Didikan Papa Yang Unik dan Sederhana

Letnan Dua Roy Soselisa, demikian kata-kata yang sering Papa tambahkan saat menyebut nama saya sewaktu kecil dengan intonasi suara berat yang dibuat-buat seolah bernada bangga. Papa selalu punya cara yang unik untuk “menjagai” anaknya, tanpa disadari kata-kata yang sering Papa tambahkan saat menyebut nama saya itu, membuat saya memiliki cita-cita menjadi Seorang Perwira TNI. Dengan memiliki cita-cita seperti demikian, sesuai dengan yang Papa sampaikan kala itu, maka saya harus berusaha untuk meraihnya dengan rajin menjaga kebersihan gigi, menjaga kesehatan mata, menjaga tubuh (bebas tato, bebas rokok, bebas narkoba, dll.), melatih fisik, dan tentunya harus rajin belajar. Karena untuk bisa langsung memiliki pangkat Letnan Dua hanya dapat ditempuh dengan dua cara, yaitu (1) melalui pendidikan di Akademi Militer, atau (2) menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi strata satu lebih dahulu untuk kemudian masuk melalui jalur Prajurit Perwira Karier.

Kini setelah dewasa, saya merasakan manfaat dari salah satu bentuk “penjagaan” Papa melalui cara mendidiknya yang unik dan sederhana. Meski pada akhirnya cita-cita semasa kecil telah saya revisi (https://goo.gl/EjYTOx), namun “penjagaan” Papa terus mendatangkan kebaikan hingga saat ini, bukan hanya gigi belum ada yang berlubang, bukan hanya mata yang belum menggunakan alat bantu pengelihatan, bukan hanya diri ini tidak jatuh ke dalam pergaulan yang salah (https://goo.gl/10oLXN), namun “penjagaan” Papa turut pula mengantarkan saya pada profesi dengan pangkat yang setara dengan Letnan Dua.

Refleksi yang hendak disampaikan melalui cerita seorang pria yang saya kenal dengan sangat baik sejak saya ada dalam gendongannya ini adalah: kekuatiran sempat menghampiri Papa dalam mendidik anak-anaknya, namun keyakinan yang dimiliki Papa sangatlah kuat, bahwa ada Sang Hikmat yang akan menuntunnya dalam mendidik anak-anaknya. Demikian pula kita sebagai orang tua atau calon orang tua, mendidik generasi yang lahir dan dibesarkan pada era kini tentu bukan hal yang mudah, teori-teori (psikologi perkembangan, dsb.) yang banyak berkembang untuk mendidik anak pun, mungkin tidak akan cukup ampuh kegunaannya. Namun, satu keyakinan yang harus kita miliki, bahwa ada Sang Hikmat yang akan memberikan hikmat-Nya pada setiap orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Hingga saat anak-anak tidak ada lagi dekat dalam “penjagaan” kita, hikmat-Nya akan tetap “menjagai” anak-anak kita, bahkan Sang Hikmat sendiri yang akan “menjagai” anak-anak kita melalui kehendak dan perasaan mereka yang selalu tertuju pada jalan kebenaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: