Tertipu Bahasa Tubuh

IMG_3585“Tolong fotoin (dengan fokus tubuh) dari jarak dekat dong, nampak juga tulisan Telaga Sarangan yang ada di belakang ya.” Ujar saya kepada Elfrita Santy dalam sebuah kesempatan liburan dua minggu yang lalu (8/5/2016). Setelah beberapa saat, saya pun melihat hasil jepretan dari wanita cantik ini, 😀 hasilnya sesuai dengan tujuan dan dugaan saya, tujuannya adalah untuk mengetahui sudah seberapa gelap warna kulit saya ini (akibat tuntutan profesi yang selalu bermandikan sinar matahari setiap hari, terlebih setelah dua hari sebelumnya berjemur di Pulau Gili Labak: https://goo.gl/tGGuqh), dan ternyata makin bertambah gelap warna kulit saya. Sementara itu, dugaannya adalah tentang bahasa tubuh (pose) saya dalam foto pasti biasa-biasa saja (minimal sama seperti sebelum-sebelumnya), dan ternyata tepat dugaannya, karena saya selalu kebingungan untuk mengungkapkan gambaran atau perasaan (kurang ekspresif) melalui bahasa tubuh saat sedang dipotret.

Berbicara mengenai bahasa tubuh, sebenarnya bukan sekadar berbicara tentang hal yang sederhana, melainkan berbicara tentang hal yang kompleks. Bahkan saking kompleksnya, sebuah kejahatan dapat diungkap melalui teknik membaca bahasa tubuh, dan bagian yang lebih kecil dari itu adalah mikro ekspresi. Dengan teknik membaca bahasa tubuh dan mikro ekspresi, akan dapat dideteksi isi hati, pikiran, dan kepribadian seseorang. Disiplin ilmu yang mempelajari bahasa tubuh dan mikro ekspresi ini adalah psikologi (forensik atau kriminal), dalam banyak profesi sebenarnya dibekali dengan keilmuan membaca bahasa tubuh dan mikro ekspresi, di antaranya profesi intelijen dan profesi penyidik. Jadi, saat melihat betapa vitalnya bahasa tubuh dan mikro ekspresi dalam profesi tertentu, dapat dipastikan hal tersebut bukan merupakan hal yang sederhana.

Pertanyaannya sekarang, apakah seorang pendidik juga perlu dibekali dengan kemampuan membaca bahasa tubuh dan mikro ekspresi? Bagi saya pribadi jawabannya perlu, karena dengan memiliki kemampuan tersebut, seorang pendidik—paling tidak dalam jenjang pendidikan dasar dan menengah—dapat membaca isi hati dan pikiran peserta didik yang coba memanipulasi keadaan untuk tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar (pura-pura sakit, dll.), sehingga seorang pendidik dapat mencegah suatu tindakan yang tidak diinginkan sebelum terjadi.

Sementara dalam jenjang pendidikan tinggi, apakah perlu seorang pendidik dibekali dengan kemampuan yang serupa? Untuk jawaban seriusnya perlu, karena seorang pendidik dalam jenjang pendidikan tinggi dapat berperan sebagai “plagiarism checker” pada pintu yang pertama—sebelum pada pintu yang berikutnya menggunakan software “plagiarism checker” yang sesungguhnya—untuk setiap karya tulis ilmiah yang dibuat oleh peserta didik. Lalu, untuk jawaban yang tidak seriusnya juga perlu, karena dengan memiliki kemampuan yang serupa, seorang pendidik dapat mengetahui apakah ciuman tangan dari peserta didik itu tulus sebagai bentuk penghormatan, atau hanya sekadar karena nilainya belum keluar? :D Terutama dalam jenjang pascasarjana, ciuman tangan dari peserta didik kepada pendidik sebelum lulus, suatu ketika akan dapat berubah menjadi tikaman dari belakang setelah lulus (saat menjadi rekan sejawat, akan menjadi murid yang lupa pada gurunya, dan lain sebagainya). 😉

Berdasarkan pengalaman pribadi, bagi saya yang tidak dilahirkan dalam keluarga yang tidak memiliki budaya cium tangan, terkadang mencium tangan orang lain (dan dicium tangan oleh orang lain) itu terasa risi, karena kedua orang tua saya tidak pernah saya cium tangannya—bahasa tubuh atau bahasa kasih kami berbeda, saya biasanya menempelkan hidung pada kening Mama, sementara dengan Papa berbeda pula bahasanya—sementara orang lain kok harus saya cium tangannya. Meski begitu, sekalipun tidak mencium tangan setiap pendidik yang pernah hadir dalam perjalan akademis saya, saya tetap memiliki rasa hormat yang tinggi dalam hati dan pikiran kepada mereka. Tak jarang juga, saat saya teringat—kadang tidak teringat, karena tidak terbiasa—untuk membahasakan rasa hormat yang ada dalam hati dan pikiran melalui tubuh, saya pun mencium tangan mereka tanpa tendensi karena nilai belum keluar atau karena belum lulus, namun murni karena rasa hormat yang tinggi terhadap kedalaman ilmu dan keluasan pengetahuan yang mereka miliki.

Kesimpulan dari catatan sederhana ini, jangan mudah tertipu dengan bahasa tubuh, karena bahasa tubuh dan mikro ekspresi bukanlah hal yang sederhana. Perhatikan dengan saksama setiap kekhususan yang ada di dalamnya, dan jangan mudah menghakimi segala sesuatu yang nampak oleh kita dalam diri orang lain, karena belum tentu apa yang kita lihat itu sesuai dengan yang kita duga. Lalu kira-kira, bahasa tubuh dan mikro ekspresi apa yang sedang saya sampaikan dalam foto saya tersebut? Apakah mungkin ada yang menebak bahwa dengan saya bertolak pinggang, maka menandakan saya berkepribadian arogan? Atau mungkin ada yang menebak dari senyum dan sorot mata saya menandakan pribadi yang doyan meremehkan orang lain? Apabila ada yang menebak seperti demikian, sekali lagi saya tekankan untuk jangan mudah tertipu dan menghakimi, karena semua tebakan itu saya pastikan salah. Kenyataan yang benar melalui bahasa tubuh dan mikro ekpresi yang saya tampilkan sesuai dengan isi hati dan pikiran saya saat itu adalah saya sedang menantang Anda semua untuk berani memiliki warna kulit yang eksotis seperti yang saya miliki, dan menantang Anda semua untuk berani memiliki potongan gundul yang mempesona seperti yang saya miliki ini. Hahaha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: