semuanya Menceritakan Tentang Nahkoda Agung Dari Bahtera Pernikahan. Amin.

1 Komentar (+add yours?)

  1. Trackback: Mengawali Perjalanan dengan Janji Pernikahan | Roy Soselisa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: