Berdamai Dengan Keluarbiasaan Diri Sendiri

Mungkin merupakan hal yang biasa-biasa saja, saat kita bisa berjalan dengan kedua kaki, berlari dengan kedua kaki, dan melakukan aktivitas apa pun itu dengan kedua kaki yang kita miliki. Kedua kaki kita sudah biasa digunakan sejak kita meninggalkan fase tengkurap, semua sudah sesuai dengan peruntukannya, hingga semua itu tampak biasa-biasa saja. Mungkin yang luar biasa adalah saat seseorang bisa berjalan dengan satu kakinya, berlari dengan satu kakinya, dan melakukan aktivitas apa pun itu hanya dengan satu kaki yang dimilikinya, bahkan dengan satu kaki yang dimiliki berbagai prestasi dalam kehidupan ini telah diraih.

Achmad B. Santoso namanya (salah satu atlet binaan kami dalam pembinaan olahraga disabilitas di Npc Kota Surabaya), awalnya tak mudah baginya untuk bisa menjadi seorang anak kecil yang ceria dan energik hanya dengan satu kaki. Semenjak kereta tebu melintas di desanya, hingga menjadikannya luar biasa, olok-olok dari teman sepermainan pun sering didapatnya. Semenjak itu, sebenarnya cukup banyak alasan yang bisa dimiliki untuk tumbuh besar menjadi pribadi yang minder, namun berdamai dengan keluarbiasaan diri sendiri lebih dipilihnya. Hingga saat pertama kami berjumpa (kala itu satusnya sebagai mahasiswa Universitas Negeri Surabaya), kami menjumpai sosok pribadi yang penuh percaya diri.

Kini, setelah lima tahun berlalu, kami telah menyaksikan perjalanannya dalam mengukir prestasi, bahkan mungkin Anda juga telah menyaksikannya dalam tayangan Kick Andy:https://youtu.be/T8VYbAYM9yU. Awal tahun ini pun (sebelum dirinya meninggalkan Kota Surabaya untuk menunaikan tugas sebagai abdi negara di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia), dalam salah satu sesi pelatihan olahraga yang diselenggarakan oleh pemerintah provinsi setempat, kami memberikannya kesempatan untuk berbagi (menginspirasi) kisah hidup kepada para peserta pelatihan. Prestasi yang telah (dan akan) diraih dalam kehidupannya, dimungkinkan bisa terjadi hanya karena dirinya telah mampu berdamai dengan keluarbiasaan diri sendiri terlebih dahulu.

Setelah Achmad Budi Santoso, salah satu atlet binaan kami lainnya di Npc Kota Surabaya dan Npc Provinsi Jawa Timur adalah Sunoto (https://goo.gl/5rYc3X). Kecelakaan yang dialami oleh Sunoto beberapa tahun yang lalu menjadikan roda kehidupannya berputar tidak biasa-biasa saja, karena kecelakaan tersebut mengakibatkan Sunoto tak lagi bisa melihat dengan kedua matanya (buta total), hingga fungsi pengelihatannya harus digantikan dengan indra lain (alat untuk merasa, mencium bau, mendengar, meraba, dan merasakan sesuatu secara naluri) yang dimilikinya. Singkat cerita, keluarbiasaan Sunoto telah mengantarkannya menjadi atlet nasional (dalam olahraga disabilitas) yang sering mengibarkan sang merah putih pada pesta olahraga tingkat regional maupun internasional.

Tahun lalu, Sunoto sempat menolak tawaran untuk mengoperasi kedua matanya di Singapura (kemungkinan pengelihatannya akan kembali seperti semula hingga 80 %), yang diperkirakan akan menelan biaya hingga seratus juta rupiah. Bila melihat riwayat prestasi dan penghargaan berupa uang tunai yang selama ini telah diraihnya dari berbagai pesta olahraga disabilitas, biaya operasi sebesar itu tergolong kecil baginya. Namun, Sunoto lebih memilih untuk tetap memiliki fungsi pengelihatan yang digantikan oleh indra lainnya, karena Sunoto telah sejak lama berdamai dengan keluarbiasaan dirinya sendiri. Oleh karena keputusan Sunoto itu pula, pada akhir tahun ini Sunoto masih akan terus berkarya bagi bangsa pada pesta olahraga disabilitas Se-Asia Tenggara:www.aseanparagames2015.com.

Melalui kisah Achmad Budi Santoso dan Sunoto, kita bisa melihat pentingnya bisa berdamai dengan keluarbiasaan diri sendiri, dan masih melalui dunia olahraga pula, kita bisa mendapatkan refleksi yang lebih jauh tentang pentingnya bisa berdamai dengan keluarbiasaan diri sendiri. Dalam dunia olahraga, tentu ada seorang atlet yang berhasil meraih kemenangan, dan tentu ada pula seorang atlet yang tak pernah sekalipun meraih kemenangan. Meraih kemenangan dan tak pernah meraih kemenangan adalah dua hal yang sama luar biasanya. Bagi mereka yang berhasil meraih kemenangan, saat mereka bisa berdamai dengan kemenangan yang diraihnya dengan tidak lupa diri hingga terbang tinggi di awan-awan dan tetap rendah hati, maka saat itu mereka telah mampu berdamai dengan keluarbiasaan diri sendiri.

Sementara bagi mereka yang tak pernah sekalipun meraih kemenangan, saat mereka bisa berdamai dengan kekalahan yang didapatnya dengan tidak menjadi rendah diri dan frustasi, maka saat itu mereka telah mampu berdamai dengan keluarbiasaan diri sendiri. Keluarbiasaan diri yang terletak pada kemampuan menggunakan nilai-nilai olahraga (yang tanpa disadari telah merasukinya selama bergelut dalam dunia olahraga) untuk berlaga dalam arena perlombaan sesungguhnya yang tak akan berakhir sebelum putaran bumi dihentikan—Yang terkandung dalam nilai-nilai olahraga (sumber: United Nations, 2003): cooperation (kecakapan bekerjasama), communication (kecakapan dalam berkomunikasi), respect for the rules (sikap menghormati hukum atau aturan-aturan), problem-solving (kecakapan dalam memecahkan masalah), understanding (kecakapan pemahaman seperti memahami orang lain), connection with others (kecakapan berhubungan dengan orang lain), leadership (kecakapan memimpin), respect for others (menghargai orang lain), value of effort (kerja keras), how to win (membangun kecakapan dalam menyikapi kemenangan) , how to lose (membangun kecakapan dalam menyikapi kekalahan), self confidence (membangun kepercayaan diri, self-esteem (membangun penghargaan pada diri sendiri), trust (membangun kepercayaan), honesty (kejujuran), self-respect (menjaga kehormatan diri), tolerance (membangun sikap toleransi), resillience (membangun daya beradaptasi), team work (kecakapan bekerja sama dalam sebuah kelompok), discipline (disiplin).

Seiring dengan atlet, dalam dunia olahraga ada pula pelatih. Pelatih pun kalibernya berbeda-beda, ada pelatih yang berkaliber besar, dan ada pula pelatih yang berkaliber kecil (baca: kampung). Bagi mereka yang berkaliber besar, saat mereka bisa berdamai dengan kaliber besarnya dengan tetap menginjakan kaki ke bumi dan tak lupa berbagi, maka saat itu mereka telah mampu berdamai dengan keluarbiasaan diri sendiri. Sementara bagi mereka yang berkaliber kampung, saat mereka bisa berdamai dengan kaliber kampungnya dengan tidak minder dan tidak pernah putus asa menekuni “pembinaan grass roots” yang tanpa keuntungan duniawi apa pun, maka saat itu mereka telah mampu berdamai dengan keluarbiasaan diri sendiri.

Pertanyaannya bagi kita sekarang: Keluarbiasaan apakah yang melekat dalam diri kita? Setiap kita diciptakan berbeda sebagai pribadi yang luar biasa dengan tujuan hidup yang telah ditentukan-Nya sejak semula. Kelebihan dan kekurangan adalah dua hal yang sama-sama dapat menjadikan kita sebagai pribadi yang luar biasa, namun mampukah kita berdamai dengannya? Berdamailah dengan keluarbiasaan diri sendiri, saat tak mampu berdamai dengannya, maka kita akan menjadi pribadi yang biasa-biasa saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: