Renungan Lebaran: Providensia Sang Pencipta

IMG-20160704-WA0033Sebuah ritual tahunan selalu kami langsungkan setiap menjelang lebaran, pada tahun-tahun yang lalu saat kami masih berada dalam satu kota, ritual tersebut sering dilangsungkan dengan cara saling mengunjungi kediaman salah seorang di antara kami untuk saling bersilahturami—kebiasaan kala itu yang Non Muslim mengunjungi dan berkumpul pada salah satu kediaman yang Muslim. Namun kini, untuk memudahkan rangkaian silahturahmi bagi kami yang tersebar di luar Kota Surabaya—sebagian masih tetap setia menjaga kandang—yang sedang memanfaatkan momen pulang ke kampung halaman, kami lebih memilih menentukan lokasi yang menjadi titik kumpul kami untuk bersilahturahmi.

Setiap ritual tahunan dilangsungkan, pasti akan tersajikan kembali kisah-kisah semasa kami duduk di bangku SMA, kisah-kisah yang pernah kami ukir bersama, mulai dari kisah yang mengiris hati, hingga kisah yang meronakan hati: mulai dari kisah perjuangan sebagai seorang pelajar (jalan kaki saat berangkat dan pulang sekolah, kehabisan duit untuk naik angkutan kota, saling jemput dan antar saat kami telah memiliki kendaraan roda dua, belajar keras agar dapat menjadi pemasok jawaban saat ujian, dsb.), kisah kenakalan sebagai seorang pelajar (buang air besar tidak pada tempatnya, coret-coret tembok untuk mengungkapkan kekesalan pada seseorang, saat terlambat melompati pagar belakang sekolah, saling sontek saat ujian, dsb.), hingga kisah cinta sebagai seorang pelajar (cinta penuh perjuangan yang kini telah berhasil disatukan, cinta bebek-bebek buaya, cinta misterius yang tak pernah diungkapkan, cinta abadi yang terluka, dsb.).

Bertahun-tahun yang lalu kami telah mengukir semua kisah itu pada sebuah sekolah yang terletak tepat di jantung Kota Surabaya. Semua kisah yang telah kami lalui, semua kisah yang pernah mewarnai perjalanan hidup kami, dan semua kisah yang telah mengantarkan kami hingga menjadi sosok pribadi yang seperti hari ini dan nanti. Setiap kami tentu memiliki cerita tersendiri yang mungkin tak saling kami ketahui kelanjutan dari kisah-kisah yang ada, mungkin saja ada yang menjadikan kisahnya sebagai batu loncatan untuk terbang lebih tinggi, dan ada pula yang menjadikan kisahnya sebagai bekal yang berarti dalam menapaki kehidupan ini.

Tak terasa, bertahun-tahun kami telah lalui perjalanan kehidupan selepas SMA, dan dalam ajang ritual tahunan pada tahun ini—yang telah dilangsungkan (4/7/2016) bersamaan dengan waktu berbuka puasa hingga empat jam berikutnya, dengan menggunakan dua lokasi yang berbeda pada salah satu pusat perbelanjaan yang ada di bagian barat Kota Surabaya—saya pribadi diantarkan pada sebuah perenungan dari kebersamaan yang ada. Sembari menikmati makanan dan minuman, sembari melarutkan diri dalam perbincangan, benak ini pun melambung pada sebuah perenungan tentang proses kehidupan yang sedang kami jalani.

Setiap kami saat ini sedang menjalani proses kehidupan yang belum diketahui kapan akan berhenti, proses kehidupan itu salah satunya adalah pekerjaan yang sedang kami jalani. Setelah proses yang telah dilalui dan masih akan berlanjut untuk dilalui, di antara kami saat ini ada yang bekerja sebagai: pimpinan cabang dari sebuah bank plat merah, tenaga administrasi pada sebuah lembaga pendidikan, bankir dari sebuah bank swasta yang mapan, entrepreneur dengan prospek yang cerah, sales strategy and marketing manager dari sebuah pabrikan mobil yang diperhitungkan, dan pegawai yang mengabdikan diri pada negeri tercinta ini. 😉

Dengan mengetahui setiap pekerjaan yang ada, benak ini pun makin melambung jauh bahwa dalam proses kehidupan yang sedang terjadi, apa pun pekerjaan yang sedang dijalani, sebenarnya tidak berbicara tentang seberapa besar gaji yang dapat diraih dan seberapa bergengsinya pekerjaan yang dimiliki, melainkan sedang berbicara tentang seberapa besar diri ini dapat mengolah diri, dan seberapa bergengsinya diri ini saat bisa menjadi yang terbaik bagi diri sendiri. Di atas itu semua, yang perlu dipahami adalah setiap pekerjaan yang telah dipercayakan untuk dikerjakan saat ini merupakan bentuk Providensia Sang Pencipta bagi ciptaan-Nya—pengertiaan provindensia adalah pemeliharaan dan pengaturan akan segala sesuatunya dari Sang Pencipta.

Sang Pencipta telah memelihara ciptaan-Nya dengan memberikan sebuah ladang untuk dikerjakan, Sang Pencipta telah mengatur segala sesuatunya dengan memberikan sebuah lahan untuk digarap. Betapa eloknya saat ladang dan lahan yang telah dititipkan oleh Sang Pencipta untuk setiap ciptaan-Nya itu apabila dikerjakan dengan sungguh-sungguh selama hidup di dunia. Karena tidak ada pekerjaan yang tampak tidak elok (kecuali maling, dan sejenisnya), ketidak-elokan hanya akan tampak saat ciptaan-Nya mengerjakan sebuah ladang dan menggarap sebuah lahan (baca: menjalani pekerjaan) tidak pernah memberikan pemberian dan pekerjaan yang terbaik.

Perenungan yang ada tentu lebih panjang dari yang bisa saya tuliskan dalam renungan singkat ini, namun dari intipati yang bisa dituliskan tersebut, dan saat melihat bukan hanya pada pekerjaan yang dimiliki saat ini, melainkan melihat lebih jauh pada waktu kami selepas SMA yang bagaikan burung dilepas dari sangkarnya dan tak tahu harus mengepakan sayap ke arah mana, maka makin terlihat jelas bahwa Providensia Sang Pencipta senantiasa menyertai ciptaan-Nya.

Ritual tahunan untuk tahun ini telah berlangsung, dan ritual tahunan berikutnya telah menanti, biarlah dalam penantian-penantian yang ada kita senantiasa berkarya bersama Sang Pencipta, karena tak ada pekerjaan yang tak istimewa, dan tak ada pekerjaan yang biasa-biasa saja. Rengkuhlah Providensia Sang Pencipta, berjuanglah sekuat tenaga melalui pekerjaan yang istimewa dan luar biasa. Selamat merayakan lebaran dengan sukacita, dan selamat berkumpul bersama dengan keluarga. 😉

Kota Surabaya, 5 Juli 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: