Usia Muda yang Memalukan

Setelah adanya fitur pemberitahuan yang mengingatkan setiap kenangan yang pernah diposting dalam akun facebook, saya jadi sering tertawa geli dan terkadang jadi malu pada diri sendiri saat membaca status facebook saya pada waktu yang lampau, khususnya untuk status-status yang memiliki muatan keagamaan. Meski sejak semula saya bermain facebook pada tahun 2009 (sebelumnya bermain Friendster) berangkat dari motivasi ingin membagikan hal yang positif dan menginspirasi orang lain, akan tetapi tanpa disadari yang tampak dari sebagian status yang ada, justru saya sedang membagikan pandangan yang fundamentalis (kolot dan reaksioner), menyomot ayat-ayat kitab suci untuk mendukung gagasan yang sedang dikemukakan, dan lebih parahnya merasa yang paling agamis—seperti yang punya Tuh*n sendiri saja, yang lain nggak ada yang benar. Status-status seperti demikian, beberapa kali masih bermunculan hingga tahun 2012.

Dari semua status yang telah dibangkitkan kembali dalam ingatan oleh facebook tersebut, tak ada satu pun status yang coba saya hapus, karena dari situ saya dapat mengetahui—proses belajar—riwayat kesehatan otak saya yang masih terisi dengan wawasan dan pengetahuan dari satu sudut pandang saja. Namun, selepas tahun 2012 saya memperhatikan status-status yang terposting lebih melunak, serta memudarnya pandangan yang fundamentalis, kebiasaan menyomot ayat-ayat kitab suci, dan merasa yang paling agamis. Setidaknya demikian yang saya rasakan melalui kenangan yang telah muncul, dan bila saya melempar ingatan lebih dalam lagi pada waktu yang lampau, seingat saya melunak dan memudarnya pemahaman tersebut banyak dipengaruhi oleh berbagai bacaan yang beragam dari berbagai aliran yang seagama, maupun yang berbeda agama.

Dari berbagai bacaan yang beragam itulah, tanpa saya sadari pula karya dari penulis-penulis yang luas cakrawala berpikirnya dan kaya pengalamannya (baik sebagai akademisi, maupun sebagai praktisi), mempengaruhi saya untuk melihat segala sesuatu dengan lebih terbuka dari berbagai sudut pandang. Yang mempelajari agama bukan hanya dari kitab suci saja, melainkan turut menggunakan pendekatan dari berbagai disiplin ilmu yang ada. Bahkan, secara ekstrem saya turut diantarkan pada pemahaman untuk berani mengatakan bahwa tidak semua pemahaman dalam kitab suci itu ada, sehingga saat kita akan memutuskan sesuatu pada zaman modern ini dapat berdasarkan pemahaman-pemahaman modern dengan mengambil gagasan dari sisi kemanusian manusianya, karena tidak semua peristiwa-peristiwa yang terjadi pada zaman modern ini telah terjadi dan tertulis pada zaman kitab suci, sehingga kita tidak bisa memaksakan diri untuk mencari dalilnya.

Dalam usia yang muda dan seiring bertambahnya usia, tentu saya sangat bersyukur atas kehadiran penulis-penulis yang dengan coretan bijaknya telah membuat hidup menjadi lebih berarti. Akhir kata, belajar adalah proses yang tak boleh berhenti, mari bersama kita terus belajar untuk berjumpa dengan kebenaran. Berjumpa dengan kebenaran tidak selalu dengan cara menambahkan wawasan dan pengetahuan ke dalam hati dan pikiran, melainkan juga mengeluarkan wawasan dan pengetahuan dari dalam hati dan pikiran yang dapat menjadikan kita buta hingga mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman bangsa—mengabaikannya merupakan tindakan yang memalukan.

Surabaya, 19 Desember 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: