Renungan Gili Labak: Memberikan Pemberian Yang Terbaik Bagi Kehidupan

Dalam sebuah perjalanan menuju pulau Gili Labak (catatan lain: https://goo.gl/TBKB6h), saya tidak menyia-nyiakan setiap detik yang berharga. Sembari memandang luasnya lautan dan pulau-pulau kecil yang terlewati sepanjang perjalanan, saya melakukan perenungan:

1. Saat melewati dan menyaksikan pulau Gili Raja, Gili Genting, dan Poteran dari jarak dekat, benak saya melambung jauh pada cerita rekan-rekan pendidik yang ditugaskan oleh Pemerintah untuk mengajar di pulau-pulau terluar pada wilayah teritorial Kabupaten Sumenep tersebut (lebih banyak mendapatkan cerita dari seorang rekan yang bertugas di pulau Masalembu). Kemarin saya tidak hanya mendengar ceritanya lagi, namun saya memiliki kesempatan untuk menyaksikannya secara langsung—meski perahunya tidak berlabuh. Tak terbayangkan betapa luar biasa pengabdian mereka, berada pada pulau-pulau yang bukan merupakan tempat kelahirannya, bahkan mungkin nama pulau tersebut baru pertama kali di dengarnya, hal yang seperti demikian mungkin bukan hal yang menyenangkan dan nyaman untuk dijalani. Pengabdian rekan-rekan pendidik di pulau-pulau terluar tersebut tentu bukan hanya untuk setahun atau dua tahun, melainkan bertahun-tahun, bahkan bila mereka tak mengajukan mutasi ke daerah lain, sangat mungkin seumur hidup atau minimal sampai pensiun akan berada pada pulau-pulau yang hingga saat ini masih merasakan nyala listrik hanya pada waktu-waktu tertentu, biasanya malam hari pada pukul 18.00 s.d. 21.00 WIB. Merenungkan semua ini, saya diingatkan bahwa akan sangat memalukan dan tak tahu diri bila suatu ketika saya harus mengeluh hanya karena mengajar di daerah pinggiran Kota Surabaya dengan warna kehidupan sosial peserta didik yang beragam, dan mayoritas berasal dari latar belakang keluarga kelas menengah ke bawah. Tak elok rasanya mengeluhkan segala hambatan hanya karena kepentingan pribadi, sudah selayaknya harus mengalahkan kepentingan diri sendiri dan memastikan kepentingan peserta didik lebih terlayani dengan prioritas tinggi. Dedikasi rekan-rekan pendidik pada pulau-pulau kecil yang saya lalui dalam perjalanan menuju Gili Labak haruslah kita miliki, memberikan pemberian yang terbaik bagi kehidupan.

2. Pulau Gili Labak (mungkin) lima tahun yang lalu merupakan pulau yang tak berpenghuni, namun kini mulai berdatangan penghuni. Semoga dengan terus berdatangannya penghuni akan dapat menjaga keseimbangan dan kelestarian dari pulau kecil yang katanya disebut-sebut sebagai “hidden paradise” ini, bukan malah merusak keseimbangan dan kelestariannya—meski tampak penanaman bibit pohon cemara di beberapa sudut tepian pantai, namun kemarin saya juga menjumpai banyak sampah dibuang seenak udelnya, hingga menyebabkan banyak sampah terserak di tepian pantai, terumbu karang pun banyak yang rusak akibat jangkar dari perahu dan kayu pendorong yang berfungsi sebagai kemudi perahu saat akan berlabuh. Menjaga keseimbangan dan kelestarian alam juga merupakan usaha memberikan pemberian yang terbaik bagi kehidupan, karena cara atau keadaan kita dalam menjaga keseimbangan dan kelestarian alam adalah kehidupan itu sendiri.

3. Kebersamaan saya bersama komunitas pembelajar Torang Basodara boleh terjadi, tentu juga karena se-izin dari isteri tercinta, Elfrita Santy. Isteri tercinta yang selalu merelakan waktu kebersamaan kami direnggut, demi membiarkan saya bisa belajar banyak hal dalam kehidupan, dengan harapan dan tujuan agar dapat memberikan pemberian yang terbaik bagi kehidupan. Namun, bagaimana pun juga, waktu kebersamaan tak boleh dihilangkan, waktu yang berkualitas tetap harus diberikan, dan saya pun akan mengakhiri renungan singkat ini, karena saya harus bersiap menuju ke tempat wisata lainnya (pegunungan) sebagai salah satu usaha menjadikan hubungan suami isteri yang lebih berkualitas dalam kehidupan ini. 😀

IMG_0337

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: