Jijik Terhadap Kaum Gay dan Lesbian?

Dua malam terakhir (termasuk malam ini sebelum saya membuka laptop dan menulis postingan ini), obrolan saya dengan isteri seputar komentar-komentar yang bikin gerah telinga (khususnya bagi saya pribadi) tentang LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender), menyusul isu pernikahan gay yang sedang menghangat di Amerika Serikat.

Komentar-komentar yang bikin gerah telinga tersebut hilir mudik dalam dunia maya maupun dunia nyata, komentar-komentar yang tak ubahnya seperti para ahli taurat (pada zaman Yesus) yang doyan mengutip ayat-ayat untuk menyalahkan sesamanya. Salah satu contoh ayat yang sering muncul adalah peristiwa tentang pemusnahan kota Sodom dalam Kitab Kejadian 19, peristiwa yang sebenarnya terjadi bukan secara khusus karena dosa seksual (homoseksual).

Peristiwa pemusnahan kota Sodom terjadi karena pelanggaran yang dilakukan oleh warga kota Sodom lebih dari hanya sekadar tentang kesalehan personal (dosa seksual), namun karena kesalehan sosial yang gagal mereka jalankan, seperti yang ditegaskan oleh Nabi Yehezkiel (Yehezkiel 6:49-50): “Lihat, inilah kesalahan Sodom, kakakmu yang termuda itu: kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup ada padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin. Mereka menjadi tinggi hati dan melakukan kekejian di hadapan-Ku; maka Aku menjauhkan mereka sesudah Aku melihat itu.”

Sangat disayangkan, apabila bisa menggunakan ayat dalam peristiwa Sodom untuk menghakimi kaum LGBT, namun tidak bisa belajar sesuatu dari teladan (yang katanya sering disebut oleh orang-orang beriman sebagai Bapa Orang Beriman) yang telah diberikan oleh Abraham. Dalam peristiwa Sodom, Abraham memiliki hati yang mengasihi warga kota Sodom, terbukti dari Abraham yang mau repot tawar menawar (negoisasi) dengan Allah agar membatalkan pemusnahan kota Sodom. Walau pada akhirnya pemusnahan tak terhindarkan (negoisasi Abraham tidak berhasil, oleh sebab pelanggaran akan kesalehan sosial dari warga kota Sodom dan Gomora sudah terlampau berat), namun melalui teladan itu kita bisa belajar untuk memiliki sikap hati yang mengasihi kaum LGBT.

Boleh saja menyampaikan kebenaran untuk mencegah pengaruh LGBT (karena bagaimana pun juga perlu membina dengan baik generasi mendatang: anak-anak, remaja, dan pemuda dari penyimpangan seksual), namun tidak perlu hingga kita harus menghujat, mengutuki, mendiskriminasi, menghakimi dan jijik terhadap kaum LGBT. Bagi saya pribadi, saat berbicara tentang LGBT bukan sedang berbicara tentang dosa atau tidak dosa (wajar atau tidak wajar, benar atau tidak benar), namun berbicara tentang bagaimana kita memiliki cara pandang yang sama seperti yang dimiliki oleh Allah dalam memandang ciptaan-Nya, memandang kaum LGBT sebagai ciptaan yang dikasihi-Nya juga.

Penghakiman hanya milik Allah, kita hanya manusia biasa (yang tidak bersih juga dari perbuatan dosa) yang tidak bisa mengetahui kedalaman hati kaum LGBT dalam pergumulannya (ketidakberdayaannya, dsb.), hanya Sang Hakim yang lebih mengetahuinya secara adil. Tugas kita hanya memiliki sikap hati yang mengasihi seperti yang telah diteladankan oleh Abraham, tanpa harus memaksa mereka. Kiranya melalui kasih kita dan kasih Allah yang menyapa mereka, perubahan hidup akan dialaminya bersama Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: