Pelukku Dari Jauh Untukmu

Seketika ingatan saya melambung jauh pada satu dekade silam, karena tepat pada pukul 01.00 WIB, sebuah permintaan pertemanan dari Koranda menghampiri akun facebook saya. Tanpa menunggu lama, permintaan pertemanan tersebut langsung saya konfirmasi, dan saya pun bergegas melihat segala hal yang tersaji dalam akun facebooknya, sembari menggali segala memori kebersamaan kami yang masih tersimpan rapi dalam lipatan-lipatan otak saya ini.

Namanya seringkali saya kenang dan saya sebut setiap kali berbicara tentang olahraga disabilitas, karena tak dipungkiri dirinya merupakan “pintu masuk” bagi saya untuk terjun makin dalam pada pembinaan dan pengembangan olahraga disabilitas di Kota Surabaya dan Provinsi Jawa Timur–tanpa ada kecenderungan untuk meraih keuntungan (royalitas), melainkan selalu berusaha menyakinkan diri sedang melayani sesama dengan sebuah ketulusan (loyalitas).

Berawal dari sebuah perjumpaan di Lapangan Brawijaya pada satu dekade yang silam, pada akhirnya membawa kami untuk selalu latihan bersama–setiap program latihan yang saya jalankan setiap harinya, selalu diikutinya–hingga satu per satu rekannya sesama tunarungu wicara pun diajak bergabung dengan kami untuk turut serta latihan bersama. Kebersamaan kami tak hanya sebatas di lintasan Atletik, tak jarang kami hang out bersama, mulai dari sering hang out di salah satu Sekolah Luar Biasa khusus bagi siswa tunarungu wicara di Kota Surabaya, hingga pernah ribut dengan preman pasar yang sok jagoan. 😀

Tentang ribut-ribut dengan preman pasar ini, sempat terjadi baku hantam, dan dari ribut-ribut inilah saya jadi makin percaya akan cerita-ceritanya (kami berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat dan foto-foto yang dimilikinya) bahwa dirinya pernah menjadi stuntman yang menggantikan aktor atau aktris dalam suatu adegan berbahaya pada sinema-sinema laga klasik yang pernah tayang di stasiun televisi Indonesia–kalau sekarang sudah PNS nih, selamat ya. 😉

Sebenarnya untuk mengetahui kemampuan yang dimilikinya tak perlu menunggu ribut dengan preman pasar terlebih dahulu sih, karena saat di lapangan pun saya sudah cukup sering dipameri berbagai bentuk gerakan dalam adegan berbahaya yang pernah dilakukannya saat masih terlibat dalam syuting-syuting sinema laga klasik di DKI Jakarta–sebelum akhirnya hijrah ke Kota Surabaya. 😉 Oh iya, saya pun jadi teringat kalau pernah mendokumentasikan dua bentuk gerakannya (dari sekian banyak gerakan yang pernah dipamerkannya) dalam akun facebook saya ini: 1)https://goo.gl/ZpnW7u, 2) https://goo.gl/XcVpQ8

Dini hari ini, saya seperti merasakan sedang berpelukan dengannya, sama seperti pelukan persahabatan yang kami rasakan saat terakhir berjumpa pada Peparnas XIV Tahun 2012 di Pekanbaru, Riau. Meski tak pernah berjumpa kembali secara langsung, namanya akan selalu saya kenang sampai kapan pun, nama dari pribadi yang luar biasa, yang pernah mewarnai jalan kehidupan dari pribadi yang biasa-biasa saja ini. Telinganya boleh saja tak mendengar, mulutnya boleh saja tak mengeluarkan kata-kata, namun hatinya pernah membuat hati saya mendengar kata-kata dari Sang Pemilik Kehidupan untuk pantang menyerah dalam kehidupan ini.

Kota Surabaya, 28 Juni 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: