Pak Yanto Mandor Bangunan

Sering kali seusai mengajar, saya meluangkan waktu untuk berbincang dengan Pak Yanto, sekadar untuk menanyakan kabar hingga berbincang tentang bangunan. Namun mulai hari ini, tak akan lagi bisa berbincang dengannya, karena tadi pagi namanya tertulis pada batu nisan. Pada pagi tadi pula, tak jauh dari batu nisan yang tertulis namanya, saya menyampaikan (sebagai kata-kata penghiburan yang membanggakan) kepada putranya tentang teladan dari ayahnya yang meninggal karena Hepatoma (dalam bahasa Jawa yang saya artikan sebagai berikut): “Sebagai mandor bangunan di sekolah kami, harusnya ayah Anda bisa memilih untuk duduk diam dan tinggal main perintah, namun ayah Anda lebih memilih untuk ‘nguli dan nukang’, hingga tak ada bedanya dengan kuli dan tukang.”

Meski tak lama saya mengenal Pak Yanto (proyek renovasi di sekolah kami baru berjalan enam bulan terakhir), namun pada akhir hidupnya ada pelajaran berharga yang bisa Pak Yanto tinggalkan untuk kehidupan ini. Sebagai pemimpin (dalam lingkup yang kecil), Pak Yanto tidak main perintah, namun turut bekerja dalam kebersamaan dengan kuli dan tukang yang lain. Pak Yanto merupakan pemimpin yang memahami situasi dan memilih berbagi ‘membanting tulang’ untuk menyelesaikan pekerjaan. Selamat jalan, Pak Yanto.

IMG_20150706_102235

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: