Paha dan Belahan Dada Wanita Dalam Pandangan Mata Pria

Sebulan telah berlalu, kini menginjakan kaki kembali di Kota Kembang untuk mengikuti Bimbingan Teknik Klasifikasi dan Bimbingan Teknik Registrasi Online Peparnas XV Tahun 2016 Jawa Barat selama tiga hari ke depan. Pada tengah hari tadi kami (saya dan dua rekan yang lain) tiba di Bandara Husein Sastranegara, dan dijemput oleh tim trasportasi dari panitia pelaksana Peparnas XV. Saat berjalan menuju mobil yang ada di parkiran bandara, kami beriringan dengan gerombolan wanita berbusana mini bagian atas dan bagian bawah, lalu sopir yang menjemput kami menceletuk: “Nikmati saja, Pak. Rezeki nggak boleh ditolak.” Kami pun melempar senyum untuk merespon celetukannya.

Saya pribadi tak terlalu kaget dengan cara berbusana yang serba mini itu, karena sebenarnya (menurut saya pribadi) Kota Bandung lebih dikenal sebagai Kota Mode atau Kota Fashion, daripada dikenal dengan julukan Kota Kembang. Mengapa demikian? Karena sebagai sebuah kota yang mendapat julukan Kota Kembang, kondisi kembang di kota tersebut tak ada separuhnya dibanding dengan Kota Pahlawan yang terhampar kembang pada banyak titik—sampai-sampai bercandaan penduduk Kota Pahlawan, dana APBD kota tersebut hanya dihabiskan untuk belanja kembang—sementara dalam hal industri mode atau fashion di kota ini lebih menggeliat dibanding dengan kota-kota lain di Indonesia.

Berbicara tentang cara berbusana yang serba mini dari kaum wanita, saya jadi teringat dengan tingkat kejahatan pemerkosaan pada kaum wanita yang makin menjadi-jadi di Indonesia. Apakah pemerkosaan ini terjadi karena kesalahan dari kaum wanita yang selalu mengumbar paha dan belahan dada? Sehingga selalu membuat kaum pria tak tahan saat melihat cara berbusana dari kaum wanita, lalu saat kaum pria ada kesempatan dan tak bisa menahan diri, maka terjadilah pemerkosaan? Apabila kita menjawab “benar” untuk pertanyaan-pertanyaan tentang alasan terjadinya pemerkosaan tersebut, maka bisa dipastikan bahwa kita telah memiliki cara pandang dan nilai-nilai yang salah.

Pemerkosaan terjadi bukan karena pengaruh dari cara berbusana kaum wanita yang serba mini, melainkan karena kaum pria sulit untuk “menolak rezeki” saat melihat paha dan belahan dada kaum wanita, kaum pria terlalu men-seksual-kan tubuh kaum wanita. Bukan paha dan belahan dada kaum wanita masalah terbesarnya, melainkan mata jorok dan pikiran kotor kaum pria itu sendiri masalah terbesarnya, karena mau ditutup serapat apa pun tubuh kaum wanita, tetap bisa ditelanjangi oleh mata jorok dan pikiran kotor kaum pria yang sulit untuk “menolak rezeki”—terbukti pada negera-negara yang mayoritas kaum wanitanya berbusana serba tertutup rapat pun, angka tingkat kejahatan pemerkosaannya lebih tinggi dari Indonesia, maka tak heran pula bila anak di bawah umur pun bisa diperkosa, karena masalahnya ada pada mata jorok dan pikiran kotor kaum pria itu sendiri.

Cara pandang dan nilai-nilai yang salah terhadap kaum wanita dalam masyarakat kita inilah yang perlu diubah, kita semua harus mulai memiliki kesadaran gender, dan mulai melunturkan argumen patriarki yang selalu menyalahkan cara berbusana kaum wanita yang serba mini. Sudah saatnya kaum pria harus menetapkan standar yang tinggi bagi dirinya sendiri untuk bisa “menolak rezeki”, sehingga kaum pria dapat menghargai tubuhnya sendiri agar tidak menjadi pemerkosa, dan dapat menghargai tubuh orang lain agar tidak diperkosa (baik dengan hati, pikiran, maupun raga). Sehingga kita semua dapat menghormati hak-hak setiap orang untuk bisa berekspresi dengan tubuh mereka sendiri melalui cara berbusana tanpa perlu takut diperkosa.

Sementara bagi wanita dari Kota Kembang yang sekarang telah menetap di Kota Pahlawan, Elfrita Santy. Tetaplah tenang di Kota Pahlawan sana ya, karena pria dari Kota Pahlawan yang sekarang jadi sering mondar-mandir Kota Kembang ini akan selalu berusaha keras “menolak rezeki” yang datang menghampiri, karena bagiku kaulah satu-satunya “rezeki” yang tak pernah kutolak sampai maut menghampiri. 😀 Buset, gombal amat ini ya? Hahaha.

Kota Kembang, 26 Mei 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: