Yesus Merestui Pancasila dan Kemerdekaan Indonesia

Dalam pidato Bung Karno saat lahirnya Pancasila pada 1 Juni 1945 yang disampaikan dalam rangka Persiapan Kemerdekaan Indonesia oleh Anggota Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekaan atau Dokuritsu Zyumbi Tyoosa (sumber: http://goo.gl/lNIskE), beliau berkata bahwa Negara Indonesia adalah: “Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemiko yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu,maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan gotong royong. Negara Indonesia yang kita dirikan negara gotong royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong!”

Melalui kutipan pidato Bung Karno yang luar biasa tersebut, bisa kita lihat bersama bahwa Indonesia adalah bangsa yang plural (jamak). Saat melihat latar belakang Bung Karno dan kawan-kawan (para anggota BPPK yang berisikan tokoh-tokoh pendiri bangsa), sepertinya pada saat itu bisa saja yang diproklamasikan adalah kehendak mayoritas, bisa saja yang diproklamasikan adalah kemerdekaan Republik Jawa (mengingat Bung Karno sendiri kelahiran Surabaya), atau bisa saja yang diproklamasikan adalah kemerdekaan Negara Islam (mengingat para anggota BPPK mayoritas beragama Islam). Namun, Bung Karno dan kawan-kawan lebih memilih untuk memproklamasikan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Alangkah hebatnya Bung Karno dan kawan-kawan sebagai pendiri bangsa ini yang menyatakan bahwa semua buat semua, yang berarti bahwa semua warga negara sama di hadapan hukum, tanpa memandang suku, agama, ras, antar golongan dan gender sekalipun. Bahkan dalam iman Kristen yang saya yakini, semua buat semua itu juga berarti semua sama di hadapan Tuhan, tidak ada yang lebih istimewa di antara lainnya. Pemahaman tentang semua sama di hadapan Tuhan tersebut saya dapatkan dari teladan Yesus yang tersurat dalam kitab Markus 7: 24-30, melalui teladan inilah saya bisa melihat bahwa Yesus mengasihi seorang perempuan Yunani bangsa Siro-Fenisia yang memohon bantuan untuk mengusir setan yang merasuki anaknya. Bagi bangsa Yahudi, bangsa Siro-Fenisia (dan bangsa lainnya juga) adalah bangsa yang kafir, namun Yesus meruntuhkan rasa istimewa (baca: gede rumongso/gede rasa) yang dimiliki oleh bangsa Yahudi terhadap bangsa lainnya, dengan memilih untuk memberikan pertolongan kepada seorang perempuan bangsa Siro-Fenisia yang dianggap kafir.

Yesus telah hadir dalam isu pluralisme, isu penting yang dijadikan bahan pertimbangan oleh para pendiri bangsa Indonesia untuk menggunakan Pancasila sebagai dasar negara, karena hanya Pancasila yang dapat mencerminkan kepribadian Indonesia dengan kemajemukannya. Bila Yesus saja telah menegaskan akan pentingnya pluralisme, yang telah diperjuangkan juga oleh pendiri bangsa Indonesia, maka tidak ada lagi bagi siapa pun untuk menghalangi kemerdekaan seseorang dengan melakukan pembedaan berdasarkan suku, agama, ras, antar golongan dan gender (salah satu contoh yang saya ketahui: dalam sebuah sistem kepegawaian–human resources department–yang dimiliki oleh sebuah yayasan atau perusahaan, dalam melakukan penggajian untuk karyawannya menggunakan dasar pertimbangan warna kulit, bila berasal dari ras yang sama dengan asal ras dari pengurus yayasan atau pemilik perusahaan, maka karyawan tersebut akan mendapatkan gaji yang lebih tinggi dibanding dengan karyawan yang berasal dari warna kulit atau ras yang berbeda). Kemerdekaan Indonesia adalah semua buat semua, tidak ada pembedaan karena semuanya sama. Selamat mengisi kemerdekaan di tengah pluralisme yang ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: