Sebuah Kesia-siaan Keikutsertaan Indonesia di Formula One

Benar-benar “menyesakan dada” saat mengetahui rencana baru dari sebuah program “membusungkan dada” ini: http://goo.gl/zz0qdp. Sebuah kesia-siaan besar, bila gaji setiap pegawai negeri di Indonesia akan dipotong hanya untuk membantu seorang pembalap berkiprah di ajang Formula One. Pertanyaannya: Apa yang bisa didapat bangsa Indonesia dari investasi sebesar ratusan milyaran rupiah ini? Tentu akan jauh lebih lebih berguna ke depannya, bila inventasi sebesar ratusan milyaran rupiah ini digunakan untuk lebih meningkatkan sistem (pembinaan) keolahragaan di Indonesia pada banyak cabang (pembinaan) olahraga, mulai dari level tarkam (antar kampung) hingga elit internasional, bukan hanya fokus pada satu cabang olahraga saja, bahkan hanya untuk “seorang diri” saja seperti ini.

Benar-benar sesak dada ini mengetahui hal seperti demikian, karena saya (dan rekan-rekan dalam organisasi) pribadi sedang merasakan setengah mampusnya “mengemis anggaran” untuk menjalankan roda pembinaan olahraga disabilitas di Provinsi Jawa Timur. Sejak pertengahan tahun lalu kami mengemis sana sini (mulai dari SKPD terkait, bantuan dana CSR, dll.), dengan berusaha mengajukan rencana anggaran untuk melakukan pembiayaan terhadap program kerja tahun 2016 yang kami miliki. Namun tak satupun terealisasi, kami seperti merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan: sebelah sini (kami) dilanda kegilaan mengungkapkan cinta, sementara yang sebelah sana acuh tak acuh memalingkan wajah.

Hal seperti ini sebenarnya tak perlu terjadi, bila kementerian terkait lebih peduli mengawal hingga kami dapat berjalan dengan baik tanpa terseok-seok (kementerian terkait pada pertengahan tahun lalu turut bersama dengan induk organisasi kami yang ada di pusat telah memproklamirkan diri untuk tidak berada dalam naungan induk organisasi olahraga non-disabilitas, dan kedudukan kami pun menjadi sejajar dengan induk organisasi olahraga non-disabilitas). Karena dengan adanya regulasi dalam tataran internasional maupun nasional, maka kami (selaku induk organisasi olahraga prestasi yang resmi bagi kaum disabilitas/disability) yang ada dalam tataran daerah pun turut mengikuti regulasi yang ada dengan tidak berada dalam naungan induk organisasi olahraga non-disabilitas, dan pada akhirnya menjadikan kami seperti anak kucing yang belum mengetahui apa bisa melanjutkan hidup ke depannya karena kehilangan induk yang menyusui seperti saat ini.

Seandainya saja kementerian terkait lebih peka kepada kami (sebagai salah satu contoh kasus pembinaan olahraga prestasi di Indonesia), dengan bersedia menjadi “induk asuh” sementara yang melakukan pembiayaan atau penyediaan dana yang sangat kami butuhkan dalam pembinaan olahraga prestasi yang terpadu dan terarah, yang dapat dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhi, diantaranya: a) adanya program yang berjenjang dan berkelanjutan, b) hubungan yang baik antara semua pihak (atlet, pelatih, pengurus dan pemerintah), c) ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai (gedung sekretariat, gedung olahraga, lapangan olahraga, asrama atlet, dll.).

Kami menyadari bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pembinaan olahraga prestasi, tidak akan dapat dikerjakan secara menyeluruh hanya dalam waktu yang singkat, minimal yang dapat dikerjakan dalam waktu yang singkat seperti saat ini adalah membantu induk organisasi olahraga disabilitas di setiap provinsi yang ada di Indonesia (meski tidak semua, beberapa ada yang sudah mendapat perhatian besar dari pemerintah provinsi setempat dengan adanya otonomi daerah) terkait dengan rencana keikutsertaannya pada Pekan Paralimpik Nasional XV Tahun 2016 di Jawa Barat.

Sebagai gambaran sederhana, dalam persiapan keikutsertaan sebuah provinsi dengan kekuatan kontingen 120 atlet (seratus dua puluh atlet ya, bukan hanya satu atlet) pada Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV Tahun 2016, tidaklah membutuhkan anggaran yang menggila hingga sebesar Rp 226 milyar (biaya keikutsertaan sepanjang tahun dalam Formula One), hanya dengan anggaran Rp 7 milyar saja sebuah provinsi sudah dapat mengerjakan tahapan-tahapan berarti yang harus dilalui, diantaranya: a) menyelenggarakan Pekan Paralimpik Daerah, yang berfungsi sebagai ajang seleksi daerah untuk menjaring atlet-atlet disabilitas yang berbakat dan berpotensi meraih juara; b) Pemusatan Latihan Daerah Menuju Peparnas XV Tahun 2016, yang berlangsung selama enam bulan dengan tujuan untuk menyediakan wadah bagi atlet berbakat yang telah terjaring, maupun atlet yang sebelumnya telah menjadi juara bertahan pada cabang olahraganya untuk berlatih dengan keras guna meningkatkan prestasi dan meraih juara; c) Pembiayaan kebutuhan kontingen pada Peparnas XV Tahun 2016.

Dapat dibayangkan bukan, betapa bergunanya investasi sebesar Rp 226 milyar itu bila digunakan untuk 33 provinsi seluruh Indonesia (bila dilakukan pembagian, setiap provinsi mendapatkan bagian Rp 6,8 milyar)? Sebuah investasi yang mendorong setiap provinsi agar dapat mempersiapkan dirinya dengan baik dalam ajang Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV Tahun 2016, sebuah ajang yang sangat mungkin dapat memunculkan ratusan atlet disabilitas yang akan mengibarkan Sang Merah Putih dengan gagah berani di luar negeri di hadapan bangsa-bangsa lain. Sulit menemukan payung hukumnya terkait hal tersebut? Rasanya tak sulit bila (teringat dengan usaha memajukan pembinaan olahraga disabilitas di Indonesia) telah dikaji secara mendalam terlebih dahulu, daripada sekadar menemukan “payung hukum” untuk sebuah kesia-siaan keikutsertaan Indonesia di Formula One yang hanya akan membuat kebocoran dalam APBN dan merugikan masyarakat karena harus menyumbangkan dana untuk sebuah program “membusungkan dada” ini.

Akhir kata, saya tidak sedang menyampaikan tentang kesia-siaan akan sebuah prestasi yang berhasil diraih putra-putri bangsa ini, namun saya sedang menyampaikan tentang kesia-siaan akan keikutsertaan bangsa ini dalam ajang “hura-hura”, sementara masih banyak sisi dalam sistem (pembinaan) keolahragaan di Indonesia yang masih harus diperbaiki. Untuk menutup catatan singkat ini, meski kami kurang mendapat perhatian, kami pastikan bahwa kami tak akan pernah berhenti berusaha melakukan pembinaan olahraga disabilitas di Provinsi Jawa Timur, dan semoga usaha kami tetap dapat memberikan kontribusi bagi bangsa ini, dengan munculnya beberapa atlet disabilitas dari Provinsi Jawa Timur yang mengibarkan Sang Merah Putih dalam setiap event olahraga, baik dalam event tingkat regional maupun tingkat internasional (seperti yang selama ini telah diraih). Salam Olahraga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: