Kenorakan di Balik Hilangnya Pesawat Air Asia QZ8501

Terkejut ketika mendengar kabar pesawat Air Asia QZ8501 hilang kontak (28/12/2014), karena dua hari sebelumnya saya sempat mengantar keluarga isteri ke Bandara Juanda untuk menempuh perjalanan pulang ke Bandara Kualanamu, Medan. Dari rute yang ditempuh, antara Medan dengan Singapura beda-beda tipis, jadi sedikit banyak keterkejutan saya itu mengarah pada bagaimana rasa sedihnya keluarga korban dari penumpang Air Asia yang hilang kontak. Karena hanya dengan mengantar keluarga isteri untuk tidak bisa berjumpa dalam waktu yang lama saja, saya bisa melihat dan merasakan bagaimana sedihnya isteri saya, terlebih bagi keluarga korban yang (mungkin) tidak bisa berjumpa dengan korban untuk selamanya.

Namun, keterkejutan saya jauh lebih besar ketika melihat seorang anak SMA menjadi sasaran publik (dalam media sosial) untuk dipersalahkan atas kesalahannya berkomentar negatif tentang peristiwa pesawat Air Asia (menyangkut keluarga Kristen atau Pendeta). Sejak semalam hingga pagi ini, melalui home dari akun facebook saya, saya melihat cukup banyak orang memposting/membagikan foto dan komentar dari anak SMA tersebut. Postingan yang lengkap dengan dibumbui narasi panjang lebar yang menyudutkan anak SMA tersebut.

Sebagai pendidik, saya menyatakan bahwa tindakan remaja tersebut adalah salah. Namun sebagai pendidik, saya juga menyatakan bahwa tindakan “menghukum” secara luas melalui media sosial seperti itu tidak perlu dilakukan. Sebagai pendidik yang beragama Kristen pula, saya menyatakan bahwa “menghukumnya” hingga mengaitkan kepada kaidah agama segala, lebih tidak perlu dilakukan lagi karena terlalu berlebihan (lebay bin norak).

Komentar negatif dari anak SMA tersebut tidaklah seberapa dibanding dengan yang sering saya terima (selama lima tahun mengajar) dari anak-anak didik. Ketika anak-anak didik saya mengetahui saya beragama Kristen, tak jarang anak-anak didik saya mengeluarkan komentar negatif, berbagai komentar seperti: haram, babi, pindah saja ikut agama kami, hingga coba menuntun saya mengucapkan dua kalimat sebagai tanda berpindah keyakinan, dan lain sebagainya. Saya tak pernah sekalipun menghardik atau menghukum mereka ketika komentar-komentar seperti itu dilontarkan, ruang untuk kesalahan coba saya berikan kepada mereka, saya lebih kepada memberikan pengertian untuk memiliki sikap toleransi dalam perbedaan yang ada. Hasilnya secara efek psikologi lebih mengena bagi mereka, hubungan antara pendidik dengan anak-anak didik (dengan usia yang masih remaja, bahkan tergolong anak-anak) tidak tercipta jurang, malah kami jauh lebih dekat.

Akhir kata, seorang remaja perlu diberikan ruang untuk kesalahan. Anak SMA tersebut adalah seorang remaja yang perlu belajar banyak hal (dari pengalaman) sama seperti kita dulu. Mempersalahkan kesalahannya melalui media sosial secara luas, hanya akan memberikan efek psikologi yang sangat besar baginya. Dengan mengingat teladan dari perkataan Yesus saat di atas kayu salib: “ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.”, yuk bareng-bareng kita akhiri mempersalahkan kesalahannya. Melalui kesempatan ini, saya ingin menyampaikan pula: Kiranya keluarga korban pesawat Air Asia QZ8501, diberikan penghiburan dan kekuatan yang datangnya dari Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: