Roti Yang Terpecah dan Anggur Yang Tercurah

Sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu, mungkin terhitung sudah lebih dari seratus kali saya mengikuti perjamuan kudus di gereja kharismatik (lebih dari satu gereja). Dalam setiap perjamuan kudus yang saya ikuti, seringkali saya tidak mengikuti doa yang dinaikan oleh pelayan perjamuan kudus (tidak selalu seperti demikian, ada kalanya saya mengaminkan doa yang dinaikan), karena seringkali saya kurang setuju dengan pemahaman yang dimiliki tentang perjamuan kudus (terdengar dari kalimat-kalimat doanya).

Pemahaman yang membuat saya kurang setuju adalah menjadikan roti dan anggur yang ada dalam perjamuan kudus seolah-olah seperti “jimat” yang akan dimasukan ke dalam tubuh. Doa-doa yang dinaikan seolah-olah menjadikan roti dan anggur yang nantinya setelah masuk ke dalam tubuh dapat melindungi, menangkal atau menyembuhkan sakit penyakit, membuat berhasil dalam dunia kerja, dan lain sebagainya.

Saat doa-doa seperti demikian yang dinaikan, saya lebih memilih doa secara pribadi. Sembari memakan roti yang telah dipecah-pecahkan dan meminum anggur yang telah dicurahkan (dalam kemasan plastik kecil), saya lebih memilih untuk menaikan syukur akan tubuh Yesus yang telah terpecah (baca: terkoyak) dan darah Yesus yang telah tercurah (baca: tercucur). Karena bagi saya, momen perjamuan kudus adalah momen peringatan akan pengorbanan Yesus di atas kayu salib. Sebuah momen yang bukan lagi saatnya untuk meminta berkat jasmani dan keuntungan diri sendiri, melainkan sebuah momen untuk menaikan syukur akan anugerah-Nya yang begitu tinggi yang telah diberikan secara cuma-cuma bagi umat manusia yang ada di dunia ini.

Selama bertahun-tahun saya melakukan tindakan seperti tersebut di atas saat perjamuan kudus dilangsungkan. Namun pada siang hari tadi, dalam sebuah ibadah yang saya ikuti bersama isteri, bukan hanya sekadar “momen peringatan” seperti biasanya, karena saya mendapatkan refleksi tambahan akan makna perjamuan kudus (mungkin saja karena pengaruh dari perenungan pribadi akan peristiwa yang saya jumpai dan alami sebulan terakhir).

Refleksi tersebut seperti mengatakan bahwa perjamuan kudus bukan hanya sekadar momen peringatan akan anugerah-Nya yang begitu tinggi, namun juga sebagai momen peringatan akan teladan-Nya yang begitu tinggi dengan bersedia menjadi “roti yang terpecah dan anggur yang tercurah” bagi umat manusia. Untuk bisa menjadi “roti yang terpecah”, Yesus rela tidak memiliki tempat untuk meletakan kepala-Nya. Untuk bisa menjadi “anggur yang tercurah”, Yesus rela tanpa kehormatan sama sekali pada akhir hidup-Nya (mati tersalib dalam keadaan setengah telanjang).

Melalui perjamuan kudus, kita sedang diingatkan untuk menjadi serupa seperti Yesus, menjadi “roti yang terpecah dan anggur yang tercurah” bagi sesama. Bukannya malah memecahkan roti orang lain dan memeras anggur sesamanya secara paksa untuk kepentingan diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: