Pernikahan Kami Yang Ternoda

Dalam budaya Jawa, sebagian masyarakatnya ada yang mengadakan selametan (acara syukuran) bagi pengantin baru yang usia pernikahannya menginjak 40 hari, sebagian lagi (versi lain) ada yang melangsungkan selametan saat usia pernikahan menginjak 30 hari atau 36 hari. Selametan tersebut bertujuan agar pengantin baru selalu mendapatkan keselamatan dan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa di dalam kehidupan rumah tangga. Sementara bagi kami (saya dan isteri) yang menginjakan kaki di Tanah Jawa dan hidup (di tengah-tengah masyarakat) dalam budaya Jawa, memiliki cara sendiri dalam memaknai hari pernikahan kami yang kemarin menginjak usia 40 hari (dasar penghitungan yang kami gunakan matahari terbit sebanyak 40 kali dari 19/12/2014 hingga 28/01/2015).

Selama 40 hari terakhir kami berefleksi secara imani terhadap jejak-jejak kehidupan yang telah menyatakan diri sejak berlangsungnya acara pengucapan syukur pernikahan kami (19/12/2014). Semuanya bermula dari komitmen kami berdua yang sebisa mungkin tidak merepotkan siapa pun selama mempersiapkan pernikahan (http://goo.gl/ibXhEu), dan komitmen itu bisa terpenuhi hingga acara pengucapan syukur pernikahan kami berjalan dengan lancar. Namun dibalik kelancaran acara pengucapan syukur pernikahan kami, sebenarnya ada jejak kehidupan yang tertinggal karena terjadinya sebuah peristiwa. Peristiwa tersebut adalah kue tart yang menjadi bagian dari acara pengucapan syukur pernikahan kami tidak dikirim oleh layanan antar dari sebuah toko roti ternama (berasal dari luar negeri) yang terletak di salah satu mall (stand paling depan) yang ada di tengah Kota Surabaya.

Dua hari sebelum hari pernikahan kami, Elfrita Shanty (isteri saya) memang sempat meminta tolong saya untuk diantarkan ke beberapa toko roti ternama di Kota Surabaya. Dari beberapa toko roti yang kami datangi (saya hanya menunggu di depan toko, karena Elfrita melarang saya untuk ikut masuk, katanya sih mau bikin surprise), menyatakan ketidaksanggupannya untuk menyediakan layanan antar pada hari pernikahan kami, karena selama sebulan mereka kebanjiran order. Hingga akhirnya kami menemukan toko roti yang siap mengantar pesanan Elfrita sesuai waktu dan tempat yang ditentukan.

Dalam hati saya menaruh curiga (mengetahui) akan rencana Elfrita tersebut, pasti kue tart itu dipesan untuk memberikan kejutan bagi ulang tahun saya (hari pernikahan kami bertepatan dengan hari ulang tahun saya), karena sangat tidak mungkin kalau memesan kue tart pernikahan, sebab kami telah sepakat untuk meniadakan rangkaian acara potong kue tart pernikahan dalam acara pengucapan syukur. Kecurigaan saya makin jelas, karena saat kami kembali ke salon selepas dari acara pemberkatan pernikahan di gereja, saya melihat dua lilin ulang tahun (berbentuk angka yang menunjukan jumlah usia saya) dalam tas Elfrita. Terlebih lagi saat melihat converti (tabung yang ketika diputar bagian pemicunya akan menimbulkan suara letusan dan menyemburkan kertas berwarna-warni) dalam ukuran besar yang dititipkan pada adiknya untuk dibawa ke tempat acara pengucapan syukur pernikahan kami.

Kecurigaan saya akhirnya terjawab, seusai saya menyapa dan mengucapkan terima kasih kepada tamu undangan dan kedua orang tua kami dari atas panggung, mikrofon pun berpindah tangan dan Elfrita mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya, diiringi dengan suara letusan dan semburan kertas berwarna-warni, serta lagu happy birthday yang dinyanyikan oleh singer dan tamu undangan. Meski tak ada kue tart yang hadir di atas panggung, sedikitpun tak mengurangi sukacita yang saya rasakan, terbukti saya membalas ucapan selamat ulang tahun dari Elfrita itu dengan wedding kiss di keningnya.

Keesokan harinya (20/12/2014), dari dalam kamar mandi saya mendengar Elfrita menelepon toko roti tersebut, dengan bahasa yang santun Elfrita menuturkan kekecewaannya dan meminta kue tart yang telah dipesannya diantarkan ke alamat tempat tinggal kami. Selesai mandi, saya menghampiri Elfrita dan berkata: “Ngapain pakai minta diantar segala, batalkan aja, minta duit kembali, percuma acaranya sudah berlalu. Sini mana nomor teleponnya.” Setelah nomor telepon diberikan, saya pun langsung menelepon toko roti tersebut, dengan nada tinggi dan marah saya berkomunikasi dengan manajernya, intinya saya membatalkan pesanan dan meminta kembali sejumlah uang yang telah kami bayar. Dalam komunikasi itu sempat terucap oleh saya sbb: “Ini momen sekali seumur hidup, ulang tahun bersamaan dengan hari pernikahan kami. Kecerobohan ini akan saya publikasikan ke beberapa media, minimal akan saya publikasikan ke surat pembaca (sambil menyebut salah satu koran beroplah terbesar di Kota Surabaya).”

Hanya dalam waktu lima menit, seorang wanita (manajer) dan seorang pria (kurir) tiba di depan tempat tinggal kami menggunakan sepeda motor dengan membawa kue tart dan dua plastik besar berisikan roti. Saya pun membukakan pintu bagi mereka, dan mempersilakan mereka duduk. Tanpa basa-basi, saya langsung awali pembicaraan dengan nada tinggi: “Saya mau sejumlah uang yang telah kami bayar, dikembalikan.” Si manajer yang duduk bersebelahan dengan kurirnya menghela nafas panjang, sambil memelas berkata: “Apa tidak bisa diselesaikan baik-baik, Pak?” Saya pun menimpali: “Iya, ini kan sudah selesai masalahnya, kembalikan uang kami sekarang, dan bawa kembali kue tart dan bawaan lainnya ini (sambil menunjuk bawaan mereka yang diletakan di atas meja).”

Singkat cerita, mereka menyerahkan uang yang telah Elfrita bayarkan, dan membawa kembali kue tart dan bawaan mereka lainnya. Dengan perasaan tidak tega, saya mengantarkan mereka ke depan pagar, dan berusaha melepas kepergian mereka dengan berkata lebih lembut (karena sebelumnya selalu dengan nada tinggi): “Terima kasih ya Bu, Pak.” Sejak kepergian mereka, saya penuh dengan pertimbangan: Apakah saya harus mengampuni kelalaian mereka dengan tidak mempublikasikannya ke beberapa media sesuai rencana semula? Tentunya pertimbangan tersebut menyangkut hal yang serius, saya tidak bisa membayangkan apabila karena publikasi saya, salah satu karyawan dirugikan dengan kemungkinan pemutusan hubungan kerja.

Sebenarnya sejak saya meminta mereka untuk membawa kembali kue tart dan roti-roti bawaan mereka itu, saya sudah coba mengampuni mereka. Dengan dasar pertimbangan bahwa kue tart dan roti-roti yang akan mereka berikan kepada kami sebagai simbol permintaan maaf itu, kemungkinan biayanya berasal dari hasil urunan beberapa karyawan atau ada salah satu pihak yang harus menanggungnya akibat dari kelalaian yang telah diperbuat.

Keputusan pun saya ambil, pada tanggal 21 Desember 2014, pukul 18.53, saya mengirimkan sms ke nomor handphone (gsm) toko roti tersebut yang berbunyi sbb: Selamat malam, ***** (nama toko roti). Terkait dengan tidak dikirimnya pesanan pelanggan pada tgl 19-12-2014, pukul 16.00 WIB di ***** (nama restoran tempat kami melangsungkan acara pengucapan syukur). Melalui pesan singkat tersebut, sebagai pelanggan yang telah dirugikan, saya menyatakan bahwa tidak akan dilakukan publikasi di media manapun seperti yang telah saya sampaikan kemarin. Namun agar menjadi perhatian, mohon jangan ada satu karyawan pun yang dikenai sanksi terkait hal tersebut. Terlebih bagi ***** (nama toko roti) supaya meningkatkan pelayanannya, agar tidak terulang kembali di kemudian hari kepada pelanggan lainnya. Tuhan memberkati.

Tak ada balasan untuk sms tersebut, entah dibaca atau tidak, saya tak peduli dengan hal itu, yang terpenting saya telah memutuskan untuk mengampuni (karena pada tanggal 20 s.d. 21 Desember 2014 itu saya benar-benar jadi jengkel, karena kalau dipikir-pikir seumur hidup hanya sekali ulang tahun saya dirayakan, itu pun saat saya berusia satu tahun, eh sekarang mau dirayakan oleh isteri saya tepat pada hari pernikahan kami, malah tak ada kue tart dalam perayaannya). Pengampunan yang hanya merupakan keputusan dan tindakan kecil, tapi saya percaya bisa memberikan dampak bagi orang lain. Terkait dengan efek jera untuk mereka, biarkan hati nuraninya yang berbicara kepada diri mereka sendiri.

Saya pun tidak coba mencari penyebab peristiwa ini terjadi, karena saat saya mencarinya, bisa saja saya menyalahkan Elfrita, karena Elfrita terlupa membawa bon pembeliannya, hingga kami tidak bisa menghubunginya. Saat itu kami juga berusaha menelepon ke penerangan untuk tanya nomor toko roti tersebut, nomor yang dihubungi adalah cabang yang berbeda. Bisa saja saat itu kami menyalahkan penerima telepon dari cabang yang berbeda tersebut, kenapa tidak bisa mengoneksikan kami ke cabang yang kami maksud. Rentetan mencari kesalahan itu pasti akan bertambah panjang, hanya pengampunan yang bisa menyelesaikannya. Karena jejak kehidupan ini kami yakini tidak kebetulan terjadi, telah diizinkan oleh Sang Pemilik Kehidupan untuk boleh kami pelajari dan refleksikan secara imani.

Sehari setelah saya mengirimkan SMS, pada tanggal 22 Desember 2014 kami berdua (bersama dua saksi) ke Dispendukcapil Kota Surabaya untuk mencatatkan pernikahan kami, agar bisa diproses untuk mendapatkan akta perkawinan. Saat di Dispendukcapil inilah, kami mendapatkan pelajaran yang lebih berarti. Antrian di Dispendukcapil untuk pencatatan perkawinan sebenarnya hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit, namun saat itu kami harus antri hingga 30 menit. Hal ini disebabkan karena keluarga (bapak ibu dari kedua belah pihak, dan saksi-saksi) dari pasangan suami isteri yang antri sebelum kami mengajukan banyak pertanyaan kepada petugas Dispendukcapil.

Setelah tiba giliran kami, petugas Dispendukcapil sempat meminta maaf kepada kami: “Maaf ya, Bapak Ibu. Harus menunggu lama, karena keluarga yang barusan banyak mengajukan pertanyaan.” Saya pun menyeletuk: “Oh ya? Emang pertanyaan apa, Pak?” Celetukan saya ditanggapinya: “Soal harta gono-gini dan yang terkait dengan pembagian harta. Sebagai petugas harus memberikan pelayanan yang terbaik, jadi saya jawab semua pertanyaannya.” Saya menunjukan keheranan saya, karena terkejut ternyata ada keluarga dari pengantin baru yang membahas tentang harta gono-gini (kemungkinan bercerai). Melihat saya terheran, petugas Dispenducapil pun menanyai saya: “Saya rasa di gereja tidak diajarkan hal yang seperti itu ya?” Dengan tegas saya menjawab: “Benar, gereja tidak mengajarkan seperti itu.” Setelah menjawab pertanyaan petugas tersebut, dalam hati saya bertanya: Memangnya masalah sebesar apa sih yang akan terjadi nantinya, sampai-sampai harta gono-gini (perceraian) harus dibicarakan saat pernikahan baru dimulai.

Dalam momen pencatatan perkawinan inilah saya menemukan maksud dan tujuan dari “peristiwa kue tart” yang diizinkan untuk terjadi. Ada relevansi yang kuat antara “peristiwa kue tart” dengan “peristiwa dispendukcapil”. Melalui “peristiwa kue tart” saya telah diajar untuk mudah mengampuni, dan melalui “peristiwa dispendukcapil” saya diingatkan agar perceraian tidak terjadi dalam pernikahan kami. Melalui dua peristiwa tersebut, kami mendapatkan refleksi imani (pelajaran) untuk mudah memberikan pengampunan dalam pernikahan.

Dengan contoh yang sederhana: kami berdua berasal dari dua suku yang berbeda, namun sama-sama merupakan suku yang keras (keras bicaranya, keras kepalanya, dsb.) di Indonesia. Dalam darah kami mengalir karakter yang sama kerasnya dari dua suku tersebut, terkadang dalam bicara pun kami seperti sedang marah. Melalui contoh sederhana ini saja, maka tidaklah kebetulan bila sejak awal kami telah diajarkan tentang pengampunan. Pengampunan yang bisa kami berikan kepada “pembuat noda” (karyawan toko roti) dalam acara pengucapan syukur pernikahan kami, haruslah bisa kami berikan juga kepada satu sama lain dalam perjalanan pernikahan yang masih terbentang jauh di depan.

Akhir kata, benturan-benturan(karakter yang sama keras) dalam pernikahan kami pasti akan ada, potensi timbulnya noda-noda (melukai dengan perkataan) dalam pernikahan kami pasti akan ada. Namun dengan pengampunan yang selalu ada dalam hati kami berdua, maka pernikahan kami yang ternoda oleh perceraian itu tak akan pernah ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: