Dari Palungan ke Kayu Palang, Dari Relung Hati ke Cahaya Terang

Semenjak facebook memberikan tawaran untuk membagikan kenangan dari postingan-postingan (status, foto, dll.) yang pernah termuat dalam akun facebook kita, semenjak itu pula saya jadi sering membaca postingan-postingan saya pada waktu yang telah lalu. Ada rasa geli, malu dan kadang jadi senyum sendiri saat membaca postingan-postingan tersebut, terutama yang terkait dengan religi. Namun, meski membuat geli dan malu, tak ada satu pun yang saya hapus, karena dari situ saya dapat melihat rekam jejak dari pemahaman yang saya miliki, seperti apa pemahaman yang saya miliki pada waktu yang lalu, dan sampai sejauh mana perkembangan diri saya saat ini hingga nanti.

Dari postingan-postingan tersebut, tersirat bahwa sedikit banyak saya ber-etnosentris, dalam artian saya memiliki sikap dan pandangan yang merasa diri lebih baik dari kelompok yang lain. Namun, lambat laun dari postingan-postingan yang ada tersebut menunjukan bahwa saya juga terus mencoba untuk belajar menghormati dan menghargai keanekaragaman budaya dan agama yang ada. Yang saya rasakan dari postingan-postingan tersebut pun, sesuai pula dengan yang saya rasakan saat ini, saya terus belajar untuk tidak memiliki sikap dan pandangan bahwa diri ini yang paling benar, sementara orang lain dan kelompok lain yang sesat. Mengimani keyakinan kita memang baik adanya, namun mengkritisi iman dan teologi kita dengan penuh kerendahan hati harus terus dilakukan, agar kita tidak terjebak dalam etnosentris.

Menjelang natal kali ini, saya pribadi makin diingatkan akan hal tersebut. Apabila dulu Kristus harus bergerak dari palungan ke kayu palang akibat kekonyolan kita, maka saat ini biarkan Kristus bergerak dari relung hati ke cahaya terang untuk menuntun kita terhindar dari kekonyolan yang ada. Dengan meminjam perkataan Yohanes Pembaptis yang menggambarkan Kristus sebagai Surya pagi dari tempat yang tinggi, maka saat ini biarkan Surya pagi itu lahir dalam hati kita, menerangi setiap sudut gelap yang hampa, agar kita tidak menghakimi kemajemukan yang ada. Penghakiman benar atau salah hanya ada pada Sang Pemilik Kehidupan, dan itu semua hanya dapat diketahui setelah kita mati.

Kiranya Surya pagi dari tempat yang tinggi, dapat menolong kita dari tempat yang gelap menuju tempat yang terang benderang penuh pencerahan, dan dapat mengubah kita semua dari intoleran menjadi toleran yang sadar akan keanekaragaman agama dan budaya di atas bumi yang diciptakan untuk bersama ini. Melalui kesempatan (yang tidak kebetulan, hanya berselang sehari) ini pula, saya ucapkan: Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1436 H bagi saudara-saudaraku Muslim di mana pun sedang berada, dan Selamat Hari Natal bagi saudara-saudaraku Nasrani dari berbagai aliran yang ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: