Ungkapan Klasik Masyarakat Jawa Tentang Korupsi

Ungkapan klasik yang sering saya dengar sejak kecil hingga dewasa, dari bibir orang tua-orang tua dalam masyarakat Jawa, termasuk orang tua saya, adalah: “Soro saiki gak popo, sing penting mene-mene anak putune isok urip enak (menderita sekarang tak apa-apa, yang penting besok-besok anak cucunya bisa hidup sejahtera).” Meski terdengar klasik, namun ungkapan yang merupakan local wisdom dari budaya Jawa (rasanya dalam budaya lainyang ada di Indonesia juga seperti demikian) tersebut memiliki makna yang dalam, melalui ungkapan tersebut kita bisa menemukan adanya tanggung jawab dan kasih yang sejati dari orang tua bagi anak cucunya.

Seringkali saya menjumpai orang tua-orang tua dalam masyarakat Jawa yang melakukan tindakan apa pun itu didasarkan pada prinsip “demi anak cucu”. Orang tua yang menggunakan prinsip “demi anak cucu” tersebut, memiliki pemahaman bahwa setiap hal yang dilakukan oleh orang tua akan memiliki dampak secara langsung maupun tidak langsung bagi anak cucunya di kemudian hari. Oleh sebab itu, perjuangan hidup yang dilakukan oleh orang tua bagi anak cucunya, akan dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan kasih yang sejati.

Dalam ajaran agama-agama impor (Islam, Kristen, dll.) yang dianut oleh masyarakat Jawa pun, diajarkan pula prinsip yang serupa dengan prinsip “demi anak cucu”, seperti halnya prinsip “tabur tuai: menanam yang baik, akan menuai yang baik”. Dengan prinsip tersebut, sebagai orang tua yang bertanggung jawab tentu tidak akan membangun masa depan anak cucunya hanya dengan berbagai macam bentuk investasi (pendidikan, kesehatan, dsb.) yang menguntungkan, namun juga membangun masa depan dengan tidak menodai perjuangan hidupnya dengan tindakan yang dapat mencemari perjalanan hidup anak cucunya. Salah satu contoh sederhana yang sering saya jumpai adalah bentuk tanggung jawab untuk “tidak makan uang” yang tidak seharusnya “dimakan”, bahasa populernya adalah korupsi.

Melalui ungkapan klasik masyarakat Jawa tersebut, kita bisa belajar bahwa: Orang tua yang bertanggung jawab, tentu akan lebih rela menderita saat ini karena mencukupkan diri dengan penghasilan, daripada harus melakukan kecurangan. Orang tua yang memiliki kasih yang sejati, tentu akan lebih rela berkorban dengan hati, daripada harus menghancurkan sesama tanpa pengendalian diri dengan terus memperkaya diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: