Sehari Penuh di Sekolah, Merah Putih Berhenti Berkibar di Angkasa

Terjawab sudah kecurigaan seminggu yang lalu, dunia pendidikan menjadi korban kembali: https://goo.gl/inRQeh. Sejak kemarin hingga hari ini, baik melalui media sosial maupun media massa, cukup banyak sudut pandang yang diberikan terkait dengan rencana digulirkannya regulasi memenjarakan siswa sehari penuh di sekolah secara nasional. Mulai dari sudut pandang praktisi pendidikan, psikolog pendidikan, rohaniawan, anggota dewan, hingga masyarakat awam.

Dari sekian banyak sudut pandang, mungkin sudut pandang yang berbeda perlu diberikan untuk melengkapi sudut pandang lain yang tidak setuju dengan rencana regulasi yang ada. Sudut pandang tersebut bersinggungan dengan prestasi anak bangsa yang membanggakan pada pagelaran akbar dunia, sudut pandang yang dengan mengingat bahwa sang merah putih telah berhasil berkibar dan mendapat sorotan jutaan mata manusia dalam arena olahraga, sudut pandang yang berangkat dari raihan prestasi internasional berupa dua medali perak Olimpiade Rio 2016 oleh Sri Wahyuni Agustiani dan Eko Yuli Irawan.

Raihan prestasi kedua anak bangsa yang membanggakan ini tidak hadir dengan sendirinya, raihan prestasi ini hadir melalui proses yang panjang. Salah satu proses yang harus dilalui oleh mereka saat masih menjadi siswa (berusia pelajar) tentu harus memiliki syarat utama yaitu tidak pernah dipenjarakan sehari penuh di sekolah, karena mereka harus menempa diri dengan berlatih dalam bimbingan sang pelatih. Mustahil mereka dapat ditempa dan menempa diri untuk meraih prestasi, apabila sehari penuh dipenjarakan di sekolah dan dibelenggu kognisinya.

Perlu disadari sepenuhnya bahwa prestasi dunia dapat diraih tentu tak luput dari iklim kompetisi yang begitu ketat dari sesama anak bangsa, sebelum akhirnya anak bangsa yang terbaik muncul ke permukaan untuk mewakili bangsa tercinta melawan bangsa-bangsa lainnya. Pertanyaannya, bagaimana mungkin dapat tercipta kompetisi yang ketat dan muncul anak bangsa yang terbaik, apabila tidak banyak anak bangsa yang berpartisipasi dalam kompetisi di dalam negeri sendiri? Meletakan sudut pandang lebih jauh lagi pada banyak cabang olahraga lain (selain Angkat Besi) yang ada dalam negeri ini, tentu tidak semua atlet yang terbaik yang masih berusia pelajar masuk ke dalam pemusatan pembinaan latihan pelajar (semacam sekolah-sekolah olahraga) yang tersebar di seluruh Indonesia, karena banyak orang tua menginginkan prestasi di meja belajar dan di lapangan berjalan beriringan, terlebih banyak orang tua mengharapkan perkembangan afeksi dan kognisi yang baik dapat dimiliki, dan prestasi pun dapat diraih.

Meraih prestasi di meja belajar dan di lapangan tentu hanya dapat diraih bukan dengan cara memenjarakan siswa sehari penuh di sekolah, karena bagi banyak atlet berprestasi yang berada di luar pemusatan pembinaan latihan pelajar yang tersebar di seluruh Indonesia, mereka harus berlatih di bawah bimbingan pelatih-pelatih olahraga yang ada dalam klub-klub olahraga prestasi yang waktu latihannya di luar jam pelajaran sekolah. Pertanyaan berikutnya, pada pukul berapakah mereka harus mulai berlatih, apabila jam pelajaran sekolah baru berakhir pada pukul 17.00? Sementara untuk berlatih dibutuhkan persiapan yang cukup, baik persiapan fisik (makan, istirahat, dll.) maupun waktu untuk berkemas dan menuju ke tempat berlatih.

Dalam regulasi yang akan digulirkan, alasan dari memenjarakan siswa sehari penuh di sekolah bertujuan untuk memberikan pendidikan karakter bagi siswa, sementara bagi atlet-atlet berusia pelajar tidak perlu diragukan lagi pendidikan karakternya, karena nilai-nilai olahraga akan didapatkan saat berlatih olahraga secara rutin, cukup banyak karakter dan kecakapan hidup yang dapat dibangun melalui olahraga (United Nation, 2003). Jadi, sangat berdasar sekali alasan untuk menolak regulasi memenjarakan siswa sehari penuh di sekolah, karena pendidikan karakter tidak hanya didapatkan dari pembelajaran formal (sekolah), melainkan juga dari pembelajaran informal (klub-klub olahraga, dll.)–catatan lain: cukup banyak Guru Pendidikan Jasmani yang berperan ganda sebagai Pelatih Olahraga, dengan adanya regulasi yang baru tentu akan menumpulkan bahkan membunuh peran mereka.

Kesimpulan dari sudut pandang yang berbeda ini: Dengan adanya pembelajaran yang waktunya tidak hanya dihabiskan pada lingkungan formal, tentu bukan hanya prestasi yang membanggakan yang akan diraih, melainkan juga afeksi dan kognisi yang baik akan dimiliki sebagai sumber daya manusia yang turut membangun bangsa (selepas menjadi atlet tetap menjadi manusia yang berguna, dan tetap berkontribusi bagi negeri tercinta). Namun, apabila regulasi memenjarakan siswa sehari penuh di sekolah secara nasional tetap digulirkan, sepertinya olimpiade kali ini akan menjadi kesempatan yang terakhir bagi anak bangsa untuk meraih prestasi, dan sang merah putih pun akan berhenti berkibar di angkasa luar negeri.

Kota Pahlawan, 10 Agustus 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: