Penjualan Kupon Berhadiah di Sekolah Tak Mengedukasi Anak Didik

Entahlah tradisi penjualan kupon berhadiah telah berjalan berapa lama di sekolah kami, namun selama saya lima tahun terakhir berada di sekolah tersebut, untuk pertama kalinya tradisi penjualan kupon berhadiah pada saat perayaan kemerdekaan ditiadakan. Pertimbangan sederhananya (pertimbangan yang lebih rumit, apabila ditulis di sini bisa lebih panjang dari statusnya sendiri) karena penjualan kupon berhadiah kepada anak didik tidak memiliki nilai edukasi, anak didik diajarkan untuk mendapatkan sesuatu tanpa berjuang lebih dulu.

Lagi pula, penjualan kupon berhadiah di sekolah, tak ubahnya dengan metode judi togel, anak didik dihimbau (bahkan ada ketentuan wajib membeli minimal beberapa kupon) untuk membeli kupon, lalu hanya dengan ongkang-ongkang kaki berharap mendapatkan hadiah yang sudah tersedia atau dijanjikan. Belum lagi, dari penjualan kupon berhadiah (mungkin saja) sering terjadi penyelewengan-penyelewengan, seperti tidak semua dana yang diperoleh dari hasil penjualan kupon dibelikan untuk hadiah, mungkin saja ada yang digunakan untuk konsumsi panitia, dan mungkin saja tidak adanya transparansi dari hasil penjualan kupon: berapa lembar kupon yang dicetak dan berapa lembar kupon yang habis terjual.

Sebagai ganti dari kegiatan undian berhadiah pada perayaan kemerdekaan, untuk tahun ini sekolah kami menyelenggarakan perlombaan (yang tahun-tahun sebelumnya belum pernah diadakan) dengan konsep lomba yang mengedukasi anak didik. Perlombaan dilakukan antar kelas pada tiap-tiap tingkat kelas (mulai dari tingkat kelas I s.d. kelas IV), dengan ketentuan semua siswa dalam satu kelas wajib mengikuti nomor-nomor lomba yang dilakukan secara berkelompok, dan dalam melakukan penyusunan anggota dari kelompok-kelompok yang ada tidak boleh melakukan pembedaan antara putra dengan putri (makna: kesetaraan gender, dll.), siswa inklusi dengan siswa bukan inklusi (makna: menghargai, persamaan hak, dll.), semua siswa dalam salah satu kelas akan bekerja sama untuk memenangkan kelasnya. Lalu dari nomor-nomor lomba yang telah diikuti, keseluruhan poin yang telah diperoleh dalam setiap lomba akan dijumlah, lalu hasil dari jumlah totalnya kami gunakan sebagai acuan untuk menentukan kelas mana dalam setiap tingkat kelas yang keluar sebagai juara.

Selama tiga hari terakhir, kami telah mencoba untuk menanamkan nilai-nilai hidup (sportivitas, menghargai kawan, menghargai lawan, dll.), semangat gotong royong dan tidak mementingkan diri sendiri melalui makna-makna yang ada dalam konsep lomba kepada (kurang lebih) sejumlah 900 anak didik kami. Selain itu, puncaknya pada hari ini setelah kami melakukan kegiatan jalan sehat pada pagi hari tadi, kami telah melakukan pembagian hadiah kepada setiap kelas yang keluar sebagai juara (setiap anak mendapatkan hadiah, salah satu contoh masing-masing anak mendapatkan: 2 buku tulis, 1 bolpoin, 1 pensil, 1 rautan, 1 penghapus, dll.). Hadiah yang kami bagikan tersebut pembeliannya menggunakan dana yang telah dianggarkan dalam BOS (bantuan operasional sekolah) untuk perayaan kemerdekan, bukan dari anggaran yang didapatkan dari hasil penjualan kupon, nyatanya bisa kan?

Kiranya dengan nilai-nilai hidup dan semangat yang kami tanamkan tersebut, pada masa mendatang dapat menjadikan setiap anak didik kami hidup bersama di tengah-tengah masyarakat untuk mengisi kemerdekaan melalui bidangnya masing-masing demi tercapainya tujuan nasional bangsa Indonesia. Merdeka!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: