Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Bukanlah Robot-Robot Kurikulum

Oleh: Roy Soselisa*

Tak terasa Kurikulum 2013 yang digulirkan untuk menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) telah berjalan selama tiga tahun terakhir. Khususnya pada jenjang sekolah dasar, Kurikulum 2013 telah merata diterapkan pada setiap tingkatan kelas. Awal digulirkannya kurikulum tersebut pada jenjang sekolah dasar, hanya diterapkan pada kelas 1 dan kelas 4, lalu pada tahun yang kedua diterapkan juga pada kelas 2 dan kelas 5, dan pada tahun yang ketiga diterapkan juga pada kelas 3 dan kelas 6. Dengan demikian, pada tahun pelajaran 2015/2016 saat ini, semua tingkatan kelas pada jenjang sekolah dasar telah menggunakan Kurikulum 2013.

Dalam perjalanannya selama tiga tahun terakhir, kurikulum tersebut tak berjalan dengan mulus. Perjalanan yang tak mulus, sebenarnya dapat diduga dan telah tampak sejak awal digulirkannya kurikulum. Indikasinya dapat dilihat dari cukup banyak penolakan atau setidaknya penundaan terhadap pelaksanaan Kurikulum 2013 dari berbagai kalangan yang ada dalam dunia pendidikan. Namun, kurikulum yang seolah-olah seperti kejar tayang tersebut tetap saja digulirkan oleh pemerintah yang kala itu akan berganti.

Sesuai dugaan awal, setelah bergantinya pemerintahan, melalui kementerian yang terkait, Kurikulum 2013 pun akhirnya dihentikan bagi sekolah yang baru menjalankan kurikulum tersebut selama 1 semester, dan untuk kegiatan belajar mengajar kembali menggunakan KTSP. Sementara bagi sekolah yang telah menjalankan kurikulum tersebut selama 3 semester, tetap menjalankan Kurikulum 2013 sembari menunggu hasil evaluasi yang sedang diproses oleh pemerintah saat ini untuk mencari kekurangannya dan memperbaiki kekurangan yang ada agar menjadi lebih sempurna.

Kebijakan baru yang digulirkan oleh pemerintah pusat pada akhir tahun 2014 melalui kementerian yang terkait tersebut, ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Surabaya melalui dinas yang terkait. Pemerintah Kota Surabaya menetapkan semua sekolah negeri yang berada dalam naungannya tetap menjalankan Kurikulum 2013. Sementara bagi sekolah-sekolah swasta yang berada di Kota Surabaya, diberikan kebebasan menentukan pilihan untuk tetap menjalankan Kurikulum 2013 atau beralih menggunakan KTSP kembali.

Melihat kondisi yang demikian, meski segala sesuatu masih dapat berjalan seperti biasa, namun bila dicermati dan direnungkan secara mendalam, sebenarnya dunia pendidikan kita saat ini berada dalam “silent period” atau “periode diam”. Sebuah periode penantian digulirkannya kebijakan yang baru, menantikan kebijakan tentang kurikulum yang baru hanya dengan diam membisu, tanpa bisa menyuarakan harapan dan keinginan yang dimiliki oleh Guru Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi (PJOK) tentang bentuk kegiatan belajar mengajar dengan kurikulum yang baru nanti.

Dalam Kurikulum 2013 untuk jenjang sekolah dasar, dengan masuknya mata pelajaran PJOK ke dalam tematik, menjadikan posisi Guru PJOK tidak jelas. Bukan hanya tidak jelas keberadaan dan fungsinya sebagai pendidik (karena guru kelas pun sebenarnya dapat melaksanakan pembelajaran yang berupa praktek bagi peserta didik sesuai tema yang terkait), namun juga tidak jelas metode pembelajaran yang ada di dalamnya. Seharusnya mata pelajaran PJOK tidak ditematikan, karena tujuan mata pelajaran PJOK berbeda dengan tujuan dari mata pelajaran yang lain. Posisi yang tepat bagi guru PJOK adalah setara dengan posisi Guru Agama dan Budi Pekerti yang dapat berdiri sendiri, tidak masuk ke dalam tematik.

Mata pelajaran PJOK tak ubahnya seperti mata pelajaran Agama dan Budi Pekerti, bila mata pelajaran Agama dan Budi Pekerti tidak dimasukan ke dalam tematik mungkin karena alasan akidah (kepercayaan dasar) yang berbeda dari setiap keyakinan. Sehingga guru kelas tidak dapat melaksanakan pembelajaran bagi siswanya sendiri, karena dibutuhkan guru Agama dan Budi Pekerti yang kompeten untuk mengajarkan akidah tersebut. Lalu yang menjadi pertanyaan, mengapa tidak demikian pula yang diterapkan untuk mata pelajaran PJOK yang memiliki nilai-nilai sendiri yang berbeda dengan mata pelajaran lain? Sehingga tetap dibutuhkan guru PJOK yang kompeten untuk mengajarkan nilai-nilai yang ada dalam mata pelajaran PJOK.

Mata pelajaran PJOK seharusnya disiapkan secara serius, khusus dan terpisah dari tematik seperti mata pelajaran Agama dan Budi Pekerti, karena mata pelajaran PJOK turut berperan terhadap hasil belajar peserta didik pada aspek afektif yang membentuk karakter dengan nilai-nilai olahraga (Sumber: United Nation, 2003). Nilai-nilai tersebut antara lain: cooperation (kecakapan bekerjasama), communication (kecakapan dalam berkomunikasi), respect for the rules (sikap menghormati hukum atau aturan-aturan), problem-solving (kecakapan dalam memecahkan masalah), understanding (kecakapan pemahaman seperti memahami orang lain), connection with others (kecakapan berhubungan dengan orang lain), leadership (kecakapan memimpin), respect for others (menghargai orang lain), value of effort (kerja keras), how to win (membangun kecakapan dalam menyikapi kemenangan), how to lose (membangun kecakapan dalam menyikapi kekalahan), self confidence (membangun kepercayaan diri), self-esteem (membangun penghargaan pada diri sendiri), trust (membangun kepercayaan), honesty (kejujuran), self-respect (menjaga kehormatan diri), tolerance (membangun sikap toleransi), resillience (membangun daya beradaptasi), team work (kecakapan bekerja sama dalam sebuah kelompok), discipline (disiplin).

Nilai-nilai yang ada dalam olahraga inilah yang nantinya saat terus dibiasakan dalam setiap kegiatan belajar mengajar, akan menginternalisasi dalam diri peserta didik hingga membentuk sebuah sistem perilaku. Namun, ini semua dapat terjadi hanya dengan catatan bila mata pelajaran PJOK tidak masuk ke dalam tematik, karena memasukan PJOK ke dalam tematik hanya akan membelenggu guru PJOK dan tidak memberikan kebebasan bagi guru PJOK.

Makin anehnya lagi dalam Kurikulum 2013 untuk mata pelajaran PJOK tidak terpisah dari tematik, namun untuk penyusunan RPP dan evaluasi pembelajaran dilakukan terpisah dari penyusunan RPP dan evaluasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru kelas. Mengapa bukan sejak awal saja mata pelajaran PJOK dipisahkan dari tematik seperti mata pelajaran Agama dan Budi Pekerti? Sehingga dapat memudahkan guru PJOK dalam menyusun RPP dan melakukan evaluasi pembelajaran, tanpa perlu “babak belur” lebih dulu, karena telah melakukan pemetaan kompetensi dasar dari setiap tema yang ada secara khusus untuk mata pelajaran PJOK.

Babak belur yang dirasakan oleh guru-guru PJOK pada jenjang sekolah dasar sangat terasa saat awal Kurikulum 2013 digulirkan. Kala itu, setiap guru PJOK yang menggunakan Kurikulum 2013 dalam kegiatan belajar mengajar, pasti akan kewalahan saat mengisi rublik penilaian (belum lagi dalam menyiapkan administrasi pembelajaran). Seperti salah satu contoh rubrik penilaian mata pelajaran PJOK untuk kelas 4 yang ada dalam aplikasi rapor online yang harus diisi oleh setiap guru PJOK di Kota Surabaya dalam melaporkan hasil belajar peserta didik sebagai berikut (KI singkatan dari Kompetensi Inti, KD singkatan dari Kompetensi Dasar):

Kelas 4, Semester Genap, Tahun Pelajaran 2013/2014

SPRITUAL (KI-1):

1. OBSERVASI: Ketaatan Beribadah, Perilaku Bersyukur, Berdoa, Tolerasi Beribadah (keterangan: dalam rubrik Observasi terdiri dari empat rubrik penilaian. Pada masing-masing rubrik terdiri dari empat kolom yang harus diisi, dengan rentang nilai yang harus diisikan 1 s.d. 4).

2. DIRI SENDIRI: Ketaatan Beribadah, Perilaku Bersyukur, Berdoa, Tolerasi Beribadah (keterangan: dalam rubrik Diri Sendiri terdiri dari empat rubrik penilaian. Pada masing-masing rubrik terdiri dari empat kolom yang harus diisi, dengan rentang nilai yang harus diisikan 1 s.d. 4).

3. ANTAR TEMAN: Ketaatan Beribadah, Perilaku Bersyukur, Berdoa, Tolerasi Beribadah (keterangan: dalam rubrik Antar Teman terdiri dari empat rubrik penilaian. Pada masing-masing rubrik terdiri dari empat kolom yang harus diisi, dengan rentang nilai yang harus diisikan 1 s.d. 4).

SOSIAL (KI-2):

1. OBSERVASI: Jujur, Disiplin, Tanggung Jawab, Sopan Santun, Peduli, Percaya Diri, Patuh Teliti (keterangan: dalam rubrik Observasi terdiri dari tujuh rubrik penilaian. Pada masing-masing rubrik terdiri dari empat kolom yang harus diisi, dengan rentang nilai yang harus diisikan 1 s.d. 4).

2. DIRI SENDIRI: Jujur, Disiplin, Tanggung Jawab, Sopan Santun, Peduli, Percaya Diri, Patuh Teliti (keterangan: dalam rubrik Diri Sendiri terdiri dari tujuh rubrik penilaian. Pada masing-masing rubrik terdiri dari empat kolom yang harus diisi, dengan rentang nilai yang harus diisikan 1 s.d. 4).

3. ANTAR TEMAN: Jujur, Disiplin, Tanggung Jawab, Sopan Santun, Peduli, Percaya Diri, Patuh Teliti (keterangan: dalam rubrik Antar Teman terdiri dari tujuh rubrik penilaian. Pada masing-masing rubrik terdiri dari empat kolom yang harus diisi, dengan rentang nilai yang harus diisikan 1 s.d. 4).

PENGETAHUAN (KI-3):

Untuk rubrik Pengetahuan memasukan Nilai Per KD, Nilai UTS dan UAS (keterangan: dalam rubrik Pengetahuan terdiri dari 4 KD selama satu semester, dengan rentang nilai yang harus diisikan 0 s.d. 100).

KETERAMPILAN (KI-4):

Untuk rubrik Keterampilan memasukan Nilai Praktek/Project/Portofolio (keterangan: dalam rubrik Keterampilan terdiri dari 5 KD selama satu semester, dengan rentang nilai yang harus diisikan 0 s.d. 100).

Dengan menyaksikan betapa banyaknya rubrik penilaian tersebut di atas, dapat dibayangkan betapa kewalahannya guru-guru PJOK yang terbelunggu kala itu dengan adanya kurikulum yang baru. Namun setelah setahun berjalan, dilakukan revisi terhadap rubrik penilaian yang ada. Revisi yang dilakukan terhadap rubrik penilaian untuk mata pelajaran PJOK dapat dilihat dengan hilangnya rubrik penilaian Spritual (KI-1) dan Sosial (KI-2), sehingga pada tahun pelajaran berikutnya untuk rubrik penilaiannya berubah sebagai berikut:

Kelas 4, Semester Genap, Tahun Pelajaran 2014/2015

PENGETAHUAN (KI-3):

Untuk rubrik Pengetahuan memasukan Nilai Per KD, Nilai UTS dan UAS (keterangan: dalam rubrik Pengetahuan terdiri dari 6 KD selama satu semester, dengan rentang nilai yang harus diisikan 0 s.d. 4.00 atau nilai yang menujukan bilangan konversi dari 0 s.d. 100 lalu dibagi 25).

KETERAMPILAN (KI-4):

Untuk rubrik Keterampilan memasukan Nilai Praktek/Project/Portofolio (keterangan: dalam rubrik Keterampilan terdiri dari 6 KD selama satu semester, dengan rentang nilai yang harus diisikan 0 s.d. 4.00 atau nilai yang menujukan bilangan konversi dari 0 s.d. 100 lalu dibagi 25).

HASIL AKHIR (KI-3 dan KI-4):

Dalam rubrik Hasil Akhir tersebut, sistem dari aplikasi rapor online akan secara otomatis menampilkan uraian secara deskriptif tentang hasil bejar peserta didik, berdasarkan jumlah dari angka-angka yang telah dimasukan oleh pendidik pada KI-3 dan KI-4. Hanya dengan sekali klik pada rubrik tersebut, maka kalimat-kalimat yang telah disediakan oleh sistem aplikasi yang akan muncul untuk kemudian diprint sebagai hasil belajar peserta didik, maupun untuk digunakan sebagai penyimpanan data rapor peserta didik secara online.

Selain hilangnya KI-1 dan KI-2, hal baru yang dijumpai di dalamnya adalah adanya rubrik Hasil Akhir yang membedakan rubrik penilaian dengan tahun pelajaran sebelumnya. Begitu pula saat menginjak tahun yang ketiga, rubrik penilaiannya pun tak jauh berbeda, yang membedakan hanya jumlah KD yang tersedia dalam setiap tema sepanjang semester (karena jumlah KD yang tersedia setiap semesternya berbeda), seperti contoh berikut:

Kelas 4, Semester Ganjil, Tahun Pelajaran 2015/2016

PENGETAHUAN (KI-3):

Untuk rubrik Pengetahuan memasukan Nilai Per KD, Nilai UTS dan UAS (keterangan: dalam rubrik Pengetahuan terdiri dari 10 KD selama satu semester, dengan rentang nilai yang harus diisikan 0 s.d. 4.00 atau nilai yang menujukan bilangan konversi dari 0 s.d. 100 lalu dibagi 25).

KETERAMPILAN (KI-4):

Untuk rubrik Keterampilan memasukan Nilai Praktek/Project/Portofolio (keterangan: dalam rubrik Keterampilan terdiri dari 6 KD selama satu semester, dengan rentang nilai yang harus diisikan 0 s.d. 4.00 atau nilai yang menujukan bilangan konversi dari 0 s.d. 100 lalu dibagi 25).

HASIL AKHIR (KI-3 dan KI-4):

Dalam rubrik Hasil Akhir tersebut, sistem dari aplikasi rapor online akan secara otomatis menampilkan uraian secara deskriptif tentang hasil bejar peserta didik, berdasarkan jumlah dari angka-angka yang telah dimasukan oleh pendidik pada KI-3 dan KI-4. Hanya dengan sekali klik pada rubrik tersebut, maka kalimat-kalimat yang telah disediakan oleh sistem aplikasi yang akan muncul untuk kemudian diprint sebagai hasil belajar peserta didik, maupun untuk digunakan sebagai penyimpanan data rapor peserta didik secara online.

Revisi terhadap Kurikulum 2013 memang telah dilakukan, namun secara esensi tidak melepaskan belenggu guru-guru PJOK karena perangkap Kurikulum 2013. Dengan tetap menggunakan model pembelajaran tematik dan evaluasi pengajaran seperti yang ada dalam Kurikulum 2013, guru PJOK hanya akan menjadi robot-robot kurikulum, karena guru PJOK hanya akan diarahkan ke mana saja sesuai dengan maunya rancangan yang telah ditentukan, guru PJOK akan menjadi mandul karena hanya bergerak di bawah kendali program yang telah ditentukan oleh sang tuan.

Model pembelajaran dan evaluasi pengajaran yang tepat untuk mata pelajaran PJOK sebenarnya telah dijumpai dalam KTSP. Dalam KTSP, untuk mata pelajaran PJOK yang mendesain model pembelajaran adalah guru yang bersangkutan dengan memahami tujuan mengajar PJOK sesuai dengan yang ada pada Undang-Undang atau Permendiknas, sehingga guru PJOK dapat menentukan arah yang tepat untuk kegiatan belajar mengajar. Dengan cara demikian, guru PJOK dapat berorientasi pada proses bukan hanya pada hasil, karena evaluasi pengajaran harus diikuti dengan proses yang benar. Mustahil dapat dijumpai hasil evaluasi pengajaran yang berpengaruh pada proses pengajaran, karena yang benar adalah proses pengajaran yang berpengaruh pada hasil evaluasi pengajaran.

Tujuan kegiatan belajar mengajar pada mata pelajaran PJOK bukanlah angka-angka maupun deskripsi kata-kata seperti yang ada dalam Kurikulum 2013, melainkan tujuan mata pelajaran PJOK adalah untuk menciptakan anak-anak Indonesia yang setelah selesai belajar PJOK akan menjadi pribadi-pribadi yang sehat, kuat, bugar dan tidak mudah lelah dalam menjalankan profesinya sesuai panggilan masing-masing. Selain itu, dalam menjalankan profesi telah dibekali dengan karakter yang kuat sesuai dengan nilai-nilai olahraga yang telah dibangun dalam dirinya sejak duduk pada bangku sekolah dasar.

Dalam “silent period” atau “periode diam” ini, harapan yang besar dimiliki oleh guru-guru PJOK untuk terlepas dari belenggu yang ada, keinginan yang kuat dimiliki oleh guru-guru PJOK untuk tidak menjadi robot-robot kurikulum lagi. Dengan adanya evaluasi terhadap Kurikulum 2013, semoga membuahkan hasil yang menggembirakan. Hasil yang dapat memberikan kebebasan bagi guru-guru PJOK untuk mencapai empat tujuan penting dalam pengajaran PJOK, yaitu: 1) kecakapan gerak dasar, 2) meningkatkan kebugaran, 3) menanamkan dan membudayakan sportivitas, dan 4) kesehatan. Selain itu dapat memberikan layanan kepada para peserta didik untuk melakukan kegiatan olahraga, baik dalam upaya peningkatan prestasi melalui klub-klub sekolah maupun mengakomodasi minat berolahraga peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler (Sriundy, 2014).

*Roy Soselisa merupakan Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan di Lingkungan Pemerintah Kota Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: