Mereka Melebihi Apa yang Dapat Kita Pikirkan

Alih-alih ingin memberikan pandangan secara komprehensif terhadap pengesahan Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas (khususnya pada pasal 15, pasal 83, dan pasal 84 yang berkaitan dengan keolahragaan), namun apa daya otak dan mata yang kurang tidur selama empat hari terakhir ini tak bisa diajak kompromi, dan trailer yang dikirimkan via email oleh Dr. Dwi Cahyo Kartiko, M.Kes. lebih menggoda untuk dikomentari–kesimpulannya: edisi membela diri (ngeles) ini, Pak. šŸ˜€

Lalu di mana letak difabel-nya (different ability)? Respons itulah yang saya miliki saat pertama kali menyaksikan trailer pada link berikut:https://goo.gl/8yOiyQ. Selama ini saat berbicara tentang difabel, selalu berangkat dari sudut pandang tentang masalah seseorang yang mengalami keterbatasan diri, sudut pandang yang berbicara tentang cara hidup mereka yang menyesakan dada karena hidup dalam keterbatasan yang ada, atau sudut pandang yang mengasihani diri mereka dengan berbagai aneka warna yang pada akhirnya bermuara pada anggapan mereka tidak bisa. Namun, melalui trailer tersebut kita dapat melihat bahwa mereka sedang menaklukan anggapan dunia, mengubah anggapan yang tidak bisa, menjadi kenyataan yang luar biasa.

Sang Kuasa telah memberkati mereka untuk dapat menunjukan kepada kita bahwa yang ada bukanlah tidak bisa, melainkan hanya tidak ingin berusaha. Melalui nyanyian, keterampilan, kecerdasan, gerak badan, dan keberanian yang tersajikan, mereka sedang berkata dengan lantang bahwa setiap orang dalam kehidupan ini harus mendapat kesempatan yang sama. Dengan konteks yang disampaikan dalam trailer tersebut, mereka mendapat kesempatan yang sama untuk merasakan kompetisi olahraga empat tahunan yang begitu megah, suasana pagelaran akbar dunia, berada dalam arena yang mendapat sorotan jutaan mata manusia, dan yang lebih menggembirakan mereka dapat berdiri di atas podium peraih juara. Kesempatan yang mereka rasakan dalam Paralympic tak ada beda dengan yang dirasakan dalam Olympic, karena baik Paralympic maupun Olympic sama-sama dijumpai adanya semangat yang menggelora.

Lebih jauh lagi, dalam trailer tersebut saya menemukan cinta Sang Kuasa yang menyapa setiap kita. Gebukan drum hanya dengan menggunakan kaki, sedang menyapa para pemain drum untuk tidak pernah berhenti belajar menggebuk drum dengan tangannya. Memainkan alat-alat musik hanya dengan menggunakan tangan dan lengan yang tak utuh, sedang menyapa para pemain musik yang utuh tangan dan lengannya untuk terus memberikan performa terbaiknya. Menari (dengan cara barat: dansa) dengan menggunakan kaki palsu, sedang menyapa mereka yang akan dan telah menyerah dalam menarikan tarian kehidupan. Memainkan piano hanya dengan menggunakan lengan yang putus, sedang menyapa mereka yang akan dan telah menyerah dalam memainkan melodi-melodi kehidupan yang indah. Keberanian berseluncur dari ketinggian dengan menggunakan kursi roda, sedang menyapa mereka yang ketakutan melanjutkan perjalanan kehidupannya. Sukacita dan keberanian mereka (dalam trailer tersebut) menghadirkan rangkulan Sang Kuasa bagi mereka yang sedang menderita dan ketakutan dalam menjalani kerasnya kehidupan ini.

Mereka tidak dapat melakukan yang biasa-biasa saja, mereka hanya dapat melakukan yang luar biasa. Mereka telah mengalahkan ketakutan, hingga kita pun seharusnya tidak pernah takut. Mereka telah melampaui keterbatasan, hingga kita pun seharusnya melampaui batas yang membelenggu dalam kehidupan. Mereka dapat melakukan melebihi yang dapat kita pikirkan, mereka bisa melakukannya, kita pun harus bisa melakukannya. Saatnya membuang anggapan kita tidak bisa, dan mulai berusaha untuk mengubahnya menjadi kenyataan yang luar biasa, dan hendaknya setiap kita dapatĀ berkata: Yes, I Can!

Kota Surabaya, 26 Juli 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: