Tontonan Liburan Lebaran Yang Mencerahkan

Dalam catatan yang pernah saya tulis lima bulan lalu: https://goo.gl/MQ9IQ5, sempat tercatat tentang harapan dan bayangan saya terhadap tayangan pada layar televisi dan layar bioskop di Indonesia.

Untuk tayangan pada layar televisi, saya memiliki harapan bahwa layar televisi di Indonesia akan dipenuhi oleh tayangan yang memiliki nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia yang begitu luas dan mendalam, hingga dapat mempengaruhi cara berpikir pemirsa yang menjadi jijik terhadap tindakan yang tak bermoral (korupsi, dll.), dan yang bertentangan dengan budaya ketimuran (tindakan asusila, dll.).

Sementara untuk tayangan pada layar bioskop, saya memiliki bayangan akan ditampilkan tayangan-tayangan yang menceritakan tentang konsep-konsep: ketuhanan, manusia, hubungan sesama, hidup bernegara, keluarga, menuntut ilmu dan lain sebagainya.

Setelah catatan tersebut saya tulis, saya bersama Elfrita Santy memiliki dua kali kesempatan menonton bioskop pada hari libur. Pada dua kali kesempatan tersebut, tayangan yang kami saksikan cukup mengecewakan, karena tak ada nilai tambah yang bisa kami dapatkan–terlepas dari kekecewaan yang ada, kami sedikit terhibur dengan akting dari sang aktor yang serba bisa (kocak) yaitu Reza Rahadian Matulessy.

HA2Dalam liburan kali ini, saya memiliki kesempatan untuk ketiga kalinya menonton bioskop bersama wanita cantik yang sering saya tinggalkan seorang diri karena berbagai kesibukan dengan alasan yang tak dicari-cari. πŸ˜€ Hasilnya sesuai dengan ekspektasi kami, seperti inilah konsep film yang kami inginkan, sebuah film yang tokoh utamanya diperankan (kembali) oleh aktor yang serba bisa dan luar biasa yaitu Reza Rahadian Matulessy, sebuah film yang menceritakan seorang teknokrat dan Presiden Republik Indonesia Ke-3 yang berjudul Rudy Habibie (Habibie & Ainun 2).

Komposisi konsep yang ideal tersaji dalam film tersebut, apabila boleh saya analisis sesuai dengan bayangan yang saya miliki tentang konsep tayangan pada layar bioskop di Indonesia, maka analisisnya sebagai berikut: 1) Konsep Ketuhanan dapat dijumpai pada bagian adegan Rudy Habibie saat baru tiba di Jerman yang menggunakan gereja sebagai tempat berdoa, dan pada bagian adegan Rudy Habibie berdialog dengan Romo Y.B. Mangunwijaya saat berada di dalam gereja. Dalam bagian ini, naskah cerita yang singkat tapi bermakna telah ditulis dengan sangat baik untuk memprovokasi penonton supaya merawat keberagaman dan kemajemukan yang ada (kemanusiaan, kebudayaan, dan kompleksitas keagamaan).

2) Manusia dan Hubungan Sesama dapat dijumpai dalam banyak bagian adegan Rudy Habibie. Mulai dari masa kecil Rudy yang dihabiskan bersama teman-temannya di Parepare – Sulawesi Selatan, interaksinya dengan sesama pelajar asal Indonesia di Jerman, hingga pada bagian bersama cinta pertamanya yang seorang gadis Polandia. Dalam bagian-bagian ini banyak hal akan dapat dipelajari, mulai dari integritas hingga cinta tanpa batas.

3) Hidup bernegara tidak perlu ditanyakan lagi keberadaan konsepnya dalam film tersebut, sejarah perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara pun dapat (sedikit) diketahui juga melalui naskah cerita yang ada, dan hal yang penting adalah banyak adegan yang terkait dengan kehidupan berbangsa dan bernegara yang dapat membangkitkan rasa patriotisme–baik untuk segmen penonton dari kalangan remaja, pemuda, maupun dewasa.

4) Keluarga merupakan konsep yang menjadi titik berangkat dan pendorong yang sangat besar bagi Rudy Habibie (dan bagi siapa pun) dalam meraih cita-citanya. Dalam film tersebut diceritakan tentang nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh Papinya kepada Rudy Habibie semasa kecil (sebelum akhirnya Rudy Habibie kecil ditinggal pergi oleh Papinya untuk selamanya, dan adegan tersebut termasuk salah satu bagian yang menyentuh dari banyak adegan yang lain), yang dapat memberikan pengaruh yang sangat kuat bagi Rudy Habibie untuk meraih cita-citanya: “Rudy, jadilah mata air ini, karena air ini selalu akan mengalirkan manfaat bagi sekitarnya.”

5) Menuntut ilmu merupakan konsep yang pasti ada keberadaannya dalam film tersebut, karena kisah dari sang tokoh jenius ini telah terdengar sejak saya masih duduk di bangku sekolah dasar, bahkan sebelum saya dilahirkan, dan dalam film ini pun diceritakan tentang perjalanan Rudy Habibie menimba ilmu di Jerman, sembari memperjuangkan idealisme yang dimilikinya.

Cl26E79UgAAjWR6

Dari analisis yang ada tersebut, kami merasakan kelegaan karena mengetahui masih ada tayangan pada layar bioskop di Indonesia (dan produksi dalam negeri pula) yang memiliki pesan yang tajam dan agak abadi, pesan yang tak usang termakan oleh waktu, dan dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi masa depan bangsa. Berharap ke depannya makin banyak tayangan-tayangan pada layar bioskop di Indonesia yang memiliki konsep seperti demikian.

Catatan lain dari film tersebut, kami berdua mendapatkan inspirasi dalam mempersiapkan jawaban untuk menjawab pertanyaan yang mungkin kelak akan diajukan (sama dengan jawaban yang diberikan oleh Papi Rudy Habibie kepada Rudy Habibie semasa kecil dalam menjawab pertanyaan tentang status dirinya dalam pernikahan beda budaya): “Papa yang Ambon, Bugis dan Jawa ini, menikahi Mama yang Batak, dan lahirlah kamu yang Indonesia.” πŸ˜€ πŸ˜‰

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: