Layar Televisi dan Layar Bioskop di Indonesia Dipenuhi dengan Tayangan Sampah?

Selama tiga tahun terakhir, hanya ada dua tayangan televisi (selain berita) yang selalu berhasil menyita perhatian saya. Tayangan yang pertama adalah serial Mahadewa yang pernah tayang di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia, dan tayangan yang kedua adalah serial Asoka yang masih terus tayang hingga kini di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia.

Saya termasuk orang yang jarang menonton tayangan televisi, namun saya akan rela mengorbankan waktu-waktu saya (walau sering juga ada waktu-waktu yang tak dapat dikorbankan atau ditinggalkan) demi dua tayangan televisi tersebut. Saya mengikuti tayangan tersebut cukup beralasan: karena dalam serial Mahadewa, melalui cerita yang tersaji di dalamnya, melalui naskah yang terucapkan oleh setiap pemeran utamanya (yang menjadi sentral dan mengambil banyak porsi cerita), saya dapat mempelajari banyak hal untuk kemudian saya dapat memberikan respons teologis terhadap realitas adanya kemajemukan di luar keyakinan yang saya yakini.

Sementara dalam serial Asoka, saya dapat mempelajari sejarah (https://id.wikipedia.org/wiki/Asoka) dari sebuah peradaban yang ada di luar peradaban bangsa Indonesia. Selain itu, melalui naskah yang terucapkan oleh setiap pemeran utama yang ada dalam serial tersebut, saya banyak menjumpai mutiara berharga dalam bentuk olah kata tentang makna kehidupan yang mendalam, baik berupa filsafat maupun sastra.

Seringkali saat menyaksikan kedua tayangan tersebut, harapan dan bayangan saya melambung jauh akan munculnya serial-serial yang serupa dengan latar belakang peradaban bangsa Indonesia pada layar-layar televisi di Indonesia. Tak terbayangkan, betapa kayanya peradaban bangsa ini, hanya dari satu peradaban yang saya ketahui dalam masyarakat Jawa, peradaban yang dimulai dari tradisi lisan sejak berabad-abad lalu, hingga pada akhirnya menjadi serat-serat sejarah, dan membentuk falsafah yang begitu luas dan mendalam. Itu hanya dari satu peradaban saja, belum lagi dengan peradaban dalam masyarakat adat lainnya yang tersebar mulai dari Sabang sampai Merauke, dan dari Sangir Talaud sampai Pulau Rote.

Seiring dengan harapan dan bayangan saya yang melambung jauh untuk layar televisi di Indonesia, saya pun mengharapkan dan membayangkan film-film dengan genre kolosal yang mengambil latar belakang peradaban bangsa Indonesia yang akan memenuhi layar bioskop di Indonesia. Harapan dan bayangan saya pun makin menjadi saat mengetahui pada tahun ini akan digulirkan regulasi baru (http://goo.gl/M7Ks7U) terkait dengan bisnis industri film yang mewajibkan pelaku usaha pertunjukan film atau bioskop menayangkan film-film Indonesia, hingga porsinya mencapai 60 persen dari seluruh jam tayang. Dengan adanya regulasi baru tersebut, film-film produksi dalam negeri akan mendapatkan jatah layar lebih banyak dibandingkan dengan produksi luar negeri yang selama ini selalu mendominasi layar-layar bioskop di Indonesia.

Sebenarnya peradaban bangsa Indonesia tak kalah, bahkan jauh lebih hebat dari peradaban bangsa lain yang ada di dunia ini, hanya saja selama ini tak pernah dimunculkan kembali ke permukaan. Terutama bagi generasi muda yang diterpa oleh arus postmodern, arus yang menjadikan sebuah generasi menjadi skeptis terhadap budaya (filsafat, sastra, sejarah, dan lain sebagainya), arus yang membentuk mental sebuah generasi menjadi cengeng dan tak punya tujuan hidup, karena otak generasi ini telah dicuci oleh tayangan-tayangan pada layar televisi dan layar bioskop yang mayoritas berisikan kisah-kisah cinta murahan, hantu-hantu wanita centil yang berpakaian seksi, atau pria ganteng-ganteng sering gila yang kehilangan identitas diri.

Tak bisa dipungkuri, pengaruh tayangan pada layar televisi dan layar bioskop terhadap generasi muda sangatlah besar. Masih segar dalam ingatan (sebagai kilas balik, selain pengaruh-pengaruh lain yang merebak dewasa ini), semasa saya duduk di bangku SMA, ada salah satu film produksi dalam negeri (tahun ini akan keluar sesi keduanya) yang berhasil menjadi perhatian besar dan memberikan pengaruh bagi generasi muda maupun generasi sesudahnya. Kala itu, banyak pelajar putri yang menduplikasi cara berpakaian dari pemeran utama wanita pada film tersebut saat mengenakan seragam sekolah, mulai dari mengenakan kaos kaki bak pemain bola, rok yang sedikit di atas lutut, baju press body dengan lengannya yang pendek, dan tak lupa kemana-mana sembari membawa kipas tangan.

Bukan hanya peserta didik saja yang dipengaruhi kala itu, pendidik pun juga dipengaruhi oleh film tersebut. Dalam film ditampilkan pemeran utama wanita menyanyikan puisi yang diciptakan oleh pemeran utama pria dengan diiringi petikan gitar, dan kala itu para pendidik (khususnya guru mata pelajaran Bahasa Indonesia) pun langsung terserang wabah “musikalisasi puisi”. Mendadak dalam kelas-kelas Bahasa Indonesia banyak dijumpai gitar dan alat musik lainnya untuk mengiringi pembacaan puisi hasil dari kreasi setiap peserta didik.

Saya pun tak ketinggalan terpengaruh oleh film tersebut, tanpa diketahui oleh teman-teman kala itu, saya sebenarnya sempat punya kebiasaan mengunjungi perpustakaan sekolah untuk membaca Chicken Soup for the Soul, kebiasaan yang muncul setelah menyaksikan pemeran utama pria yang memiliki budaya membaca buku. That’s all, tak ada pengaruh lain dari film tersebut yang dapat menyerang saya, terlebih untuk romance-romancenya. Terbukti, semasa sekolah (bahkan semasa kuliah) tak ada satu pun wanita yang saya pacari, eh sebentar, tak ada yang dipacari atau tak ada yang mau dipacari ya? Hihihi. Apa pun itu, yang terpenting sekarang saya jadi tahu bahwa sejak lama saya telah dipersiapkan untuk isteri saya. Hahaha, gombal deh.

Cukup beralasan bukan, mengapa harapan dan bayangan saya melambung jauh? Saya tak akan pernah mengubur harapan terhadap layar televisi di Indonesia yang akan dipenuhi oleh tayangan yang memiliki nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia yang begitu luas dan mendalam, hingga dapat mempengaruhi cara berpikir pemirsa yang menjadi jijik terhadap tindakan yang tak bermoral (korupsi, dll.), dan yang bertentangan dengan budaya ketimuran (tindakan asusila, dll.). Saya tak akan pernah menepis bayangan terhadap layar bioskop di Indonesia yang akan dipenuhi oleh tayangan yang menceritakan tentang konsep-konsep: ketuhanan, manusia, hubungan sesama, hidup bernegara, keluarga, menuntut ilmu dan lain sebagainya yang berasal dari peradaban yang begitu agung yang dimiliki oleh masyarakat-masyarakat adat di Indonesia.

Kiranya harapan yang serupa ini dimiliki pula oleh pemilik rumah-rumah produksi untuk memproduksi tayangan pada layar televisi di Indonesia yang dapat membentuk mentalitas generasi penerus bangsa yang tangguh demi kelangsungan hidup berbangsa, bukan hanya sekadar meraup keuntungan besar sesaat tanpa memberikan kontribusi yang berarti bagi masa depan bangsa. Kiranya bayangan yang serupa ini dimiliki pula oleh pemilik perusahaan-perusahaan film Indonesia untuk memproduksi tayangan pada layar bioskop di Indonesia yang memiliki pesan yang tajam dan agak abadi, pesan yang tak usang termakan oleh waktu (sekalipun telah turun layar, film tetap dapat diputar sebagai media pembelajaran sejarah, sosiologi, antropologi, dsb. untuk setiap jenjang pendidikan pada sekolah-sekolah di Indonesia), melainkan akan terus bertahan hingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: